cerpen- Kupinang Kau Yang Kaya
Tasban Koncer tersenyum di kios tempat dia biasa memperbaiki sol sepatu orang-orang. Bagi lelaki dengan usia 40 tahun mungkin saat ini masih sibuk menimang-nimang anak keduanya. Tetapi bagi Tasban Koncer tidak. Belum pernah seorang pun wanita yang mampir hadir dalam hatinya mengajak membina rumahtangga. Predikat bujang lapuk kini mendekati deadline dalam kehidupannya. Ketika seorang teman menawarkan kepadanya wanita yang bisa dikawininya setelah sekian tahun pergi dari tanahnya di Pekanbaru Riau. Hidup mengelana baginya sudah biasa. Terakhir bekerja di Weleri sebagai buruh bangunan memaksanya bertahan hidup di perantauan. Begitu kontraknya habis, kembali Tasban Koncer menjalani hari-harinya sebagai pengembara yang tak tahu harus tidur dimana. Masuk dari satu masjid ke masjid lain. Itu saja karena takmir mengusir agar tidak tidur di dalam masjid. Hingga suatu ketika Tasban Koncer bertemu dengan Iskandar seorang tukang pijat di Semarang. Melalui Iskandarlah Tasban Koncer akhirnya mendaratkan pengembaraannya di kios pijat Iskandar sebagai tukang sol sepatu. Liku kehidupannya itulah yang membuat Tasban Koncer berambisi memiliki sebuah rumah sendiri. Namun semua itu baginya hanyalah mimpi. Bekerja sebagai tukang sol sepatu dengan penghasilan ala kadarnya memupuskan harapannya.
Tasban Koncer tampak gembira menyadari kesengsaraan hidupnya segera berakhir. Seorang teman menawarkannya seorang wanita. Bukan wanita tersebut yang membuat Tasban Koncer sumringah mengingat wajah wanita yang ditawarkan tidaklah rupawan. Iming-iming bahwa Tasban Koncer akan mendapatkan sebuah rumah dengan mengawini wanita tersebut yang melatarbelakangi Tasban Koncer tersenyum terus berhari-hari. Tak mengapa mendapatkan istri tak rupawan asalkan mendapatkan rumah.
Hari-hari yang dinanti tiba. Perkawinan berlangsung sederhana namun cukup khidmad. Bahtera rumahtangga menunggunya berlayar mengarungi samudra kenikmatan dunia. Manisnya madu malam pertama menjadi hal-hal yang paling ditunggu. Namun itu semua bukanlah hal istimewa baginya. Satu-satunya yang paling dia impikan, rumah. Naas bagi Tasban Koncer menyadari bahwa wanita yang kini menjadi istrinya tersebut memiliki dua orang kakak. Tidak seperti yang dipromosikan mak comblangnya dulu. Tasban Koncer mengira istrinya adalah anak tunggal. Tentu saja menjadi pewaris tunggal harta keluarga termasuk rumah. Belum genap satu semester usia perkawinan, kedua kakak iparnya menuntut pembagian warisan rumah meskipun orangtua mereka masih hidup. Tasban Koncer tak habis pikir kepada mereka. Pada umumnya warisan dibagikan ketika orangtua sudah meninggal. Tetapi sekarang…Apakah ini yang berlaku di zaman sekarang?. Satu hal yang menjadi kegundahan Tasban Koncer adalah pembagian warisan tersebut. Sudah dipastikan istrinya pasti akan memperoleh sedikit bagian dari rumah tersebut. Tidak mungkin jika rumah itu akan dibagi bertiga karena kedua iparnya telah memiliki rumah. Satu di Kalimantan dan satunya lagi di Semarang. Benar dugaan Tasban Koncer rumah tersebut dijual dan istri Suyanto mendapatkan bagian yang paling sedikit. Tak pelak mertuanya sudah tak memiliki rumah. Mereka memutuskan untuk ikut tinggal bersama anaknya di Kalimantan. Dan Tasban Koncer harus mencari kontrakan untuk tempat tinggalnya. Tak bisa dipungkiri lagi Tasban Koncer merasa keberatan dengan keputusan itu. penghasilannya tak cukup untuk mengontrak sebuah rumah. Akhirnya istri Tasban Koncer ikut bersama dengan kedua orangtuanya ke Kalimantan. Tasban Koncer tak mau ikut dengan mereka dengan dalih akan menyusul sang istri kelak jika dia sudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Tasban Koncer melanjutkan hidupnya sebagai pengembara.
”Ban, mengapa tidak kau susul istrimu. Mengapa kau biarkan istrimu pergi dengan orangtuanya?”tanya Iskandar ketika Tasban Koncer berkunjung ke kios pijatnya.
”Peduli amat. Aku sudah tak mau mengurusnya. Sudah jelek, kere lagi. Menyesal aku menikahinya. Aku akan mencari istri baru lagi di sini. Istri yang rupawan dan kaya yang bisa memberikan aku sebuah rumah.”
”Oalah, Ban. Kamu sudah lupa sabda nabi Muhammad tho, bahwa wanita dikawini karena empat faktor, hartanya, kebangsawanannya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah dengan mengutamakan agamanya, karena kalau tidak tanganmu akan berlumuran tanah (sengsara). Selama kamu berpikiran seperti itu jangan bermimpi kamu mendapatkan keinginanmu”.
Semarang, 16 Maret 2008

