Kritik bukan keripik
Seseorang mengkritik kita karena dia cinta, karena dia sayang dan karena dia ingin kita menjadi lebih baik. Alasan apapun yang digunakan tetaplah tidak mudah untuk menerima kritik sekalipun disampaikan oleh seseorang yang begitu dekat dengan kita, orang yang kita cintai atau bahkan orang yang kita anggap mengenal diri kita dengan baik sekalipun.
Kritik tetaplah sebuah kritik. Tidak enak di dengar (bila berupa perkataan), tidak enak dibaca (bila berupa tulisan) dan pastinya tidak mudah untuk dirasakan apalagi di renungkan. Kritik bukanlah keripik yang sekalipun rasanya pedas tetap enak dijadikan cemilan di waktu luang, yang kita cari untuk dijadikan teman di kala menonton televisi, yang kita musuhi ketika jarum timbangan bergeser ke kanan.
Saya mungkin termasuk seseorang yang sulit menerima kritikan. Sejuta bantahan spontan terucap ketika baru satu kata kritik saya terima hingga orang yang tadinya menyampaikan kritik dengan halus terpancing untuk ikut menyamakan ‘nada suara’. Yang terjadi kemudian bukanlah ajang membangun diri tetapi saling adu argumentasi. Sampai suatu saat dalam kesendirian saya di malam yang hening dan sunyi sepi, saya tersadar mungkin seburuk itulah diri saya yang sebenarnya. Ada kata-kata bijak yang berbunyi: kita perlu cermin untuk melihat diri sendiri dan ketika cermin itu menampilkan yang tidak kita harapkan, lebih mudah menghancurkan cermin itu dibanding melihat ke dalam diri dengan hati dan pikiran yang jernih.
Kesadaran itu tidak serta merta membuat saya mampu mengendalikan diri saat bicara dengan ’sang kritikus’. Saya sampai harus menggigit bibir supaya tidak ada kata bantahan yang terucap. Melalui perenungan akhirnya saya mengakui bahwa ternyata saya memang seperti itu dan kali ini saya tidak mau menghancurkan cermin, saya ingin berubah menjadi lebih baik.
Kritik bukan keripik tetapi tetap bisa terasa ‘gurih’. Syaratnya hanya satu: hati yang lapang..


May 24th, 2008 at 3:44 pm
Kata-katanya begitu renyah dan gurih, layaknya sebuah kripik, begitu ‘nyastra’ menurutku. Hm, namun hati-hati juga lho terhadap kritik karena tidak semua kritik itu membangun. Memang benar, kita harus selalu dapat menerima semua kritik yang disampaikan orang lain sebagai salah satu bentuk penghormatan kita terhadap orang yang sudah berbaik hati meluangkan perhatiannya kepada kita, namun kita juga harus tetap mengkaji ulang setiap kritik itu dan memilah-milah kritik mana yang akan kita terapkan. Itu saja menurutku. ^^ Termasuk pendapatku ini, kamu boleh menerimanya dengan senang hati, atau tidak pun tak apa.. Semangat selalu!