Kung Pao Chicken Love – Novel rasa Kung Pao
Behind The Scene: pengalaman pertama menulis chicklit
Ternyata saya bisa juga menulis cerita lebih dari 3 halaman!
Itulah yang pertama tersirat dalam kepala saya saat menyelesaikan tulisan sepanjang 150 halaman yang waktu itu masih belum berjudul. Maklum saja jika pikiran seperti itu muncul, sebab sepanjang sejarah saya dalam hal tulis-menulis, paling panjang itu saya menulis untuk 3 halaman seperti yang disyaratkan dalam beberapa rubrik di media yang pernah saya kirim.
Sebenarnya tulisan – yang saya bilang tulisan kacau balau- sepanjang 150 halaman ini adalah pencapaian yang harus saya penuhi sebelum saya memulai masa perkuliahan malam saya di jurusan Bahasa Mandarin. Kehidupan ordinary girl yang pekerja kantoran disertai imajinasi tingkat tinggi mengenai kehidupan mafia di Taiwan – termasuk punya cowok mafia — , saya aduk menjadi satu dalam cerita itu. Tokoh-tokohnya.. mmmhh.. diambil dari banyak tempat, dari tempat bekerja- mulai dari office boy sampai ehm.. cowok yang pernah bikin saya hampir terjungkal di elevator huehehehe..
Tiga bulan ternyata bukanlah waktu yang cukup untuk menyelesaikan cerita itu Akhirnya, saya berhenti menulis karena sudah sibuk dengan kuliah yang benar-benar menyita waktu malam saya, sementara siang hari saya bekerja.
Karena tak sanggup mengatur waktu antara kuliah dan bekerja, akhirnya saya ‘menyerah’ di tahun ke dua. Saya ambil cuti kuliah . Dan di masa cuti tersebut, saya melanjutkan tulisan yang sudah dtinggalkan dua tahun yang lalu.. (untung file-nya nggak hilang!)
Butuh dua bulan untuk sampai pada akhirnya menurut saya, cerita itu selesai. Awalnya sih saya cuma ingin menyimpan tulisan itu. Tapi, iseng-iseng saya mengirimkan tulisan itu ke sebuah penerbit melalui email. Setelah itu saya lupa ( wah bisa ya!).
Waktu itu saya sibuk mempersiapkan kepergian saya ke Singapura, sehingga lupa kalau saya pernah mengirimkan tulisan itu. Sampai akhirnya, dua minggu kemudian saat saya akan mengirimkan foto copy passport saya melalui email address yahoo, saya melihat di bagian bawah, ada email dari penerbit yang saya pernah kirimi tulisan
Kami tertarik untuk menerbitkan cerita Anda. Itulah sebaris kata yang akan saya ingat terus. What! Please Come On, you must be joking ! Saya tidak menyangka saja kalau tulisan aneh bin ajaib itu ternyata “berharga” di mata orang lain.
Penerbit tidak serta merta menerima naskah saya begitu saja. Sekembalinya saya dari Singapura, saya sudah disuguhi segepok Pe-Er yang harus saya kerjakan untuk merevisi nasakah saya. Lebih dari 20 poin yang diberikan oleh Penerbit untuk dijadikan perhatian saya dalam merevisi naskah saya. Dan menurut saya lagi-lagi tidak gampang untuk merombak jalan cerita atau menambah atau mengurangi tokoh yang ada. Akhirnya naskah itu 2 bulan lebih saya diamkan. Selain kebetulan kesibukan pekerjaan, juga bersamaan dengan bulan Ramadhan.
Seiring waktu, penerbit terus menanyakan kelanjutan naskah saya. Sementara saya masih belum juga menyelesaikan. Daripada punya hutang terus akhirnya setelah lebaran, saya selesaikan ‘hutang-hutang’ saya ke penerbit. Selesai merevisi, ternyata datang lagi email dari penerbit yang berisi bagian-bagian yang harus direvisi dari naskah yang telah saya revisi ( dooohh.. beneran pusing tuh.. revisi dan revisi).
Kali ini butuh satu bulan untuk menyelesaikan bagian itu. Saya sih nggak tau apakah penerbitnya udah nyerah hehehe… atau memang naskah saya sudah dianggap cukup layak untuk diterbitkan.
Akhirnya, dengan diiringi oleh banjir yang melanda ibukota tercinta pada bulan Februari lalu, novel pertama saya ( dan mudah-mudahan bukan yang terakhir) terbit. Tapi karena distribusi terhalang bencana banjir, maka mulai muncul di toko buku pada Maret 2007.
Saya sering ketawa sendiri ketika mengingat pada saat proses menulis novel itu dulu, salah satu bagian terberat adalah waktu disuruh menggambarkan secara kongkrit seperti apa goodlooking-nya tokoh yang bernama Erick Wang. Well.. awal saya menulis saya sudah mengambil karakter tokoh ini dari penyanyi idola saya Wang Lee Hom ( that’s why marganya Wang). Gantengnya kayak apa? Nah itu yang menurut saya susah. Salah satu metode yang saya pakai untuk mencari gambaran fisik dari Erick Wang itu ya.. saya nonton sebanyak-banyaknya bentuk ‘penampakan’ dari Wang Lee Hom. Saya pernah sampai nongkrong di depan tv enam jam lebih cuma buat nonton konser si Mas satu itu. Lain waktu, saya habiskan untuk menonton film yang pernah dibintanginya.
Dan satu lagi, hal yang menurut saya sulit, yaitu ketika penerbit meminta saya mempertajam romantic scene yang ada di novel itu… Aduuhh Maakkk.. I’m not that kind of person! Judul juga saya dapatkan secara tidak sengaja. Waktu itu sebenarnya saya sudah agak hopeless mau dikasih judul apa nasakah yang akan saya kirim itu. Di dalam otak saya kemudian muncul ide untuk mencari judul dari lagu Mandarin. Kebetulan sih saya hobby nyanyi lagu Mandarin. Nggak gampang awalnya untuk mencari kata dari lagu yang sesuai dengan isi novel saya, sampai akhirnya.. Jrengggg.. saya menemukan kata-kata itu pada lagu Gong Bao Ji Ding ( Kung Pao Chicken) yang dinyanyikan oleh David Tao. Dalam salah satu syairnya terdapat kata kata Ai Jiu Xiang Shi Gong Bao Ji Ding ( cinta itu bagaikan kung pao chicken- kung pao chicken adalah masakan tradisonal
China yang rasanya campur aduk ada pedas, asem, manis dan asin). Boleh juga nih syairnya dan saya rasa cukup merepresentasikan isi cerita saya. Tadinya saya ada alternatif lain mengenai judulnya yaitu Suan La Tang yaitu (lagi-lagi) sejenis masakan sayur ikan asam manis. Tapi saya urungkan karena Suan La Tang tidak begitu di kenal oleh masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan Kung Pao Chicken. Maka jadilah Kung Pao Chicken Love.
Ini memang bukan novel yang bagus… setidaknya saya telah berusaha semampu saya dalam menulisnya…dan gara-gara novel ini saya pernah ikut siaran di dua stasiun radio untuk promosi novel ini hehehe…
Resensi ini saya ambil dari blog duamataduatelinga
check this out at http://duamataduatelinga.blogspot.com/2007/03/kung-pao-chicken-love.html
LA MIAN
ESCAEVA, 2007vi+204 hal.
“Cowok nggak bikin bego, Cil. Cintalah yang bikin kita jadi seperti orang bego. Cinta yang bikin kita nggak tahu harus ngapain. Cinta yang bikin kita gila, bertingkah aneh yang nggak kebayang sebelumnya…”~Dika~
Lena sama sekali tidak tahu kalau Zaki, teman dekatnya di kantor akan segera menikah. Tahu-tahu saja Lena sudah terdampar di pesta Zaki sebagai among tamu. Selain dikenalkan pada cewek barunya Dika yang selama ini jadi teman curhatnya.
Lena juga berkenalan dengan jelmaannya Wang Lee Hom, host MTV Asia. Dia bernama Eric Wang, Chief Representative baru kantor Konsultan IT yang bekerja sama dengan perusahaan tempat Lena bekerja. Tapi Lena langsung sebal sama cowok itu karena sikapnya tidak sopan.Keesokan harinya, saat Lena sedang berada dalam toko yang khusus menjual CD Asia langganannya, terjadi sebuah insiden.
Lena nyungsep, menabrak rak CD. Dan dahinya terbentur lalu berdarah. Hasilnya? Jahitan sepanjang 4 cm diatas alis kirinya. Kejadian ini membuat Lena semakin sebal sama Eric Wang yang ternyata menjadi biang keladinya.
Lena bertemu lagi dengan Eric Wang di kantor, dalam sebuah rapat. Melihat sikap Eric dalam rapat barusan, Lena mengubah penilaiannya terhadap cowok itu. Apalagi saat Eric rela meminjamkan lapotopnya saat milik Lena rusak.Suatu hari Eric tidak masuk kantor karena sakit. Diam-diam Lena jadi sibuk sendiri mencari nomor telpon Eric. Akhirnya Lena berhasil juga mengirimkan ucapan ‘semoga cepat sembuh’ melalui sms pada Eric. Tapi dengan tololnya, saat tengah malam Eric menelponnya,
Lena yang sudah setengah tidur malah marah-marah nggak karuan karena mengira nomor itu dari orang iseng.Beberapa hari kemudian, Eric sudah masuk kantor kembali. Tapi sepertinya dia memaksakan diri, karena saat Lena bertemu dengannya dalam lift, mukanya masih sangat pucat. Tiba-tiba saja Eric tumbang didepan Lena. Dengan panik, Lena langsung meminta bantuan petugas lift dan membawanya kerumah sakit. Untunglah bukan penyakit yang membahayakan, Eric hanya terlalu lelah.
Lena menemukan sebuah bungkusan kado di mejanya suatu pagi. Kado itu dari seseorang berinisial EW. Hadiah itu tidak hanya berhenti satu kali. Keesokan harinya, Lena mendapatkannya lagi. Ia menganggap hadiah-hadiah itu dari Eric Wang karena inisial EW yang selama ini dikenalnya hanyalah miliknya.
Lena membalasnya dengan mengirimkan lagu melalui radio dan hadiah-hadiah kekantor Eric dengan samaran secret admirer. Suatu hari, Dika datang mengatakan suatu hal yang sangat mengejutkan, membuat Lena bingung dan marah. Apalagi saat Lena ketahuan kalau dialah yang mengirim hadiah untuk Eric, tepat didepan Eric sendiri. Malu, Lena langsung kabur dari hadapan mereka berdua. Ia bersembunyi di rumahnya, membiarkan ponselnya meraung terus menerus tanpa diangkatnya.Ternyata raungan ponselnya itu berasal dari Eric yang ingin memberitahukan kalau ia akan kembali ke Taiwan. Hah! Bagaimana ini? Apakah selesai sampai disini saja? Untunglah Dika datang dan menyadarkan Lena untuk memperjuangkan cintanya.Maka, disinilah Lena berada sekarang. Di Taiwan. Dijemput oleh sepupu Eric yang dikawal dua bodyguard.
Lena berusaha tidak bertanya-tanya untuk apa bodyguard itu sampai saat Lena sedang berbelanja, tiba-tiba seseorang mendekatinya dan langsung membekap mulutnya.
Lena tersadar kalau dia sedang terlibat dalam masalah MAFIA. Dan Eric ternyata adalah penerus seorang MAFIA yang disegani di Taiwan.Hah? Apa yang akan dilakukan
Lena mengetahui kenyataan ini? Mungkinkah meneruskan cintanya pada Eric, sementara ayahnya adalah seorang pensiuna polisi? Bukankah MAFIA itu musuh bebuyutan polisi?
Bagus juga, jadi serasa nonton film seri Asia. Melibatkan mafia, pula. Jarang-jarang ada yang menyertakan Wang Lee Hom sebagai jelmaannya sang pangeran. Mungkin karena nggak terlalu umum kali ya? (Atau aku aja yang ketinggalan?) Biasanya bintang Asia yang dipakai sebagai jelmaannya pangeran itu para anggota F4. Gara-gara penasaran, aku sampai cari tahu gimana wajah si Wang Lee Hom itu


September 18th, 2007 at 11:03 pm
Gomen nasai, maaf.. kalo tulisannya kepanjangan. Hanya sekedar sharing saja.
Semoga bermanfaat
September 20th, 2007 at 11:18 pm
Wih penasaran niy, novel rasa chicklit, harus cari dan baca. Salut deh, ditengah kesibukan kerja, kuliah masih bisa buat novel