kadal.. kadal.. di dinding..
Rumah saya kedatangan sepupu yang tinggal di Jerman dan kini sedang berlibur di Indonesia. Sambil menikmati cemilan keripik singkong pedas pesanannya, kami berbincang-bincang mengenai banyak hal. Gelak tawa mewarnai aktivitas kami sesekali diselingi dengan anak perempuannya yang bule banget tapi hidungnya sedikit pesek. Suaminya yang asli keturunan ras aria itu tampak serius mendengarkan obrolan kami, entah dia benar-benar mengerti setiap kata atau malah bingung.
Tak lama kemudian dia minta ijin ke kamar mandi. Belum lama dia berlalu dari hadapan kami ketika dia kembali dengan tergopoh-gopoh dan memberitahukan ada binatang aneh di kamar mandi saya.
Penasaran bercampur takut, kami mengikutinya menuju kamar mandi dan ternyata binatang yang dia maksud adalah.. SEEKOR CICAK yang sedang merayap di dinding! Alamak…
“Bisa dibawa ke Jerman gak ya?” tanya Mas Lars. Waakks..?! Cicaknya mau dibawa ke Jerman? Gimana cara menangkapnya? Terus bagaimana membawanya? Apa di taro’ di dalam kandang hamster? Terus bagaimana makanannya? Apa harus menangkap nyamuk hidup-hidup? Aihhh..
Di Jerman tidak ada cicak, begitu penjelasan sepupu saya. Ooo.. pantesan Mas Lars ini begitu takjub melihat cicak. Berhubung di rumah tidak ada kamus Indonesia-Inggris, saya kesulitan menterjemahkan cicak ke dalam bahasa Inggris. Akhirnya dia menyimpulkan bahwa cicak itu ‘a kind of lizard’. Walahhh… nanti lagunya jadi berubah dong.. Kadal.. Kadal.. di dinding.. diam-diam merayap..

