GEMURUH HATI
Suasana hatiku bergemuruh kini. Seakan sesak dada ini dengan sejuta tanya yang tak bisa terungkapkan. Namun lelah menghantuiku sepanjang hari hingga rasa jenuh pun tak lupa selalu menghiasi hari-hariku. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Yang aku rasa hanya sebuah kesalahpahaman yang tak bisa di mengerti lantaran tak pernah ada kata terucap sepatah katapun dari hati ke hati sebagai penyelesaiannya yang terjadi. Hanyalah kesalahpahaman yang berujung pada sebuah kesalahan yang tak bisa kumengerti.
Aku tak ingin selamanya seperti ini, aku ingin segera mengakhirinya tapi aku tak tahu harus memulainya dari mana lantaran aku tak tahu harus bagaimana dan rasa trauma selalu saja menghantui, seakan-akan kejadian-kejadian yang sudah terjadi nantinya akan terjadi juga padaku.
Jujur dalam keluarga kita tak pernah bicara dari hati ke hati yang ada hanyalah perenungan sendiri-sendiri yang terkadang berujung pada kesalahpahaman hanya karena kita saling terdiam dan terlarut dalam masalah yang kalut.
Aku takut untuk memulainya karena dalam hubungan seperti ini tak pernah kita saling berbagi batin yang ada saling memberi dalam batasan materi dengan mengatasnamakan cinta.
Cinta bagiku bukanlah berupa materi semata melainkan sebentuk hati yang utuh dan tulus dengan penuh kasih sayang yang abadi yang tak kan pernah pudar oleh pihak ketiga yang terlalu sering datang dan pergi dan keabadian itu harusnya tak kan pernah usang di makan oleh sang waktu yang terus berputar. Tapi yang kurasakan kini berbeda. Hanya karena terlalu sering datang dan perginya orang-orang yang bermuka dua, perbedaan dan perselisihan selalu terjadi hingga berujung pada kesalahpahaman yang tak berakhir dan selalu saja akulah yang mengalah.
Tak masalah bagiku untuk hal ini, aku masih bisa mengerti lantaran bertambahnya kesibukan dan bertambahnya masalah-masalah yang tak berarti tapi bagiku itu semua karena kesalahan pribadi hingga masalahpun tak berakhir.
Sebenarnya aku senang berada disini karena semenjak pertama aku datang ke Jakarta, aku merasa aku harus bisa menantang betapa kerasnya kota Jakarta yang kebanyakan orang mengatakan bahwa kota Jakarta adalah kota metropolitan yang dimana segalanya menggunakan uang. Memang benar buktinya kalau kita mau buang air kencing saja kita harus bayar Rp. 1000,-.
Sebenarnya aku tipe orang yang suka tantangan dan melakukan hal baru meskipun lebih nampak kalau aku ini orang nya penutup dan minderan. Dulu aku mendapat dukungan penuh dari keluarga terutama dari Ibu ku. Tapi berhubung Ibu harus pergi ke surga, Ibu meninggalkan ku sendiri tanpa jejak sedikit pun untuk kuikuti. Yang ada justru kesendirian dan keterpurukkanku pada jiwaku yang sesungguhnya rapuh. Kerapuhanku bukan berarti aku ini lemah tapi kerapuhanku karena aku ini kurang mendapatkan dukungan dari lingkungan keluargaku.
Aku sadar, aku harus berjuang untuk menghadapi hidup yang berliku-liku ini. Hidup bagiku bukan kejam seperti yang kebanyakan orang bilang tapi hidup bagiku adalah perjuangan dimana kita dituntut untuk terus bertahan walaupun derita tak pernah lepas sepanjang perjalanan. Bagiku itulah cara satu-satunya untuk menemukan kebahagiaan nan abadi.


July 9th, 2008 at 2:57 am
Ayo, semangatlah kawan!! Jangan lesu begitu.. Aku menanggapinya sebagai cerita non-fiksi, toh dirimu tidak menyertakan karakter lain kan? he he he..
Wahai Mena, sesungguhnya kesalahpahaman bukan merupakan buah dari sebuah kesalahan, tapi DUA! Jika ‘dia’ sebagai pihak yang berkesalahpahaman denganmu tidak melakukan kesalahan, maka tidak akan muncul kesalahpahaman itu sendiri. Kesalahannya adalah: tidak memaklumi dan memaafkan kesalahanmu (itu pun kalau dirimu yang melakukannya).
Kawan, memang benar ada sebuah pepatah yang mengatakan L’histoire se repete, sejarah pasti berulang, namun bukan itu tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadi trauma. Sudahkah dirimu menonton Noah’s Almighty? Film itu mengajarkanku untuk memulai dari ARK–A Random Kindness. (itu kalau aku tidak salah mengingat kepanjangannya ya..) Mulailah dari sebuah hal yang baik, begitu pula caranya keluar dari sebuah permasalahan ‘lingkaran setan’. Sebuah perbuatan acak, menuju kebaikan.
Aku selalu memandang cinta sebagai sesuatu yang dapat diberikan, dan jumlahnya tidak berhingga. Kita tidak perlu mengetahui apakah ‘dia’ menerima cinta atau tidak, yang pasti kita sudah memberikannya. Dan bila ikhlas, tentu tidak ada harapan yang terselip di belakang kartu ucapan, atas nama cinta.
Kawanku Mena, janganlah dirimu mengalah ketika dirimu benar, tapi tunjukkanlah kebenaran. Ibuku selalu berkata demikian: Jika seorang guru memfitnahmu atas sebuah kesalahan yang tidak kau perbuat, maka makilah ia jika ia memakimu. Ibu pasti akan membelamu.
Percayalah, masih banyak teman-temanmu yang percaya kepadamu. Salah duanya: logika dan realita.
Jujur saja, kadang aku memiliki banyak keluarga yang tidak berada dalam satu garis keturunan, dan hanya sedikit ‘mereka’ yang berada di dalam garis keturunan yang masih kuanggap saudara.
Lagipula, dengan sedikitnya saudara seketurunan yang masih kuanggap sebagai saudara, bukankah itu mengurangi kemungkinanku untuk ‘bernepotisme’ ria?
Ah, berbicara tentang kerasnya hidup di Jakarta, dari kata toilet dan Rp1000,00 di atas saya malah berpikir demikian. Jika harga toilet berikut pemasangan, anggaplah satu juta. Maka, 1 juta / 1000 / 2 (anggaplah seseorang ke toilet 2 kali sehari). Kalau ada 50 orang di daerah itu yang menggunakan toilet sehari dua kali, maka dengan 10 hari saya akan kembali modal. Maka keuntungan bersih saya dalam satu bulan menjadi 50×2x30 (hari)x Rp1000 = 3 juta per bulannya. Saya kira cukup untuk menggaji pembersih di sana ya?
Memang, itu hanya perhitungan kasar, belum termasuk biaya air, dsb.
Yang ingin saya sampaikan, jika ada saatnya kita melihat kehidupan sebagai sesuatu yang ‘keras’, maka di lain sisi kita akan melihat sesuatu yang nikmat. Tinggal mengatur dari sisi manakah kita melihat?
Wahai Mena, beritahukanlah kepadaku, kebahagiaan abadi apakah yang engkau cari jika hatimu bergemuruh dalam setiap langkah menuju kebahagiaan itu?
July 14th, 2008 at 11:26 pm
thanks you ya prendz…setiap kali aku baca tulisanmu selalu saja menguggah hatiku. moga kan selalu kau berikan kata-kata manismu itu untukku tapi setidaknya bukan hanya sekedar kata-kata tapi juga bukti nyata dari cinta itu…I Miss You Sobat!!!
July 16th, 2008 at 12:10 pm
Waw..waww..wawwww…!
Gemuruhmu, gemuruhku, gemuruh mereka. Gemuruh kita.
Pada hakekatnya, setiap hati setiap jiwa memiliki Kharisma dan aura sendiri-sendiri. Gemuruh itu pertanda cinta. Berbahagialah jika gemuruh itu tetap ada, itu berarti cinta di dada tetap menggelora.
Lain halnya jika tanpa riak, gelombang pun tiada lagi bermakna. Hanya saja, sikapi dan warnai gemuruh itu dengan pelangi. Pasti menjadi indah tiada tara. Jangan biarkan gerimis menyebarkan virus flu dihidungmu. Tangkupkan sinar mentari ditanganmu, bulirkan bersama rintik hujan menjadi titian berwarna menuju surga angan diangkasa. Pelangi.
Caranya? Kemarilah saudaraku, kutunjukkan padamu hakekat cinta sesungguhnya.
Buat Sun. Hmmm, anda telah membangunkan Leopard tidur. Salwangga sedang menjadi Leopard, dan terusik oleh tulisan Sun. maka dengarkan aumanku ini, duhai saudaraku.
Pencet tombol hijau, jika terkesan. Dimulai dari… sekarang!
~&~
Saat Sal pulang kantor beberapa waktu lalu, naik kereta ekonomoi patas purwakarta. Penuh sesak, KRL ekonomi bekasi belum ada. Sal pun berdiri, pegal sih memang. Tapi, ternyata lebih pegal yang duduk.
“Tahukah engkau, wahai saudaraku” Sal membuka perbincangan dengan seorang teman.
“Kenikmatan itu hanya berarti jika dibagi, rasa bahagia pun begitu. Anehnya, semakin dibagi bukan habis. Melainkan semakin bertambah, tertanam dihati. Kedua kakiku cukup kokoh untuk berdiri, aku pun happy-happy aja, aku enjoy membaca. Kuberitahukan, aku ingin berbagi denganmu bagaimana nikmat berdiri dengan dua kaki. Akuilah, pantatmu mulai panas, pinggangmu pegal. Berdirilah barang sejenak, agar kau rasakan juga kenikmatan ini.”
“Ah, ngomong aja kalau capek. Pengin gentian” sergah temanku.
“Intinya, aku memang pengin duduk. Tapi, bukan meminta. Aku mencoba membagi bahagiaku. Kalau kamu belum ngeh juga, berarti otak kamu kiri semua. Egoismu terlalu angkuh mengakui bahwa kamu sebenarnya jengah duduk. Pengin berdiri, sekedar meluruskan kaki. gengsi. Hayo, ngaku!”
~&~
Ada sesuatu yang bisa dijadikan makna dari cerita singkat Sal tadi?
hidup, hanya butuh keberagaman. variasi. titik jenuh adalah setan utama penggerogot kenyamanan hati.
meski “duduk” dipandang sekilas orang lain adalah nyaman, ternyata lebih nyaman berdiri. asal, mampu menikmati kondisi berdiri itu sendiri.
Btw, tulisan Mena dan Sun memang enak untuk dibaca. Mengundang perenungan.
July 16th, 2008 at 3:28 pm
Merangkul Mena seraya berkata, “Sini Mena, kuberikan wujud nyata cintaku. Mari kita kabur dari Leopard yang baru bangun tidur! Bisa habis kita dimakannya!”
Rupanya sang Leopard ikutan Mamamia show juga ya?
Thanks untuk ceritanya ya Sal..
August 6th, 2008 at 9:12 pm
Maunya cerita yang dramatis, tapi nggak ada perkembangan konflik dari paragraf demi paragraf. Perjuangannya seperti apa untuk menghilangkan penderitaan nggak jelas.
Helllo sobat muda sekalian, yuk…. cobalah kita ingat sekali lagi, menulis kita adalah untuk dibaca orang lain. Mereka sama sekali nggak tau apa yang mau anda sampaikan dalam tulisan. Jadi pastikan pembaca tidak bertanya, kenapa, di mana, seperti apa, oleh siapa, bagaimana, dll.
Kalau naskah anda pribadi anda baca, dan nemuin pertanyaan, berarti anda perlu revisi agar jelas semuanya. Kalau mau drama harus bikin orang nangis2, kalau komedi bikin orang ketawa, kalau opini bikin orang sepakat sama anda, kalau argumentasi bikin orang membenarkan anda.
Simpel kok. Jangan terlalu teoritis dalam menulis. Keluarin aja semuanya. Tulis apa yang anda mau tulis. Jangan nanggung. Nggak enak banget.