IBU ADA MONSTER, NAMANYA UASBN
Latah ataukah sekedar ingin tampil keren dengan dalih peningkatan mutu pendidikan?. Tokh, nyatanya UASBN SD membuat banyak pihak tampak resah menghadapinya. Sebenarnya UASBN SD bukan episode baru dalam panggung pendidikan Indonesia. Episode ini mengingatkan kita pada EBTANAS beberapa periode yang lalu. Menyambut UASBN SD, beberapa SD menyelenggarakan uji coba untuk mengukur kesiapan siswa. Evaluasi pada hasil uji coba dilakukan secara berkesinambungan. Hasil yang diuji cobakan di beberapa sekolah menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan setelah dua kali uji coba. Guru mengoreksi secara manual walau memakai lembar jawab komputer pada saat itu.
Satu hal yang membuat risau hati saya adalah jika saatnya tiba. Koreksi sudah tidak dilakukan secara manual melainkan melalui sistem komputerisasi. Aturan main sistem ini siswa diwajibkan membuat arsiran hitam dengan pensil pada bulatan pilihan jawaban. Kesempurnaan dituntut dalam mengisi. Arsiran kurang hitam ataupun ada satu goresan pensil keluar dari lingkaran, tidak akan terbaca oleh komputer. Dengan kata lain jawaban tersebut dianggap salah.
Saya berdoa semoga hal ini tidak terjadi mengingat karakteristik dasar siswa SD. Siswa SD masih terlalu dini menggunakan sistem ini. Sifat kekurang hati-hatian dan kecenderungan tidak rapi adalah hal yang terdapat pada siswa SD pada umumnya. Maklum anak kecil. Karakter tersebut akan membuat peluang jawaban siswa tidak terbaca komputer semakin besar. Saya sangat menyayangkan jika hal itu dapat terjadi. Lantaran tidak sempurna mengarsir bulatan lantas membuat jawaban yang seharusnya benar menjadi salah akibat tidak terbaca. Siswa sudah memeras otak untuk mencari jawaban, itu saja masih diburu oleh waktu yang kian mendesak masih ditambah beban dengan membuat arsiran yang sempurna. Sungguh merupakan beban yang tiada terkira bagi mereka.

