Jangan Remehkan Perkara Kecil
Aja sira agepage nandangi pakaryan gedhe utawa ngarep-arep tekane pakaryan gedhe, amarga pakaryan gedhe iku arang tekane. Kang kerep sira sandung iku pakaryan kang cilik-cilik.
Sira aja ngremehake marang pakaryan kang cilik-cilik iku, amarga yen sira durung kulina nandangi pakaryan kang gampang, kepriye anggone sira bakal nandangi pakaryan kang angel.
Mulane samubarang kang tinemu ing tanganira, lakonana kalawan temen-temen ing ati suci. Atasna awit karsaning gusti, amarga ora ana pakaryan ing donya iki kang ora atas karsaning Pangeran, nadyan kang katone remeh pisan ( serat Sasangka Jati )
Setiap manusia pasti memiliki masalah. Masalah itu bisa datang kapan saja. Tak peduli manusia jenis apapun ia. Dunia diciptakan berpasang-pasangan. Kebanyakan menyetujui hal ini. Taoisme dengan Yin dan Yang, Islam dengan keselarasan Habbluminallah dan habluminannas, hitam dan putih. Baik dan Jahat. Pun dengan masalah. Masalah datang bisa kecil, bisa besar. Tiada yang sanggup untuk menolak kehadirannya.
Fitrah masalah memang merepotkan. Namun apakah kita akan menhindar dan tidak inigin mempunyai masalah dalam hidup? Barangkali semua setuju jika hidup ini akan bahagia bila tak ada masalah. Masalahnya bukan dari masalah itu sendiri, tetapi sikap kita dalam menhadapi masalah. Contoh yang nyata dalam hidup, kadang kita meremehkan masalah kecil. Akibatnya, justru masalah kecil itulah yang membuat kita mendapatkan masalah yang lebih besar. Kita meremehkan secuil sampah di sungai. Jika secuil demi secuil itu menyatu maka tak pelak timbul masalah baru yang dapat memicu penyebab banjir.
Nah, apakah kita masih meremehkan masalah kecil? Ingatlah bahwa masalah itu datangnya dari Tuhan sebagai peringatan dan pembelajaran kepada kita. hadapilah dengan sungguh-sungguh . Lakukanlah atas dasar hati yang suci dengan mengharap keridhoan Rabbi.


August 21st, 2008 at 4:51 pm
sangkan paraning dumadi
tansah ngawehi pineling
mring tinitah manungsa
gesang ana alam donya
dudu sikil kumlaku
dudu tangan kemlambe
dudu lambe klemis kemucap
dudu kuping kemrungu
sak kabehing lelampahan wis ginaris
semana uga titianing urip siji lan sijine
kabeh wus ana pesthine
gumantung caramu anggone laku
masalah sing gawe ramening ati
mbabahi sepining pikir
dudu seka Gusti
nanging seka pokalmu sing kleru
ora tumiti ana margimu
klenta klentu sipating menungsa
cubluk blekuthuk, semana uga.
dene,
sedaya kaleresan, mung kagungane Gusti
serat, salwangga
hayooo, mudheng ora….
August 21st, 2008 at 8:14 pm
huaduh.. terjemahannya dong, please (^-^)
bagi saya, rasanya pendapat mas estu dan mas/mbak salwangga sama benarnya.
bagi manusia normal kayak saya, masalah adalah sesuatu yang sering muncul padahal, masalah tidak perlu terjadi bila saya ngga meremehkan perkara kecil. tapi intinya masalah itu ada dan mengganggu.
sementara itu bagi yang mampu tulus berbaiksangka pada Gusti Allah, maka seharusnya ngga perlu ada masalah yang bisa menyusahkan hati.
jadi saya rasa, semua kembali ke ikhlas. kalau kita ikhlas, semua perkara baik besar kecil kita kerjakan/tuntaskan dengan sebaik-baiknya sehingga masalah ngga perlu ada, kalau pun ada juga, masalahnya ngga terlalu menyusahkan hati kita. meskipun masalahnya ngga bikin kita susah, bisa jadi menyusahkan orang atau bagian lain, sehingga tetap harus ditangani dengan baik.. ini kembali lagi ke awal, jangan meremehkan perkara kecil.
nah kalo ujung dan pangkalnya didapat, mungkin kalo berdoa kita bingung mau ngadu apa mau minta apa wong tampaknya sudah “ditangani” semua.. yang ada hanya hati yang penuh bersyukur dan malah berdoa buat orang lain yang memerlukan.
teorinya begitu.. tapi terus terang saya sendiri belum bisa melaksanakan..
*gubrak*
August 22nd, 2008 at 10:51 am
artinya….
tulisan “jawa” kutipan dari estu:
Jangan kamu menganggap bisa mberesi pekerjaan besar atau berharap datangnya pekerjaan besar, karena pekerjaan besar itu jarang datangnya. Yang sering mengganjalmu itu pekerjaan yang kecil-kecil.
Kamu jangan meremehkan pekerjaan yang kecil-kecil itu, karena kalau kamu belum terbiasa mengerjakan pekerjaan yang mudah, bagaimana caramu akan menyelesaikan pekerjaan yang sulit.
Awal segala sesuatu yang ketemu ditanganmu, jalanilah dengan sungguh-sungguh dari dalam hari suci. Atas-namakan kehendak Tuhan, karena tidak ada pekerjaan di dunia ini yang bukan dari kehendak Tuhan, meskipun yang kelihatannya sepele sekalipun (serat, sasangka jati)
tulisan salwangga,
Dari mana asal dan tujuan hidup
Senantiasa memberikan peringatan
Kepada yang ditakdirkan menjadi manusia
Untuk hidup di alam dunia
Bukan sekedar kaki yang melangkah
Bukan sekedar tangan yang melambai
Bukan sekedar bibir manis yang mengucap nasehat
Bukan sekedar telinga yang mendengar
Segala sesuatu yang telah terjadi sudah ada takdirnya
Begitu juga jalan hidup manusia yang satu dengan lainnya
Semua sudah ada dalam kehendak-Nya
Tergantung, bagaimana cara manusia menyikapi dan menjalani
Segala macam masalah ataupun persoalan, yang membuat resah hati
Bisa menjadi awalan/pembuka tidak bisa-nya menggunakan akal pikiran
Itu bukan semata-mata dari Tuhan
Tapi, akibat dari kelakuan manusia itu sendiri. Yang sering salah.
Karena tidak mentaati aturan yang sudah ditetapkan di jalanmu (manusia)
Segala salah dan lupa sudah sifat manusia
Goblok bin tolol, begitu juga
Dan,
Yang selalu benar, hanya Tuhan.
(maksud dari paragraph terakhir : untuk bisa menjadi benar, manusia harus “merapat” kearah Tuhan)
Coretan, salwangga
August 22nd, 2008 at 2:52 pm
Membaca posting-an diatas mengingatkan saya pada ‘Pintu’-nya Fira Basuki. Kok belum ada yang posting dengan menggunakan bahasa daerah selain bahasa Jawa ya?
Sekalian belajar gitu loh..
September 3rd, 2008 at 12:28 pm
Dear Estu,
tulisan ini juga mengingatkan saya pada tulisan Pintu-nya Fira Basuki. Lepas dari anda mengikuti gaya Fira atau enggak, tulisan ini menarik tapi mestinya dikasih terjemahan ya… yang bahasa Jawa ngerti sih nggak masalah, yang nggak ngerti pasti bingung. Terus lagi, jadilah diri sendiri dalam menulis…
Kinoysan