Interogasi geleng-geleng
Berita kehilangan sepeda motor sudah menjadi berita biasa. Bisa terjadi dimana saja. Di perumahan yang dijaga satpam sekalipun. Apalagi kalau perumahan itu memiliki banyak akses untuk masuk dan keluar. Kali ini giliran tetangga teman saya yang mengalami kejadian naas itu. Sepeda motor yang di parkir di dalam halaman rumah raib. Padahal ketika pemilik rumah tiba di rumahnya pada pukul empat subuh, sepeda motornya masih ada. Sekitar pukul setengah enam pagi saat istrinya membuka pintu ternyata motornya sudah lenyap. Pencurinya bahkan meninggalkan cendera mata berupa sepasang sandal jepit miliknya yang sudah aus. Sebagai gantinya sandal sang tuan rumah ikut menghilang.
Teman saya bercerita, seorang laki-laki mengaku dari kepolisian datang ke rumahnya siang itu saat ia sedang menikmati tidur siang. Rupanya polisi berpakaian preman itu hendak menanyakan beberapa hal sehubungan dengan peristiwa pencurian yang menimpa tetangga teman saya itu.
Dengan nyawa yang belum ‘ngumpul’, kepala sedikit pening karena tidur siang yang terganggu, teman saya menjalani proses tanya jawab di teras.
“Apakah ada informasi yang bisa Mbak sampaikan sehubungan dengan peristiwa pencurian itu?”
Teman saya menggelengkan kepalanya. “Tidak ada,” jawabnya.
“Apakah selama beberapa hari sebelum kejadian, Mbak melihat seseorang dengan gerak-gerik mencurigakan? Seseorang yang mondar-mandir di depan rumah tetangga Mbak?”
Sambil menggelengkan kepala, teman saya menjawab, “Tidak.”
“Apakah Mbak mendengar suara-suara mencurigakan antara pukul empat sampai pukul setengah enam tadi pagi?”
Teman saya kembali menggelengkan kepalanya. “Tidak,” jawabnya pendek.
“Apakah Mbak melihat sesuatu yang mencurigakan ketika Mbak pertama kalinya keluar rumah tadi pagi? Sesuatu yang tidak biasanya?”
Selama beberapa saat teman saya menatap tamunya. Kemudian ia berkata,
“Pak, seminggu kemarin saya tugas ke luar kota. Baru tiba di rumah tadi jam 10 pagi. Jadi bagaimana saya bisa mendengar atau melihat sesuatu yang mencurigakan?”


July 25th, 2008 at 2:37 pm
ha..ha..ha.. lagi-lagi urat ketawa saya kembali nyembul kepermukaan setiap membaca postingan lita. salut.
bahasanya makin enak dicerna. luancaaarrr buanget. tak ada salah ketik sedikitpun. penceritaannya bagus, terbukti “jurus di kredit” menjadi bumbu utama. sehingga saat saya membaca mesti memakai imaginasi sendiri.
interogasi geleng-geleng. kirain apaan. ekstasi kek, pil gedeg kek. eh, tak tahunya….
gimana tangerang? aman?
July 25th, 2008 at 4:52 pm
Thanks atas komentarnya. Tangerang aman terkendali soalnya Sal kan lagi sibuk
‘Jurus di kredit’ itu maksudnya apa ya?
July 27th, 2008 at 4:38 pm
Lita… Kenapa di awal cerita diceritakan bahwa pemilik rumah baru tiba pukul empat subuh, sedangkan di akhir cerita menjadi jam 10 pagi?
July 28th, 2008 at 7:49 am
Bahasanya ngebingungin ya? Sori deh, hehehe… Yang tiba di rumah pukul empat subuh itu si pemilik rumah (tetangga teman saya) yang kehilangan sepeda motornya. Yang tiba di rumah jam 10 pagi itu teman saya yang di interogasi polisi sehubungan dengan tetangganya yang kehilangan sepeda motor. Bisa dimengerti gak? or malah jadi tambah bingung?
July 28th, 2008 at 11:37 am
wah sekarang setiap kali mau comment harus input data dulu ya? kok setelah log in dan keluar dari halaman admin jadi ter-log out lagi. .
oo bukan salah Lita kok, saya aja yang kemarin mungkin kurang tanggap. Begitu rupanya, he he he, terima kasih sudah menjelaskan.
August 6th, 2008 at 8:51 pm
Nggak jelas maunya apa tulisan ini. Apa karena urusan tulisan anda harus bikin seorang tokoh kelihatan tolol? Kayak begini juga karakter yang nggak bakalan dicintai pembaca. Dari opening udah males bacanya.
Jadi mesti jelas semuanya. Yang diadukan apa dan kayaknya orang-orang kita udah nggak bodoh2 amat, helo 60 tahun lebih kita merdeka, kayaknya udah pada tahu kalau laporan atau sesuatu untuk pengusutan itu harus ada bukti, saksi, dll.
Semua pembaca itu cerdas, bahkan jauh lebih cerdas dari penulisnya. Jadi, pastikan kita juga tulis sesuatu yang masuk akal. Kecuali kalau anda mau bikin komedi slapstik…