Kedamaian itu Ada Dimana?
Pernahkah kita merenung sebenarnya selama ini kita berbuat sesuatu untuk siapa? Seorang atasan memerintah bawahannya, kemudian si bawahan mengerjakan perintah bosnya apakah ini berarti dia melakukan itu untuk bosnya?!! Yang kemudian berujung untuk mendapatkan gaji?!!!
Ketika kita mengirim surat untuk Ibu di pulau lain misalnya. Betapa kita sangat membutuhkan Pak Pos. Dan tentunya gak hanya Pak Pos yang ikut andil, tapi juga banyak rentetan orang sebelum itu yang menolong surat kita sampai untuk Ibu di rumah. Ada Pak Pilot…ada petugas administrasi…ada Pak Pos Propinsi…kemudian ke kecamatannya…dan seterusnya. Itu untuk surat? Dan yang lainnya? Demikian pula adanya.
*Tulisan saya sulit sekali menuju intinya. Waduh bagaimana ini? Hmm, bismillah saya coba lagi pelan-pelan*
Pak Pos dan orang-orang lain yang mengantarkan surat tersebut ke tujuan bekerja untuk siapa? Yah jawaban yang paling tepat mungkin adalah karena itu memang pekerjaannya…dan lagi-lagi berujung pada gaji. Untuk hidup. Untuk istri dan anak-anak makan. Benarkah seharusnya begitu?
Apakah cukup hanya sampai disitu? Hmm, kira-kira apakah beda rasanya jika semua itu dikerjakan sebagai khidmah kepada sesama makhluk Tuhan?
Saya masih sulit mengutarakan inti tulisan ini. Tapi lagi-lagi saya akan coba dan coba. Lanjut…!
Pernahkah kita melakukan sesuatu kepada seseorang karena kita menyayanginya dengan tulus meski kita tidak pernah mengenalnya? Kita melakukannya bukan untuk materi tapi karena dia adalah makhluk Allah yang memerlukan bantuan kita?
Suami sangat menghargai istrinya karena baginya harga istrinya adalah seharga penciptanya? Demikian istri dengan penuh ketulusan menunaikan hak suami karena dengan begitulah ia akan menunaikan hak Allah…. Seorang Pak Pos membantu mengantarkan surat bukan hanya karena materi tapi karena dalam surat ini banyak amanat sesama makhlukNya yang sangat penting dan harus segera disampaikan. Ketika seorang pelacur datang pada kita…kita genggam tangannya…kita ajak ia untuk kembali karena dia juga lagi-lagi ciptaanNya. Lantas disini kita lihat, adakah celah untuk saling mencaci? gak ada!
Sekedar berbagi. Ada rasa lain yang luar biasa! Ketika saya mulai mengerjakan sesuatu dengan makna yang lebih dalam dari biasanya. Mengambilkan air minum bagi teman sakit misalnya…alangkah sepelenya pekerjaan ini. Tapi bila kita melakukannya untuk Allah? Melakukannya karena dia adalah makhluk Allah yang tengah butuh bantuan?!! Ada kebahagiaan lain disana. InsyaAllah pahalanya lebih besar di sisi Allah ketimbang mereka yang setia bangun sholat malam tapi hatinya sombong dan takabbur. Na’udzubillah.
Menyapui ruang majlis? Membantu membersihkan masjid? Menyingkirkan jarum di tengah jalan? Mendengarkan teman curhat? Membagi ilmu dengan pengamen jalanan? Menyuguhkan senyum bagi peminta-minta sambil memberikan sedikit uang? Menulis hal-hal baik agar bisa dinikmati pembaca dan tergerak untuk menjadi lebih baik? Membedahkan karya-karya penulis pemula dengan senyum di tengah malam sambil sesekali menahan kantuk? Menelpon Ibu di rumah dan mengucapkan “I love u Mom” dengan riang gembira? Memberikan permen untuk anak tetangga? Wah wah wah…sangat sepele bukan?!!
Tapi subhanallah jika itu dilakukan dengan niat membantu sesama makhlukNya…niat untuk membahagiakan sesama ciptaanNya, gak akan ada perasaan lain di hati kecuali DAMAI. Ya, hanya kedamaian saja. Berlebihankah? Coba sama-sama yuk!
Saya sempat menyesal, betapa begitu banyak kesempatan yang terlewat. Saya seringkali sibuk dengan permasalahan saya sendiri. Untuk mendengarkan teman curhatpun tidak sempat gara-gara larut dengan patah hati saya:D Mengulaskan senyumpun jadi sulit!!! Bahkan kadang teman sekamar yang jelas-jelas gak bersalah malah kena bentak! Huff…betapa ghaflahnya!!!
Barangkali hanya sedikit yang bisa dipahami dari coretan ini. Maafkan kekurangan saya yang belum bisa menggambarkan apa yang saya rasakan dengan seutuhnya.
*sekedar renungan sebelum tidur:)*


August 24th, 2007 at 9:17 am
bagus banget mbak.. maksih atas renungannya