La Ragazza Indonesiana
Brakkk… pagi tadi saya sudah mendapatkan rezeki…. kepala saya tertimpa sebuah CD. Benjol sih nggak, tapi gara-gara CD itu, saya jadi ingat rentetan peristiwa yang diakibatkan oleh kehadiran CD itu dalam kehidupan saya. CD itu adalah album pertama dari Neri per Caso, sebuah grup Acapela dari Italia yang berjudul La Ragazza. Gara-gara Neri per Caso inilah, saya jadi tertarik ingin belajar Bahasa Italia. Setelah mencari tempat kursus kesana kemari,, akhirnya saya bisa menjadi siswa di Istituto Italiano di Cultura- Pusat Kebudayaan Italia- yang terletak di Menteng. Hal yang paling mengesankan buat saya selama belajar Bahasa Italia adalah saat saya membuat tulisan berjudul Muslim Italia- Arti sebuah pengakuan. Awalnya, saya tidak ada niatan menulis tema tersebut secara serius.
Adalah Stefano, guru Bahasa Italia saya-lah yang memicu saya untuk membuat tulisan itu. Stefano adalah seorang muslim yang setelah masuk Islam namanya menjadi Ahmad Hidayatullah. Lumayan kaget juga saya pada awalnya ketika saat jam pelajaran, dia meminta ijin untuk Sholat Maghrib. Kaget karena saya memang belum pernah bertemu atau mendengar ada orang Italia yang beragama Islam.
Pada suatu waktu, saya mendapatkan kesempatan ngobrol dengan Stefano di perpustakaan. Ia bercerita hal ihwal ia bisa berkenalan dengan agama Islam. Ceritanya, setelah menyelesaikan pendidikan diplomanya di Italia, Stefano yang masih mencari jati diri, memutuskan untuk pergi ke
China untuk mempelajari agama Budha karena ia berniat menjadi seorang Biksu. Namun siapa sangka, kalau di Negara Tirai Bambu itulah dia justru mendapatkan hidayah dan memeluk agama Islam.
Stefano banyak berdiskusi dengan saya seputar masalah Islam dan perkembangannya di Italia. Ia banyak memberikan saya referensi website-website yang bisa dikunjungi untuk mengetahui perkembangan Islam di Italia.
Kenapa tidak dibuat tulisan saja, pikir saya. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah tulisan mengenai Islam di Italia. Dengan berbekal referensi website dari Stefano, saya mencari data melalui internet.
Subhanallah, saya menemukan banyak hal yang menarik seputar perkembangan Islam di Italia. Antara lain adanya data yang menunjukkan kalau ternyata Islam adalah agama kedua terbesar di Italia setelah agama Katolik. Namun demikian, Islam belum diakui secara resmi oleh pemerintah di Italia.
Islam masuk ke Italia melalui Afrika Utara. Dan siapa menduga kalau ternyata Pulau Sicilia yang terkenal dengan kehidupan Mafia-nya itu adalah salah satu pusat perkembangan Islam pada masa kejayaannya di tahun 1200. Malah Palermo, ibukota Sicilia, pernah mendapatkan julukan Emirates Arab of Sicily. Memang, untuk mendapatkan data itu tidaklah mudah karena website yang diberikan Stefano itu semuanya berbahasa Italia. Lumayan kerja keras juga saya menerjemahkan datanya mengingat kemampuan Bahasa Italia saya yang masih minim.
Ada satu hal lagi yang akan saya ingat terus sepanjang hidup saya yaitu saat akhirnya saya nekad memutuskan untuk menghubungi Centro Islamico atau Islamic Center yang ada di Italia. Saya mersa belum puasa saja kalau belum mendapatkan penjelasan langsung dari orang yang ada di Italia. Berbekal International Calling Card seharga Rp100 ribu, saya mencoba menelpon centro islamico- centro islamico yang saya peroleh datanya dari internet.
Mungkin saat itu saya berharap mendapatkan sesuatu yang lebih. Ternyata tidak semua centro islamico di sana mempunyai nomor telepon dan kalaupun ada, tidak selalu bisa tersambung. Usaha lain yang saya lakukan adalah mengirimkan email ke centro islamico yang kebetulan mempunyai email address.
Suatu hari, saya meneruskan niat saya untuk menelpon salah satu centro islamico, kali ini yang ada di kota Bologna. Entah mengapa saat itu saya punya perasaan lain, bakal diangkat nih teleponnya, pikir saya.
Dan benar saja, seseorang di seberang sana- nun jauh di
Bologna,menjawab telepon saya.
Saya kaget bercampur senang, sampai-sampai lima detik pertama saya hanya bisa diam. Tangan saya gemetar memegang gagang telepon sampai akhirnya…
“ Pronto! Assalamulaikum!” keluar juga suara saya walaupun, jujur, bergetar hebat.Dua detik, tiga detik, empat detik..
“ Waalaikumussalam” terdengar suara laki-laki di ujung telepon
sana.
Ingin rasanya saya teriak, bersorak saat mendengar suara yang terdengar begitu jauh itu.Subhanalallah…….. salam saya dijawab! Mungkin norak ya, tapi jujur saya terharu sekali. Dari Italia gitu loh
Tapi kemudian saya panik. Saya tidak tahu harus bicara apa. Semua yang terencana dalam otak saya buyar begitu saja. Dan tidak tahu kenapa, semua ingatan saya mengenai Bahasa Italia seperti menguap dari otak saya.
“ Pronto! Pronto!” saya mencoba untuk kembali membuka pembicaraan setelah merasa sedikit tenang.
Saya dekatkan telinga ke gagang telepon ketika saya mendengar suara di seberang telepon
sana. Bukan.. ini bukan Bahasa Italia, batin saya saat mendengar orang di seberang
sana berbicara.Suaranya memang tidak jelas, namun saya bisa memastikan kalau orang itu tidak berbicara dalam Bahasa ItaliaDaripada main tebak-tebakan, sayapun bertanya apakah orang di seberang sana bisa berbahasa Italia.
“ Parla L’italiano?” tanya saya “Parla L’inglese?” tanya saya lagi kali ini berharap orang di seberang sana bisa berbahasa Inggris.
Masih nggak ngeh juga sampai suatu saat saya sepertinya pernah mendengar bahasa orang itu. Masya Allah, ternyata ia berbicara dalam Bahasa Arab!
Duh, saya kan tidak bisa berbahasa Arab. Saya jadi ingat, umat Islam di Italia itu sebagian besar adalah para imigran yang berasal dari Negara Afrika Utara seperti Mesir, Libya dan Aljazair yang bahasa sehari-harinya adalah Bahasa Arab. Mungkin orang yang menjawab telepon saya itu adalah salah satunya. Akhirnya dengan berat hati saya menutup pembicaraan dengan kata Wassalamulaikum.
Tapi saya tak putus asa, kebetulan di Centro Islamico Bologna itu ada nomor fax yang bisa dihubungi, jadi saya mengirimkan fax berisi pertanyaan- pertanyaan yang saya tulis dalam Bahasa Inggris. Saya tidak berharap kalau fax saya ini dijawab. Namun, dua hari kemudian, seseorang menelpon saya.
“ Halo, saya Riska. Ini Mbak Yuyun yang ngirim fax ke
Bologna ya?”
Saya kaget bukan kepalang. Ya, ampun, fax saya sudah muter-muter kemana-mana ya
Rupanya, Riska ini sedang berada di Italia, tepatnya di
Bologna dan sedang mengurus pernikahannya dengan orang Italia yang mualaf. Sedikit banyak, Riska memberikan gambaran bahwa saat ini orang Italia lebih terbuka terhadap warga muslim dan tidak sedikit dari mereka yang kemudian masuk Islam.
Email yang pernah saya kirimkan ke beberapa centro islamico juga berbuah hasil. Salah satunya adalah email dari Roberto Hamza Picardo. Belakangan saya baru tahu kalau beliau adalah Ketua Unione Communità ed Organizzazione Islamica in Italy (UCOII) atau ketua sejenis Majelis Ulama Indonesia-nya Italia.
Saya ingat, the magic word yang selalu saya gunakan dalam setiap email saya adalah kata-kata Il mio nome e Yuyun sono Ragazza Indonesiana. Sono Musulmana ( My name is Yuyun I’m Indonesian girl, I’m a Muslim).
Hasil tulisan saya kemudian saya kirimkan ke Majalah Ummi dan dimuat pada edisi tahun 2002
Kalaupun pada saat itu tulisan itu tidak saya kirimkan ke mana-mana, saya sudah cukup senang bisa mendapatkan hal-hal yang tak terduga sebelumnya
Pronto = Hallo
PS :sekarang yang tersisa dari kemampuan Bahasa Italia saya hanya tinggal beberapa kata saja… nggak ada partner ngobrol sih.

