Kisah Lelaki Tua
Aku adalah lelaki tua yang diciptakan tidak sesempurna kalian. Rupaku sedikit aneh, aku memiliki dua mata yang Tuhan ciptakan tidak simetris, mataku yang sebelah kanan lebih besar dan sedikit menonjol seperti hendak melompat dari kelopaknya. Kedua kakiku tak sama panjangnya, yang kiri sedikit lebih pendek dari kakiku yang sebelah kanan. Jemariku juga tak selengkap jemari yang engkau miliki. Aku hanya memiliki 7 jari, kau percaya?
Dipunggungku muncul tonjolan seperti burung punuk, jika aku bertelanjang dada kau akan lihat aku sungguh mengerikan. Ketika berjalan seluruh tubuhku turut bergetar naik turun. Orang-orang akan memandangiku dengan tatapan aneh seakan-akan aku ini mahluk jadi-jadian dari dunia antahberantah. Anak-anak kecil berlarian berlindung dibalik tubuh bapak ibunya, mungkin mereka pikir dibalik mulutku yang agak miring tumbuh taring-taring yang siap menghisap darah segar mereka. Ah anak-anak itu sungguh senang mengkhayal.
Ingin rasanya aku melemparkan senyum terhangatku pada mereka yang memandangiku dengan penuh kengerian. Tapi sudahlah, sebaiknya tak perlu kulakukan, tentu mereka akan bergegas menjauh dariku sembari sesekali menoleh cemas kearahku seperti yang sudah-sudah. Tampaknya mereka khawatir aku akan mengejar dan menerkam.
Apa aku sakit hati kawan? Kurasa tak perlu engkau tanya. Seumur hidup aku terbiasa begini. Tak pernah aku pakai hati ini untuk menyimpan rasa sakit. Hatiku hanya untuk berserah diri kepada Tuhan yang menciptakan aku.
Haruskah aku mempertanyakan ini padaNya? Tak perlu juga kupertanyakan kawan, ini adalah takdirku? Tentu sejatinya Ia adalah Sang pemilik rahasia terbesar atas semua mahlukNYa. Dan biarpun aku akan berjalan terseok-seok, terantuk dan terjerembab karena kakiku yang pendek sebelah, aku tak pernah menganggap ini berbeda. Karena dihadapanNya Akupun sama denganmu, Mahluk Tuhan yang tak punya daya dan kekuatan.
Kau lihat kawan, apa yang aku kerjakan? Mengais dan Mengorek apapun yang dapat kujadikan pengganjal perut ditengah lautan sampah yang bau dan kotor. Bagimu aku tampak menjijikan bukan? Aromaku sama tak sedapnya layaknya bangkai tikus yang membaur bersama gundukan sampah itu, serta merta Kau pasti akan menutup hidungmu rapat-rapat menghindari bauku yang sungguh busuk.
Pakaiannku lusuh dan compang-camping, tak seperti apa-apa yang kau kenakan ketika tengah bekerja. Tangan-tanganmu juga halus tak sepertiku yang penuh parut dan koreng. Kedua tangan tak sempurna inilah yang kupakai untuk menyelami sampah hingga kedasar yang paling bau. Sementara kau, hanya duduk mematut-matut sebuah benda begambar seperti layar televisi di warung-warung kecil pinggiran kota. Sambil sesekali memainkan jemarimu di atas tombol-tombol kecil yang menyerupai mesik ketik si Jalal Juru tulis yang mati tak wajar itu.
Kerapkali aku bergidik membayangkan bagaimana si Jalal melepaskan ruh dari raganya dengan paksa, ketika disambutnya laju kereta yang menghatam tubuh tegapnya hingga bercerai berai dimalam pekat itu. Sungguh pendek akalnya, lilitan utang mengantarnya pada penghujung ajal yang sia-sia. Padahal anak muda itu sempat sekolah hingga tamat Tsanawiyah. Seharusnya ilmu dapat membuat ia lebih bersyukur. Ah aku semakin bingung dengan orang-orang di zaman sekarang. Semakin tinggi mereka sekolah, semakin mereka ingin cepat-cepat mati.
Apa kau pikir aku juga akan menghabisi nyawaku sendiri karena hidupku jauh lebih sengsara daripada dia? kau pikir aku akan lilitkan tali rami di atas batang pohon dan kemudian dijeratkan dileherku hingga aku mengejan dan mukaku membiru kehabisan nafas? Terlalu, walau aku miskin dan hina aku tak segila si jalal itu kawan. Memangnya siapa aku berani-beraninya menentang ketetapan atas ajalku yang belum tiba. Biarlah Dia Sang Maha Pencipta Langit dan bumi yang menghabisi aku dan menentukan bagaimana caranya aku mati kelak. Sungguh ketika hari besar itu tiba, aku tak ingin Tuhan Yang Mahaperkasa melemparku pada jahanam seperti sampah karena menghinakanNya.
Benar adanya aku sama kotornya seperti lautan sampah yang jadi penyambung nyawaku ini. Tetapi ketika aku tengah beruntung, disanalah kutemukan harta karun yang tak ternilai harganya, akan kusimpan harta-hartaku ini didalam karung butut yang kerap memancing binar ingin tahu anak-anak pondok kardus tepat di selatan gunungan sampah itu. Kau tahu kawan? Inilah rejeki terbesar yang Tuhan beri untuk si Miskin yang hina ini.
Aku memang bodoh, tapi setidaknya aku tahu ini berharga. Ah, aku yakin kau hanya akan menertawaiku. Aku memang tak sepertimu kawan. kaum berpendidikan yang melahap buku-buku tebal dengan jutaan teori yang seharusnya engkau bagi kepada kami si kaum bodoh.
Tetapi apa yang engkau lakukan disana? Membentangkan spanduk-spanduk protes kalian kepada para pembesar demi menuntut hak-hak kami si orang miskin. Sungguh aku terenyuh diperhatikan sebegiturupa. Tetapi tahukah engkau kawan? jauh di dalam hatiku yang sebenar, sungguhlah aku malu menjadi tameng tuntutan kalian dengan tinju dan caci maki, teramat perih melihat kalian mengotori pendidikan mulia dengan darah dan amarah . Mengancam dan menghujamkan sumpah serapah yang sungguh membuatku membara mendengarnya. Kemanakan ilmu yang kau punya kawan?
Biarkan aku bertanya satu hal, benar engkau peduli pada kami seperti yang kau luapkan di hadapan para pembesar itu? Jika benar, turutlah serta denganku, kan kutunjukan dimana engkau dapat berjuang membela kami Si kaum miskin nan bodoh ini. Lihatlah kesana kawan, di balik lautan sampah penghidupanku, anak-anak legam begitu naif terjebak diantara takdir-takdir kemiskinan. Merekalah mahluk-mahluk kecil yang tulus menantiku Si tua yang buruk rupa. Mengharap buah tangan dari karung bututku ini. Kau tahu apa yang mereka cari?
Dunia, kawan. Ada secercah mimpi di dalam karung butut ini. Dibalik buku-buku usang yang kutemukan dilautan sampah yang bau dan busuk. Sungguh anak-anak itu adalah amanat Tuhan Sang Maha Pencipta semesta alam, mereka adalah generasi setelahmu. Sampai hati kah engkau biarkan mereka mati tenggelam tanpa ilmu?
Ah kawan, anak-anak muda yang berpendidikan. Bukan makian yang ingin kudengar dari mulut-mulut kalian yang terpelajar, bukan pula kepalan tinju yang kuharap agar engkau merubah dunia. Beritahulah anak-anak itu bentangan cakrawala yang yang maha luas. Sungguh tanganmulah yang mampu membuka mimpi-mimpi mereka.


May 24th, 2008 at 3:55 pm
Cerita yang menggugah, aku sempat lihat sebagian di Multiplymu kalau tak salah… (Thanks sudah add ya…)
Apakah tombol shiftmu bermasalah kawan? Sebab ada banyak kata-kata yang berhuruf besar di tengah kalimat, sehingga awalnya aku salah mengartikan “kau” yang dimaksudkan di atas adalah Tuhan karena dimulai dengan huruf besar.
May 26th, 2008 at 11:13 am
hehe trimakasih masukannya kawan ^_^
saya perbaiki kesalahan fontnya..
June 1st, 2008 at 8:01 am
seru juga ceritanya..
ditunggu karya berikutnya ya?