Kesempurnaan di Mataku
“Rasanya, aku sudah lupa. Terlalu banyak cerita di dalam kepalaku hingga aku bingung bagaimana aku akan menceritakannya padamu. Aku lupa caranya bercerita.”
Boneka ajaib itu menatap anak laki-laki yang baru saja membelinya dari toko barang antik. Sudah banyak yang menjadi teman baiknya di kala kesepian, namun sesegera mungkin membuangnya setelah keadaan membaik. Tampaknya semua manusia itu sama, takut dianggap aneh.
Sebelum anak laki-laki itu protes, cepat-cepat ia melanjutkan. “Lihat! Betapa kakunya lidahku ini! Bahkan tubuhku gemetaran harus bercerita padamu. Tapi tidak apa, mengingat kau telah menyelamatkanku dari toko itu, aku akan bercerita padamu. Setuju?”
Anak laki-laki itu diam saja, matanya masih mengamati boneka ajaib. Pakaiannya, tangannya, kakinya, sepatunya, tidak ada yang terlewat sedikit pun. Setiap pahatannya ia sentuh dengan sangat hati-hati. Ia mengagumi boneka itu bagai tergila-gila, sangat cinta.
“Hei, pelan-pelan..!” ia menjerit saat diangkat ke udara.
Boneka ajaib hanya dapat bicara, tidak dapat bergerak, juga bukan Chukky yang bisa membunuh. Namanya luar biasa banyak, setiap pemilik memberinya nama yang berbeda. Ia menunggu hingga anak laki-laki itu puas mengamatinya lalu ia mulai bercerita..
¤¤¤
“Suatu ketika, ada seorang pria bernama Rund yang sangat tertarik denganku sejak pertama kali kami bertemu. Sama seperti dirimu, Kawan. Ia begitu mengagumiku seperti sebuah barang antik. Kau tahu kolektor? Ya, jika kau seorang kolektor maka kau akan betah memandangi koleksimu lebih dari apa pun. Ia adalah pengagum kesempurnaan.”
Boneka ajaib masuk ke dalam lamunan anak tersebut, meninggalkan fisiknya yang tak bernyawa. Hanya menyisakan seonggok kayu yang dipahat halus sedemikian indahnya. “Mari kutunjukkan apa yang kumaksud.”
Di dalam lamunannya, anak laki-laki itu melihat pria yang diceritakan boneka ajaib. Tubuhnya besar, gemuk, dan pipinya kemerahan. Napasnya menderu saat mengamati Bun, nama boneka ajaib saat itu. Pria tersebut bernama Rund.
Baju tidur Rund basah oleh keringat. Matanya semerah kulitnya, meneliti setiap mili bagian dari tubuh Bun di atas sebuah meja. Tidak lama kemudian suara seorang wanita terdengar nyaring, “Dasar gila! Ngapain saja kau?! Kau belum mandi? Kau tidak kerja hari ini?”
Rund balas menjerit, merasa terganggu oleh suara wanita itu. “Tidak! Aku tidak ingin kerja hari ini, jangan ganggu aku!”
Ternyata istrinya merasa tersinggung, ia melangkah berat melintasi ruangan dan berdiri di hadapan Rund. Postur wanita itu sama besarnya, juga masih menggunakan daster. Merasa terganggu karena cahaya lampu terhadang istrinya, Rund mendongak. Tangan kirinya masih memegang pinggang Bun dengan hati-hati.
“Minggir!” Rund mendorong istrinya perlahan. “Jangan ganggu aku, Lia!”
Lia terkejut bukan main, matanya melotot menahan amarah. Akhirnya ia menyadari apa yang terjadi dan bertanya, “Dari mana kau dapat barang itu?”
Pandangan Rund telah kembali pada Bun, kali ini ia melihat melalui kaca mata pembesarnya. “Dari seorang teman,” ia menyahut sekenanya.
“Lalu?”
“Itu saja,” kata Rund.
“Apa yang kau maksud dengan ‘itu saja’?!” Lia menyilangkan kakinya dan bertolak pinggang menuntut penjelasan. Ia merasa sangat kesal dengan perilaku suaminya pagi ini.
Menyadari istrinya yang sudah tidak dapat menahan kesabaran, Rund merasa sangat terganggu. Ia meletakkan Bun dengan hati-hati di atas mejanya. Menyimpan kaca mata pembesarnya di dalam saku, dan menarik nafas panjang.
“Ada apa, istriku?” tanya Rund pada akhirnya.
“Jelaskan padaku!”
“Jelaskan apa?” Rund memandang Lia yang semakin merah wajahnya.
“Kau belum mandi hingga sekarang, tidak pergi kerja, juga bersikap begitu aneh pagi ini, masih kau tanya harus menjelaskan apa?!” suara Lia memekakkan telinga. Belum sempat Rund menjawab ia sudah kembali memaki, “Apakah semua karena boneka itu? Dari mana kau dapatkan dia? Apa kau pergi berjudi semalam? Kau tahu, aku menunggumu pulang sepanjang malam dan pagi harinya kau bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Kau..,” suaranya tercekat dan matanya berkaca-kaca.
Rund berdiri dan merangkul Lia yang sudah menitikkan air mata. Ia berusaha melembutkan suaranya hingga terdengar seperti bisikan, “Dengar istriku, kemarin aku kecelakaan saat menyeberang dan..”
“Apa?!” Lia terlonjak.
“Inilah kenapa aku tidak menceritakannya padamu. Dengar, aku tidak apa-apa. Rupanya aku tidak sadarkan diri setelah itu dan ketika aku terbangun, aku sudah berada di rumah sakit. Syukurlah semua biaya sudah dibayar lunas oleh seseorang yang menabrakku. Namun sungguh aneh, lihat boneka itu? Ia sudah berada di samping tempat tidurku begitu aku tersadar. Karena penasaran maka kubawa pulang.”
Kini keadaan berbalik, sebelum Lia sempat berkata apa-apa, Rund mengambil Bun dari atas meja dan menunjukkannya kepada Lia.
“Lihat betapa sempurnanya boneka ini. Kayunya begitu halus, bentuknya begitu sempurna, mataku tidak dapat lepas darinya. Sungguh istriku, jika kita kelaparan sekali pun, tidak akan kujual boneka ini. Tidakkah kau lihat betapa sempurnanya ia?”
Amarah Lia telah digantikan oleh kebingungan yang amat sangat. Mau tidak mau ia harus menyadari bahwa cerita Rund hampir tidak dapat dipercaya. Bahkan anak kecil pun tidak mungkin percaya akan cerita semacam itu. Terlalu aneh, dan tidak masuk akal. Akan tetapi mata Rund yang begitu bersemangat, menggebu-gebu, serta penuh akan kebahagiaan membuat Lia semakin bingung. Ia tahu, sejak lama suaminya menyukai barang antik. Tapi, tidak mandi dan tidak pulang semalaman juga mengarang cerita aneh itu gila namanya!
“Kau sudah gila ya? Mana ada barang yang sempurna?”
“Pastilah ada!” ujar Rund yakin.
“Kau gila, kau terlalu cinta kesempurnaan. Saat ini kau masih menganggapku sempurna, apakah nantinya kau akan melupakanku secepat membuang guci mahal yang sedikit retak waktu itu?”
Rund diam saja, istrinya benar. Ia terlalu cinta kesempurnaan. Bun telah memenuhi segala keinginannya akan kesempurnaan. Ia menoleh ke arah Bun seolah berkata, “tidak ada yang lebih sempurna daripada dirimu saat ini.”
“Kau gila, tahu tidak? Bahkan kau sendiri tidak sempurna, tapi kau tergila-gila akan kesempurnaan!”
“Maksudmu?” Rund tersentak atas makian istrinya yang bertubi-tubi.
“Apa kau kira dirimu sempurna? Segala yang kau miliki sekarang belum tentu bertahan selamanya, termasuk lemakmu yang banyak itu atau pipimu yang merah, kekayaanmu, rumahmu ini, nyawamu bahkan boneka itu!”
Sesaat keadaan menjadi sunyi, boneka ajaib tetap berada di dekat anak laki-laki itu sementara Bun masih terduduk di atas meja Rund. Rund dan istrinya masih berdiri membeku di tengah ruangan.
Anak laki-laki itu tersentak ketika boneka ajaib berbisik kepadanya, “Mau kulanjutkan ceritaku?”
Anak laki-laki itu mengangguk-angguk senang.
“Tapi cerita ini sudah hampir selesai, kau mau melanjutkannya?” tanya boneka ajaib.
Anak laki-laki itu diam saja, hanya menatap boneka ajaib tanpa ekspresi apa pun.
“Baiklah jika kau tak mau,” lalu ia tersenyum dan membisikkan sesuatu.
Rund bergerak tiba-tiba, seolah batu yang hidup kembali. Tampak ekspresi Rund yang aneh. Ia tidak dapat menerima segala yang dikatakan istrinya. Ia tidak dapat menerima semua kenyataan itu. Ia marah, ia bingung, dan ia kecewa.
“Baiklah, jika kau berpendapat demikian, saat ini juga aku akan pergi. Suatu saat nanti aku akan kembali dan membawakanmu apa yang sempurna. Simpan saja boneka ini, katamu ia tidak sempurna.”
Rund pergi dari sana, menjauhi Lia yang terus mengejarnya. Sesaat kemudian ruangan itu kosong, hanya tersisa perabotan biasa dan Bun yang masih terduduk di atas meja.
Boneka ajaib membawa anak laki-laki itu kembali ke dunianya yang nyata. Sesampainya di sana, anak laki-laki itu menatapnya kagum dan memeluknya erat. Matanya berbinar-binar, sangat bahagia. Seolah-olah baru saja diselamatkan nyawanya.
“Akhirnya kau mengerti juga. Ya Kawan, itulah yang ingin kusampaikan. Aku takut kau akan seperti Rund yang tergila-gila akan kesempurnaan. Kau tahu, ia tidak pernah kembali ke rumah itu dan aku dibuang Lia ke seorang pedagang bertahun-tahun selepas kepergian suaminya. Rund tidak akan pernah kembali, karena kesempurnaan yang ia cari sebenarnya selalu ada di mana saja. Kesempurnaan itu ada di dalam hatinya.”
Anak laki-laki itu mengangguk-angguk dengan semangat. Tersenyum lebar.
“Siapa namamu tadi, Kawan?” tanya boneka ajaib.
Melihat ekspresinya yang terus diam, boneka ajaib menyadari sesuatu.
“Ah, rupanya kau bisu.”
7 September 2008, 11:08 WIB.


September 12th, 2008 at 3:05 pm
wuih, sempurna nih cerita. makin manis aja tulisan sun. tulisannya loh, orangnya ma, biasa aja kaleee…. he..he..he..he..
September 13th, 2008 at 12:34 pm
@sal: weeeeeeeeeee… ha ha ha, dasar Sal!
September 17th, 2008 at 12:55 pm
Dear Sunlita,
this is good story, nice writing. Kapan nerbitin bukunya… hayo, yang lain2 juga harus semangat dan berlomba2 nulis serta nerbitin buku…
http://www.kinoysan.multiply.com
September 21st, 2008 at 6:34 pm
@ Mba Kinoysan: Wah, baru lihat komentar ini.. Yak yak! Mari semangat menulis! (Terima kasih atas komentarnya ya)