Harum Bunga?
Undangan itu berwarna krem. Berbentuk persegi panjang berukuran 21 cm x 11 cm. Wangi harum tercium ketika saya membuka plastik yang membungkusnya. Sekeliling tepinya dihiasi dengan rangkaian bunga yang dicetak timbul. Di sebelah atas bagian depannya terdapat tulisan “The Wedding”. Masih di bagian depan, disebelah kiri terdapat ‘jendela’. Didalamnya tertulis nama mempelai dengan latar berwarna merah marun. “Apaan tuh?” tanya salah seorang teman saya. Saat itu kebetulan tiga orang teman saya sedang bertamu.
“Undangan,” jawab saya. “Tetangga yang tinggal di blok belakang married.”
“Kenapa sih loe senyum-senyum sendiri?” tanya teman saya yang lain.
“Ini loh, di bagian belakang sampul undangannya terdapat untaian kata-kata indah..” dan sayapun mulai membacakannya,
Once in a lifetime
I find someone who touches not only my heart but also my soul
Once in a lifetime
I discover someone who stands beside me not over me
Once in a lifetime
I feel the real happiness, I discover a true and perfect love
I find my life complete as I finally found you
Komentar ramai serempak terdengar.
“Plis deh… hare gene?”
“Ahhh.. itu kan sebelum menikah. Kalau sudah bertahun-tahun menikah, duuhhh… gak janji deehhh…”
“Biasalah.. Kalau masih ‘baru’ memang seperti itu… Masih harum bunga.”
Saya cuma cengar-cengir mendengarnya. Kenapa komentarnya jadi ramai ya? Memangnya ‘keharuman’ pernikahan ditentukan oleh usia pernikahan itu? Menurut saya sih, hal itu ditentukan oleh individu yang ada didalamnya. Apakah mereka akan membuatnya seharum bunga mawar atau bunga bangkai. Bukan begitu bukan?


August 11th, 2008 at 12:33 pm
yang jelas, pernikahan itu tidak harus berbau. belum tentu wangi tercium, wangi pula dirasa. begitupun sebaliknya. rumah tangga juga tidak harus berasa, tapi ber-asa. dua asa yang dipadukan menjadi satu, bukan untuk saling memenangkan atau mengalahkan asa satu dengan lainnya. tapi, untuk saling berdampingan.
lebih baik mengucurkan air optimis, daripada terhanyut dalam arus pesimis.
setiap tatapan mata mengandung asa
setiap untaian kata mengandung makna
dan,
setiap hati memiliki titiannya sendiri
setiap membaca postingan lita, sal kembali tersenyum. biasanya tersenyum geli, kali ini tersenyum “in-memori”
August 11th, 2008 at 2:34 pm
nice posting,,,,jadi ngebuat gw berpikir,,,
rumah gw masih bau bunga lom ya ???
August 11th, 2008 at 4:53 pm
Sang bijak bestari pernah berkata: “berteman dengan tukang las, kamu akan kena bau prengusnya. Berteman dengan tukang minyak wangi, kami akan kena harumnya.”
he.. he..he.., jaka sembung naik oje, gak nyambung jek.
Nice sotry dan nice writing, Lita.
Keep it on.
August 11th, 2008 at 6:09 pm
Thanks ya atas komentarnya.

@ Sal : aihhh… serasa baca kata-kata pujangga.
@ Aris : nanti weekend jangan lupa beli bunga
@ Lia : Kalau berteman dengan yang ‘tak berbau’ jadi apa dong?
August 13th, 2008 at 3:15 am
selamat pagi!!!
maaf aku belum baca tulisan saudari!!! saya baca ya!!!
bagus kayaqnya tuh!!!!
tapi ya pasti ada kekurangan dan itu lumrah..
@@@
August 13th, 2008 at 3:18 am
Once in a lifetime
I find someone who touches not only my heart but also my soul
Once in a lifetime
I discover someone who stands beside me not over me
Once in a lifetime
I feel the real happiness, I discover a true and perfect love
I find my life complete as I finally found you
ehm……..
kudu buka kamus dulu nih…..!!!
August 13th, 2008 at 6:13 pm
Dear Lita,
tulisan berbahasa Inggris, meskipun yakin pembacanya udah bisa paham, sebaiknya disertakan arti setelah kutipan.
Yach, mungkin perlu pembuktian kali ya… apakah setelah berumah tangga berpuluh tahun bisa terus harum bunga?
Kinoysan
August 15th, 2008 at 9:50 pm
Dear Lita,
Tulisan Lita betul-betul menyentuh nurani saya. Memang “keharuman” pernikahan tidak ditentukan oleh usia pernikahan, apalagi harta kekayaan. Pernikahan bukan untuk mengalahkan atau memenangkan satu dengan yang lain namun untuk saling berdampingan. Pernikhan kadang-kadang berbau harum, kadang-kadang tidak berbau dan kadang-kadang berbau tak sedap. Hebat tulisannya, sedikit tapi penuh makna.
Salam,
August 17th, 2008 at 3:13 pm
Dear Zammi, Kinoysan & Bambang,
thanks atas komentar dan masukannya.