Karena Pengasuhan Bukan Penampungan
Ternyata, pedih rasanya mengasuh anak tanpa perjanjian hitam di atas putih. Hanya sebatas dititipi lalu dengan mudah seenaknya dapat diambil kapan saja. Saat sedang terpuruk penuh beban, datang berurai air mata mempercayakan pengasuhan. Selesai penat lelah, terasa lenggang, membawanya pergi tanpa memikirkan perasaan. Bahwa ada sebuah hati yang telah dihinggapi cinta dalam ikatan naluri seorang ibu.
Rupanya, keberadaan pengasuhan tak lebih dianggap seperti muara penampungan. Yang dapat dengan mudah berpindah-pindah sesuai keadaan hati. Saat hati berwarna biru sendu penuh dengan penat, muara penampungan adalah tempat tujuan. Saat hati berwarna merah jambu penuh dengan suka, muara penampungan adalah tempat yang tak diperlukan, sekedar persinggahan.
Lelah, menjadi muara penampungan. Yang selalu dicurigai akan merebut cinta kasih anak. Yang tak diberi keihklasan untuk menjaga pengasuhan. Tak perlu mempercayakan pengasuhan jika memang ada kecurigaan. Bukankah sudah waktunya mandiri dengan kedewasaan? Tegar menjalani peran ibu tunggal bagi dua bocah cilik. Tanpa perlu egois mencari muara penampungan saat dua bocah kecil terasa menjadi beban.
Karena pengasuhan bukan sekedar penampungan. Yang dapat dititip dan diambil kapan saja, tanpa memikirkan perasaan, tanpa melihat masa depan.


August 13th, 2008 at 7:49 am
Pedih memang jika sudah terlanjur cinta dengan mata mungil tanpa dosa terengut tiba-tiba. Firman Allah memang selalu benar. Dalam bermuamalah dengan manusia kita harus tetap menerapkan prinsip hitam di atas putih.
InsyaAllah, Allah akan memberi engkau yang terbaik.
August 13th, 2008 at 8:27 am
So touched…
Sekedar masukan, paragraf tiga baris ke-empat:
.. Tegar menjalani peran ibu tunggal bagi dua bocah cilik.
Bagaimana kalau ‘ibu tunggal’ diganti dengan ‘orangtua tunggal’ (single parent)? Kalau ‘ibu tunggal’ kesannya ada ‘ibu dua’, ‘ibu tiga’ dst.
August 13th, 2008 at 6:02 pm
Dear Lizsa,
judulnya kurang menarik, tapi kisahnya menyentuh bisa lebih bikin orang nangis lagi kalau eksplorasi dramanya kuat.
Sedikit catatan, kadang-kadang penulis perlu lebih menyikapi segala sesuatu dengan seimbang, agar tak ikut terbawa arus lalu tanpa sadar ‘ngejudge’ tokoh tertentu di dalam tulisannya sendiri.
Kinoysan
August 15th, 2008 at 11:18 am
tulisan liza kali ini, lebih mirip penggalan cerita. ibarat makanan, baru ambil secuil eh, habis. bikin penasaran.
touch-hearth. menyentuh hati, maksunya. bener gak inggrisku?
kayaknya, cocok berkolaborasi dengan mbak kinoysan. menulis skenario drama yang “mendayu-dayu” hingga menguras air bak mandi (ups, air mata maksudnya).
August 16th, 2008 at 8:02 pm
Dear Sri, Lita, Kinoy, Sal
Thanks… smua masukan dibungkus rapi.
Salam
http://aishliz.multiply.com