Kau Pilih Aku Untuk Mendinginkanmu
Ah, akhirnya aku sampai rumah baru. Rumahnya bagus, lebih menyegarkan dibandingkan ruang tempatku diam sebelumnya. Pilihan furniturenya sederhana dan tak banyak. Sepertinya pemilik rumah ini bukan orang yang suka mengoleksi banyak barang. Berbeda dengan cerita teman-temanku yang lain. Katanya rumah baru mereka selalu penuh sesak dengan barang yang aneh-aneh.
Sebelumnya aku tinggal di gudang sebuah toko. Setelah itu aku mulai dipajang. Lama sekali. Lebih dari tiga bulan aku diam menunggu pembeli yang datang memilihku. Banyak barang yang lain selalu mengejek kalau aku tak mungkin pindah dari toko ini. Kalaupun bisa menjadi milik seseorang, aku takkan terpakai dalam waktu yang lama.
Memang, jaman sekarang jarang yang memakai barang sejenisku lagi. Mungkin sudah kuno. Hanya keyakinan yang membesarkan hatiku bahwa aku pasti terjual dan mendapatkan rumah yang layak. Keyakinan itu terbukti kini.
***
“Kenapa yang dibeli kipas angin?”
“Memang kenapa?”
“Ditanya kok balik nanya, gimana tho?”
Begitulah beberapa hari setelah aku di rumah baru. Teman pemilik rumah ini datang dan menanyakan keberadaanku.
“Biar irit listrik,” jawab pemilikku sambil tersenyum kepada temannya.
“Bay, hari gini masih pakai kipas angin? Hehehe…, ketinggalan jaman tuh,” seru Anwar, teman Obay.
Obay dan Anwar teman dekat. Kata-teman-temanku disini mereka berdua ini sangat akrab. Kata meja yang sudah ada sejak Obay tinggal di rumah ini, kedekatan mereka sudah terjalin sejak sepuluh tahun yang lalu. Katanya lagi, mereka akrab sejak masih kuliah.
“Biarin aja ketinggalan jaman, gak urus!” Tegas Obay lagi.
“Gengsi dong Bay pake kipas angin. Sekarang jamannya AC!” Ujar Anwar.
Perbedaan kedua orang ini sebenarnya banyak. Anwar jauh lebih mudah bergaul, banyak omong, dan sering asal. Mungkin karena itu dia banyak punya teman. Sedangkan Obay lebih diam, terlalu berhati-hati, tapi banyak ide. Hampir bertolak belakang. Tapi, nampaknya itu yang mendekatkan mereka.
“Ayo, sekarang jelaskan detail apa untungnya pakai AC?” Tantang Obay.
“Ok!” Anwar menerima tantangan.
Ini biasa bagi mereka berdua. Saling tantang kalau sedang menghadapi masalah yang berbeda. Kata kursi temanku, biasanya mereka bisa berdiskusi panjang sampai ngotot seperti orang berkelahi. Tapi setelah itu tiba-tiba mereka bisa berbaikkan kembali. Seperti tidak terjadi apa-apa. Mudah-mudahan kali ini kondisinya akan seseru cerita si kursi.
“Bay, kalau dulu AC jadi barang mahal. Jadi tidak semua orang bisa punya.” Anwar memulai penjelasannya.
“Dulu, kita cuma merasakan enaknya AC di gedung-gedung mewah, ataupun di kantor-kantor pemerintah. Tapi pada saat yang sama, pasti hati kecil kita juga menginginkan benda ini dirumah kita bukan?” Lanjut Anwar.
“Kamu mau beli barang cuma gara-gara impian masa lalu?” Tiba-tiba Obay memotong penjelasan Anwar.
“Jelaslah AC lebih dingin dibandingkan kipas angin yang kamu banggakan!” Anwar menyambar pertanyaan Obay.
Anwar melanjutkan penjelasannya, kalau AC saat ini tidak hanya memberikan udara sejuk semata. Tapi memiliki manfaat lain yang menjadi nilai lebih. “Di jaman flu burung begini, ada AC yang memiliki fitur pembasmi virus di udara. Betapa kita diuntungkan dengan fitur itu?” Seru Anwar setengah bertanya kepada Obay. Sambil ia menjelaskan kepada Obay penelitian Institut Penelitian Bogor (IPB) bahwa ada produk AC yang bisa membunuh virus flu burung lebih dari 90% dalam ruangan dan jumlah tertentu.
“Dasar konsumtif, gampang banget termakan iklan,” Obay berujar dengan nada mengejek.
“Sudah, akui saja kalau kamu suka AC hanya karena romantisme masa lalumu, hehehe…,” tambah Obay sambil tertawa.
“Sekarang harga AC terjangkau kantongmu Bay, ngapain kamu gak beli AC?” Tanya Anwar.
“Ini bukan masalah uang, kawan. Ada masalah yang lebih besar yang harus kita pikirkan sebelum membeli barang.” Jawab Obay.
“Kau tuh, cuma masalah pendingin jadi gawat!” Tukas Anwar.
Obay hanya senyum-senyum melihat Anwar. Lalu meminum kopi didepannya. Sambil menghisap rokoknya, Obay pun membenarkan apa yang dikatakan Anwar kalau memiliki AC juga idamannya. “Sampai sekarang pun masih ada keinginan memiliki AC,” kata Obay. Tapi, ia memilih untuk tidak mengikuti keinginannya itu. Setidaknya sampai saat ini. Karena baginya belum ada AC yang sesuai keinginan dia.
Obay menceritakan kalau pengetahuannya dulu tentang AC terlalu sedikit. Tapi seiring berjalannya waktu pengetahuannya pun berkembang. “Perkembangan pengetahuan inilah yang membuatku mau tidak mau menambah parameterku untuk membeli AC,” ujar Obay.
“Paling sederhana, penggunaan listrik untuk AC jauh lebih besar jika dibandingkan menggunakan kipas angin,” jelas Obay. Dari perbandingan daya listrik kita sudah banyak berhemat.
“Ah, bilang aja kamu pelit ngeluarin duit,” sela Anwar.
“Hehehe…, bukan hanya masalah duit kawan.” Kalau kita semua bisa berhemat listrik, kita juga bisa menghemat energi. Belum lagi masalah pemanasan global yang sekarang jadi pembicaraan banyak orang.
Memang penyedia listrik negara ini punya banyak kesalahan dalam mengelola energi listrik. Sampai-sampai masyarakatnya yang harus menanggung beban kesalahan itu. Tapi, setidaknya sebagai masyarakat pun harus tahu kebutuhan dan kemampuan sendiri. Jangan negara sudah salah, masyarakatnya ikut membuat masalah karena ingin enak sendiri.
“Banyak produsen bilang AC-nya aman untuk kesehatan,” ujar Obay. Tapi banyak juga yang terlalu sering di tempat ber-AC daya tahan tubuhnya berkurang, kulit mudah keriput, juga metabolisme tubuh terganggu. Kalaupun AC sekarang tidak lagi menggunakan freon sebagai zat pendingin, tetap saja AC menciptakan udara panas diluar. “Hanya memindahkan panas dari dalam keluar saja,” kata Obay lagi.
Sementara banyak masyarakat karena lebih mementingkan kenyamanan, memilih membeli AC. Mereka merasa nyaman, bisa membayar tagihan listriknya, bisa membayar perawatannya. Sangat individualis. Padahal dampak sosialnya cukup panjang.
“Aku bukan orang tehnik, Anwar. Tapi aku punya keyakinan kalau barang tehnik sekecil apapun memiliki dampak buruk.” Kata Obay lagi. Ia kemudian mencontohkan kepingan memory komputer. Barang kecil yang kasat mata tersebut nampak aman ternyata berbahaya bila terbakar.
“Kalau begitu, kipas angin pun tidak aman dong,” tukas Anwar.
“Betul. Tapi setidaknya lebih aman daripada AC, hehehe…” Jawab Obay.
Obay menambahkan bahwa sebenarnya ia ingin memiliki pendingin yang tidak memerlukan tenaga listrik. Produk tersebut sudah ada di pasaran. Tapi sayang, harganya belum terjangkau.
“Kebutuhanku adalah udara dingin,” kata Obay perlahan. Yang bisa dilakukan adalah mendesain rumah dan halamannya agar udara dingin dari alam mudah masuk kedalam rumah. Karena masih kurang dingin, maka kutambahkan kipas angin.
***
Tak disangka, begitu panjang alasan memilihku. Awalnya akupun sempat khawatir kalau aku hanya sementara waktu saja terpakai disini. Karena benda bernama AC itu yang memang menjadi pesaingku saat berada di toko. Jumlah penjualan produk sejenisku jauh lebih rendah bila dibandingkan penjualan AC. Syukurlah, pemilik rumah ini memiliki alasan kuat membeliku. Untuk saat ini aku merasa lega, karena berarti aku akan terpakai dengan serius.
Tapi, kalau orang-orang nanti bisa mendesain rumah dan halamannya dengan baik. Barang sepertiku akan semakin susah merasakan rumah tinggal. Akan lebih lama di toko. Jika tidak kunjung terbeli, akan berdiam di gudang. Lalu dikembalikan ke pabrik. Sebagian tubuhku menjadi pelengkap produk baru. Sebagian lain menghuni tempat sampah.
Ah!
———————————
Heru detail di http://kataheru.com


March 10th, 2008 at 9:51 am
Mas Heru…
Komentar saya sama dengan komentar untuk tulisan sebelumnya.
Btw Anda sepertinya cocok untuk menulis cerpen dengan objek benda mati.
Coba itu dikembangkan ya. Saya kira sangat bagus
Salam sukses!
April 10th, 2008 at 3:30 pm
Saya suka sudut pandangnya, Pak. Beda!Mungkin lebih bagus kalo pembaca dibuat tidak tahu tentang subjek pencerita sampai ke paragraf 3, jadi biar lebih lama penasaranny =) Trus pura-pura dibuat seolah-olah subjeknya tuw manusia.After all, OK! =)
April 22nd, 2008 at 12:10 pm
hehehe…
pengen juga cerita manusia.
ya nggak lah bang Jonru. masa’ nulis benda mati terus
pengennya ini cerita sebelum yang http://blog.belajarmenulis.com/menanti-putaran.
bu anggita, thx yaaa…
*duh, lama nih gak ke belajarmenulis.com*