GAMER JUGA MANUSIA
Gara-gara mencari download gratisan lagu-lagu Jepang, saya jadi terdampar di sebuah website. Website itu bukan website dari artis Jepang, band Jepang atau website fansclub dari artis Jepang. Website yang saya masuki ternyata website sekumpulan mahluk yang doyan sama yang namanya Video Games!!!Waduh kesasar jauh banget neeh!!! Pertama kali masuk ke sana, saya tengok siapa saja member-nya, dan hampir semua member menggunakan nickname.
Nickname yang digunakanpun unik-unik dan memang kebanyakan diambil dari tokoh anime dan karakter dalam permainan video games. Tadinya saya sama sekali tidak tertarik untuk ikut bergabung dalam website itu. Apalagi sepertinya member perempuannya bisa dihitung jari satu tangan saja alias 3-5 orang. Namun setelah saya perhatikan lebih jauh, saya melihat banyak hal yang menarik yang bisa menambah pengetahuan saya. Hampir semua yang berinteraksi di dalam website itu sepertinya pada ‘melek’ komputer semua, alias pada jago, sedangkan saya merasa ilmu komputer saya cuma sebatas ketak ketik dan copy paste saja. Lumayan juga kan dapat teman-teman yang bisa dijadikan guru komputer gratisan.
Banyak teman saya di komunitas itu yang memang sudah cinta mati sama yang namanya video games alias sudah pada tingkat hardcore gamer. Saking cintanya, mereka sudah tak sayang lagi jika harus mengeluarkan uang banyak untuk membeli konsol game keluaran terbaru atau hanya sekedar untuk melengkapi sound system agar sensasi bermain game lebih terasa.
Suasana yang berbedapun saya temui saat komunitas ini mengadakan gathering. Kalau biasanya gathering di komunitas lain yang pernah saya ikuti diisi dengan acara ngobrol bareng, di sini pemandangannya beda. Dimana-mana tampak wajah-wajah serius di depan laptop. Biasanya sih kalau nggak lagi serius main gameonline, antar anggota saling meng-copy game yang dimiliki. Makanya, untuk mendapatkan tempat internett gratisan, food court mall- yang ada fasilitas hotspot tentunya- adalah tempat favorit kami untuk mengadakan gathering. Pokoknya kalau gathering anak-anak game jangan berharap ada acara curhat-curhatan deh, apalagi kalau yang datang semuanya cowok, dijamin kalau yang tidak terbiasa bisa jadi bete deh. Enaknya sih, mungkin karena jarang-jarang ada member cewek, para cowok itu tak segan-segan membantu saya jika ada kesulitan dalam hal yang berbau teknologi, nggak cuma yang menyangkut game saja. Install anti virus, install software program komputer sampai tempat service barang-barang elektronik bisa dibantu deh.
Pernah ada sebuah kejadian lucu saat acara gathering. Ceritanya, pada saat kami akan pindah tempat dari foodcourt ke game center di sebuah Mall, kami ‘kehilangan jejak’ satu orang member. Kami mencari dia kemana-mana. Sialnya, diantara kami tidak ada yang tahu nama aslinya member itu. Memang, ada kebiasaan di dalam komunitas kami, dimana kami dikenal dan dipanggil dengan nama nickname kami di website. Tak jarangya, diantara kami tidak saling mengetahui nama asli kami. Akhirnya setelah mencari kemana-mana tidak ketemu, kami memutuskan untuk menghubungi petugas bagian informasi Mall untuk bisa memberitahukan kepada teman kami yang tertinggal itu kalau kami menunggu dia di depan ruang informasi. Lucunya, saat petugas informasi menanyakan nama teman kami yang hilang itu, kami serempak saling berbisik sambil menahan tawa.
“Elo aja yang bilang sama Mbaknya” kata salah seorang temanku pada temanku yang lain. Berhubung kami tidak ada yang tahu real name dari teman kami itu, maka kami memutuskan untuk memanggil teman kami itu dengan nickname-nya saja. Masalahnya adalah nickname-nya itu loh……………. Bajingantengik!!! Kebayang’kan gimana hebohnya para pengunjung Mall kalau pengumuman itu dikumandangkan ”Kepada Saudara Bajingantengik ditunggu teman-temannya di depan ruang informasi!!! Belum tentu si Mbak yang ada di bagian informasi itu mau menyebutkan nama “Bajingantengik”. Untungnya, semua nggak sampai kejadian, karena kemudian salah seorang diantara kami ada yang melihat si Bajingan Tengik sedang asyik melihat-lihat CD di sebuah CD Store tak jauh dari tempat kami berkumpul.
Satu hal lagi, meski pada awalnya saya menganggap para gamer itu orang yang kaku, jarang ngobrol, namun setelah mengenal mereka cukup lama, barulah ketahuan kalau diantara mereka ada juga yang doyan ngobrol – meski lewat chatting- curhat masalah sama ceweknya. Nah, berhubung member ceweknya masih sedikit, tak jarang saya sering dijadikan partner bertukar pikiran oleh mereka. Mulai dari pertanyaan seputar trik-trik untuk menarik perhatian cewek sampai cara mutusin cewek yang baik dan benar ( emangnya ada? Heheh…. yang ini sih kebanyakan terjadi gara-gara ceweknya sudah gak tahan sama hobby cowoknya itu). Anyway.. gamer juga manusia kok!
Dari mengikuti komunitas ini, sedikit banyak mata saya terbuka bahwa tidak semua anggapan masyarakat kalau videogame itu tidak baik untuk anak-anak, tidaklah sepenuhnya benar. Saya menemukan banyaknya game-game yang bersifat edukatif dan merangsang daya pikir anak-anak seperti pada game The Sims atau pada game Brain Age yang dimainkan pada konsol Nintendo DS
Belum lagi nilai edukatif dari segi pengetahuan berbahasa yang diperoleh. Karena sebagian besar game masih menggunakan Bahasa Inggris atau Jepang, sedikit banyak, pengetahuan kita akan bahasa-bahasa tadi bertambah.
Namun tetap saja sebagai salah satu bagian dari majunya perkembangan teknologi, videogame bisa seperti pisau bermata dua. Jika tidak awasi secara ketat dapat berdampak negatif, namun dibalik dampak buruknya, masih ada dampak positif yang bisa diperoleh.
See my profile at : http://soranalala.multiply.com

