KETIKA KELOM KEHILANGAN ORIENTASI KEBINATANGANNYA
“DASAR KUCING NGGAK TAU DIRI!!!”
BLETAKKKKKK!!!!!
Ouughhh… MELESET!!!!
Ibuku berdiri mematung sambil berkacak pinggang. Dadanya turun naik. Dari wajahnya, aku tahu beliau kesal sekali saat melihat lemparan kelom geulis*-nya tidak mengenai sasaran. Kucing berbulu kuning putih yang menjadi sasaran lemparannya tadi sudah melarikan diri entah kemana dengan prestasi berhasil menggodol sepotong ikan bandeng dari atas meja makan.
Ibuku memang pantas untuk marah, sebab kucing yang selama ini bagaikan ‘anak’ ketiganya itu sudah berani ‘berkhianat’ setelah selama ini dirawat dan diberi kehidupan yang lebih baik oleh beliau.
Asal muasal keberadaan si Kelom- begitu kira-kira julukan yang kami berikan pada kucing betina yang berhasil membuat ibuku bete itu sungguh tidak jelas. Kami beri nama si Kelom sebab awal perkenalan keluarga kami dengannya di awali dengan acara ‘pelemparan’ kelom geulis oleh Ibuku yang waktu itu sukses mengenai badan kucing yang dulunya kurus kering itu. Modus ‘operandinya sama yaitu nyolong ikan di atas meja makan. Entah darimana datangnya, tahu-ahu dia sudah berada di rumah kami.
Kelom memang bukan hewan peliharaan kami. Kebetulan keluarga kami termasuk keluarga yang tidak’ bertangan dingin’ dalam memelihara sesuatu. Dulu pernah kami memelihara ayam, banyak pula, namun satu persatu ayam itu raib. Ada yang hilang begitu saja,alias tidak kembali ke kandang, ada pula yang mati dimakan tikus. Suatu saat kami pernah pula memelihara ikan Mas Koki dalam akuarium, namun nasibnya nggak beda jauh sama ayam-ayam peliharaan kami, alias pada mati muda. Padahal kami sudah memperhatikan kebersihan maupun makanannya.
Walau diawali dengan sikap permusuhan, namun akhirnya, ibuku bisa menerima si kelom. Kelom juga sepertinya mengerti kalau dia ingin hidup aman, damai dan sentosa, dia harus ‘nurut’ pada ibuku. Maka terjadilah persahabatan antara ibuku dan si Kelom. Kelom selalu menemani ibuku kalau beliau sedang sendirian atau sedang bekerja di rumah. Kelom juga penjaga rumah yang baik. Dia beberapa kali berhasil membuat tikus-tikus jadi ngeper kalau mau masuk ke dalam rumahku.
Namun akhir-akhir ini, aku melihat keanehan terjadi pada si Kelom. Kulihat dia dengan lahap memakan sisa sayur kangkung yang diberikan ibuku padanya.
Ya, ampun kenapa nih kucing jadi herbivora gini? pikirku setengah nggak percaya.
Dan makin hari makin aneh saja si kelom ini. Ia pernah terlihat makan tempe, tahu dan perkedel jagung sisa. Aku jadi parno sendiri. Jangan-jangan nih kucing sudah kehilangan jati dirinya sebagai hewan karnivora. Aku jadi penasaran, metode apa kira-kira yang digunakan oleh ibuku untuk ‘mencuci otak’ si kelom hingga dia jadi hewan herbivora seperti itu. Sungguh hebat ibuku kalau dia benar-benar bisa mengubah si Kelom.
Namun jauh di lubuk hatiku, aku merasa ada yang salah jika si Kelom tetap seperti itu. Kelom memang sudah tidak seperti saat pertama kali datang ke rumahku. Ia jauh lebih gemuk dan sehat sekarang.
Kelom tetaplah kelom, seekor kucing, seekor hewan yang dengan naluri hewannya. Ia akan kembali ke sifat asalnya, meskipun telah masuk ke “kamp konsesntrasi’ ibuku. Dan sebagai pembuktiannya, ia kembali ke sifatnya yang lama, yaitu mencuri ikan bandeng untuk dimakannya. Sebenarnya, aku bersorak dalam hati ketika mendengar kelom geulis ibuku membentur pintu dapur. Ah…. si Kelom sudah normal kembali sepertinya.
Itulah terakhir kalinya Kelom nampak di rumah kami. Ia tidak pernah menampakkan dirinya lagi di rumahku.
Yang paling sering menanyakan siapa lagi kalau bukan ibuku. Kelom, kucing yang begitu dicinta, begitu dibenci.
See my profile At http://soranalala.multiply.com
Kelom geulis : sendal yang terbuat dari kayu dan tali pengikatnya dari tali karet


May 26th, 2008 at 8:55 am
kelom geulis, bakiak kali ? :)) jgnkan kucing, manusia juga kyk gitu koq.