Laju Kapal Kecilku
Hujan gerimis. Namun tak seperti biasanya, matahari masih bersinar mengalahkan mendung yang samar bergelayut di antara awan. Di balik jendela ruang tamu, kulihat teman-teman sekampungku bermain hujan dengan riang. Tawa mereka sesekali terdengar di antara derap kaki mereka saat saling berkejaran di lapangan persis depan rumahku. Hmm… ingin rasanya aku seperti mereka; menikmati dinginnya hujan sebelum akhirnya mendapatkan secangkir teh hangat di rumah. Ibu selalu melarangku bermain di saat hujan. Kondisi tubuhku yang mudah sakit semakin memperkuat larangan ibu. Seberapa pun seringnya aku merajuk, ibu selalu teguh dengan keputusannya. Hari-hari di bulan Agustus selalu menyiksaku. Aku jarang bermain karena hujan nyaris datang setiap hari. Di saat seperti itu, biasanya aku hanya diam di rumah sambil memandang ke luar. Tiba-tiba kulihat teman-teman yang tadinya berkejaran di bawah hujan berjongkok, seperti mengelilingi sesuatu. Lamunanku tadi membuatku tidak sadar dengan apa yang terjadi di sekelilingku, bahkan aku tak sadar gerimis telah berhenti. Pintu di sampingku masih terkunci. Kalaupun dapat kubuka, ibu pasti masih melarangku untuk keluar rumah karena tanah yang becek akan mengotori kaki dan celanaku. Aku berdiri dengan berjingkat, agar tahu apa yang sedang mereka lakukan. Betapa pun tingginya kakiku berjingkat, aku masih belum bisa melihat dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan. Ketika kakiku hampir menyerah karena lelah, kumpulan anak-anak yang tadi berjongkok berdiri satu per satu. Sepertinya pertunjukan; atau apapun itu; telah usai. Di tengah mereka, ada baskom besar. Entah apa isinya. Kulihat Deni, anak orang kaya di kampungku, membawa sesuatu di dua tangannya. Sementara itu, anak-anak lain mengelilinya dengan tatapan kagum. Kulihat dengan seksama, sepertinya yang dia pegang di masing-masing tangannya adalah sebuah kapal kecil, kapal mainan.
***
Esoknya, saat istirahat sekolah, Deni kembali mengeluarkan kapal mainannya. Deni adalah siswa kelas lima di sekolahku, lebih tua satu tahun di atasku. Sekarang aku bisa melihat dengan lebih jelas apa yang dia pamerkan kemarin. Benar dugaanku, kemarin dia membawa dua kapal mainan. Aku mengira-ira panjang kapal, sepertinya tak lebih panjang dari pensil Faber Castle-ku. Badan kapal sepertinya terbuat dari besi pipih yang dicat dengan warna merah dan biru metalik. Di bagian depan kapal, ada bendera merah putih dengan semacam mesin pengebom di belakangnya. Di balik kaca depan kapal, bisa terlihat nahkoda kapal dengan seragam dan topi tentaranya. Tulisan Kapal Republik Indonesia berwarna putih yang ada di kedua sisi kapal membuatnya semakin terlihat gagah. Beberapa anak kemudian datang membawa satu baskom kecil berisi air. Sepertinya teman-teman Deni meminjam baskom dari ibu kantin dan mengisinya dengan air di sumur belakang sekolah. Aku diam memperhatikan apa yang mereka lakukan. Bukan hanya aku satu-satunya perempuan yang ada di sini. Kulihat beberapa teman perempuan lain bahkan menghentikan permainan lompat tali mereka dan mendekat ke arah kami.
Dimas, salah satu teman Deni yang berkacamata dan bertubuh kurus tinggi, mengeluarkan korek dari saku celananya. Aku terkesiap; aturan di sekolah jelas melarang siswa untuk membawa korek atau benda-benda berbahaya lain ke sekolah. Apa yang akan ia lakukan? Kupandangi sekeliling sekolah, kalau-kalau ada guru yang mendekat. Ternyata tidak ada. Sebagian besar guru juga beristirahat sebagaimana yang dilakukan oleh murid-muridnya. Pandanganku beralih kepada teman Deni tadi. Ia kemudian menyalakan korek tersebut. Deni meletakkan kapal-kapalnya ke dalam baskom berisi air tadi dan membuka bagian belakang keduanya, tepat di belakang jendela tempat nahkoda berada. Sepertinya ada kapas basah di dalamnya. Dimas pelan-pelan menyulutkan api korek tersebut ke kapas basah tadi. Api langsung menyala. Sepertinya kapas tadi basah oleh minyak tanah. Sesaat setelah kedua kapal disulut api di bagian belakangnya, bunyi menderu terdengar dari kapal-kapal tersebut. Air di sekitar kapal bergolak dan whuzzzz… kedua kapal tadi melaju mengelilingi tepian baskom! Ekpresi kekaguman jelas bukan milikku seorang. Anak-anak di sekitarku menunjukkannya bahkan dengan kata-kata dan mata yang bersinar menyaksikan laju dua kapal tersebut. Belum pernah ada mainan yang seperti ini sebelumnya! Aku sungguh ingin membelinya. Nanti, sepulang sekolah akan kuminta ibu untuk membeli kapal kecil seperti punya Deni.
Sesampainya di rumah, aku dikejutkan dengan kepulangan nenek dari Jakarta. Sudah seminggu nenek ada di sana, di rumah Bude Wiwi. Selama seminggu itu pula, aku sungguh sangat merindukannya. Aku kangen dengan dongeng kancil atau kisah para Rasul yang selalu nenek ceritakan menjelang aku tidur. Melihat nenek duduk di beranda siang ini, sontak aku berteriak kegirangan sambil memeluknya. Kangen rasanya sudah lama tidak bertemu nenek. Segera saja kuceritakan semua hal yang terjadi selama nenek tidak ada. Sepertinya aku terlalu banyak bercerita, sampai akhirnya aku mengantuk. Ketika aku bangun, kudapati ibu sedang mengerjakan tugas kantor di ruang tengah. Sesaat kemudian aku teringat kapal kecil punya Deni. Aku merayu ibu agar membelikannya untukku.
“Bu, Arin ingin beli kapal.”
“Kapal apa?”, ibu memandangku dengan tatapan bertanya-tanya
“Kapal seperti punya Deni, yang bisa jalan sendiri”, aku langsung menceritakan semua yang kulihat siang tadi saat istirahat sekolah.
“Nanti ibu usahakan ya… Kalau harganya mahal, Arin harus sabar menunggu ya?”
Aku mengangguk.
Aku tahu, ibu bukannya tidak sayang padaku. Tapi ibu memang tidak mudah memberikan mainan, apalagi yang mahal, buatku. Orangtuaku tidak sekaya orangtua Deni, yang aku yakin bahkan bisa membelikan Deni sepeda model terbaru dalam sehari kalau Deni memintanya. Kedua orangtuaku sama – sama guru SD, dengan penghasilan yang setahuku lebih diutamakan untuk makan dan memperbaiki rumah kami yang separuh tembok, separuh papan sebagai penyekat antar ruangannya. Kalau ibu mengatakan aku harus menunggu, itu artinya aku memang harus menunggu. Pernah sekali waktu aku minta dibelikan boneka beruang warna putih. Aku baru dibelikan boneka itu saat aku berulang tahun, hampir enam bulan dari awal aku menginginkannya.
***
Di Minggu ini, sudah semakin banyak anak yang mempunyai kapal kecil bermesin yang aku impikan. Di kampungku saja, sudah ada lima anak yang punya kapal seperti itu. Mereka biasanya meletakkan baskon di depan rumah dan menunggu anak-anak lain berkumpul untuk menyalakan mesin kapal. Kudengar harganya cukup mahal, setidaknya buatku. Yang aku tahu, aku harus menabung hampir sebulan uang jajanku untuk dapat membeli satu buah kapal dengan warna yang bisa dipilih sendiri. Beberapa anak membeli dengan separuh harga dengan kualitas yang juga separuh di bawah kapal aslinya, seperti kapal punya Yana. Kudengar harganya di bawah harga biasanya, tapi catnya kusam dan kadang mesin kapal mati di tengah jalan sehingga harus dinyalakan lagi. Aku tidak mau yang seperti itu. Aku ingin kapal yang mengkilat seperti punya Deni.
Tidak ada gunanya aku memaksa ibu untuk membelikanku kapal. Alih-alih mau, ibu malah akan marah padaku. Aku pun menceritakan keinginanku pada nenek, barangkali nenek mau membelikanku kapal.
“Kalau saja nenek punya uang, nenek pasti akan membelikan kapal seperti yang Arin mau”, nenek berbicara dengan sedih.
Aku pun menunduk dan semakin sedih. Sepertinya aku tidak akan pernah memiliki kapal mainan itu.
“Bagaimana kalau nenek buatkan Arin kapal yang lain? Arin bisa membantu nenek untuk membuatnya.” , tawar nenek kemudian.
Aku jadi teringat, dulu nenek pernah mengganti layang-layang dengan kantong plastik karena aku tidak bisa menerbangkan layang-layang sungguhan. Ketika aku masih TK, nenek juga pernah membuat sate dari hati ayam dengan cara menusukkan potongan hati ayam ke dalam beberapa tusuk lidi dan menyamarkannya dengan kecap karena tahu kalau aku sebenarnya tidak suka hati ayam. Waktu itu aku bisa tertipu dengan trik nenek. Aku bahkan masih belum bisa percaya kalau aku mampu makan hati ayam yang selalu kuhindari. Sekarang, apa yang akan nenek buat untuk menggantikan kapal bermesin punya Deni? Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirku, aku hanya bisa mengangguk.
***
Nenek tersenyum melihatku mengangguk. Nenek kemudian ke belakang dan menemukan sandal jepit yang selama ini tidak terpakai karena hanya ada sebelah. Aku mengikuti nenek ke belakang rumah. Aku disuruh mencuci sandal itu dengan sabun colek, sementara nenek mempersiapkan cutter, lidi, kertas kado, pensil dan beberapa alat lainnya. Sandal yang sudah dicuci bersih kemudian dikeringkan dengan lap dan ditaruh di bawah terik matahari agar semakin cepat mengering. Setelah itu, nenek mulai menggambar pola di atas sandal dengan menggunakan pensil. Aku memperhatikan dengan seksama, polanya kotak memanjang dengan ujung runcing di kanan-kirinya. Nenek memotong sandal tadi mengikuti pola yang dibuat, kemudian mengecatnya dengan cat warna biru bekas aku mengecat tongkat pramukaku. Segera saja kesan sandal jepit hilang dari ingatanku. Sembari menunggu pola kering, nenek melapisi lima lidi yang diikat menjadi satu dengan kertas kado berwarna senada dengan pola yang tadi dibuat. Lem yang sudah dilekatkan di lidi sebelumnya membuat kertas kado menempel kuat di sana. Aku separuh yakin kalo lidi berlapis kertas itu akan dibuat sebagai tiang kapal. Nenek kemudian memotong plastik bening yang agak tebal dengan bentuk segitiga dan menyesuaikannya dengan panjang lidi. Agar tidak goyah tertiup angin, di kedua tepi segitiga itu ditempelkan sebatang lidi yang juga telah dilapisi dengan kertas kado, sementara tepi yang lain direkatkan pada serangkaian lidi sebelumnya. Jadilah tiang dan layarnya! Aku tersenyum puas. Tapi itu belum selesai. Nenek menancapkan tiang sekaligus layar tadi tepat di tengah pola kapal yang mulai mengering. Kemudian nenek ke kamar dan kembali dengan membawa dua buah boneka kain kecil yang tengah bergandengan. Nenek menusukkan paku jahit yang kecil ke masing-masing kaki kedua boneka tersebut ke pola kapal dengan cat yang sekarang benar-benar sudah mengering. Jadilah kapalku! Dengan menggunakan cat warna kuning, nenek menuliskan namaku tipis-tipis dengan kuas cat airku di bagian kanan kapalku. Aku tersenyum puas dan memeluk nenekku dengan gembira.
***
Segera setelah kapalku jadi, aku memberitahu bapak-ibu tentang kapal yang barusan kubuat bersama nenek. Aku minta ibu membawakanku sebuah baskom besar ke depan rumah untuk kemudian dengan susah payah kuisi dengan air. Aku bahkan menolak bantuan bapak yang ingin menolongku mengisi baskom dengan air. Aku akan melakukannya sendiri, sedikit demi sedikit dengan menggunakan gayung. Selesei mengisi setengah isi baskom, aku segera meletakkan kapalku di atas gelombang lembut air. Kapalku bergoyang-goyang mengikuti gelombangnya. Ia terlihat mengkilat terkena sinar matahari yang memantul melalui air di bawahnya. Beberapa temanku mendekat melihat baskom yang kutaruh di depan rumah.
“Arin punya kapal baruuuuu!!!”, salah satu dari mereka berteriak.
Mereka ramai-ramai berlarian ke arahku. Sesaat mereka terdiam menyadari kapal yang ada di baskomku berbeda dengan kapal yang mereka pikirkan.
“Kok kapalnya aneh?”, seseorang mulai berbicara
Hening.
“Iya, ini kapal buatanku dan nenek”, aku menjawab dengan bangga
“Huwwahahahhaa…..!!!”, mereka tertawa kompak
“Cari kapal lain aja yuk”
“Ke rumah Deni saja, kapalnya sekarang ada empat”
Mereka segera berlari ke rumah Deni. Aku cuma bisa diam. Aku masih belum mengerti mengapa kapalku mereka tertawakan.
“Arin kenapa?”, tanya nenek sambil memandang anak-anak yang barusan berlarian.
“Temen – temen ngeledek kapal Arin”, aku bersedih
“Mereka cuma iri karena ga ada yang punya nenek sekreatif nenek Arin”, kata bapak menenangkan
“Iya”, ibu mengiyakan
Kulihat kapal kecilku lagi. Kapal itu sekarang diam karena tidak ada gelombang, tidak seperti kapal Deni yang bisa bergerak bebas kapan saja. Nenek mengetuk tepian baskom dan kapalku mulai sedikit bergoyang. Aku melakukan hal yang sama dan kapalku pun mulai berjalan pelan. Aku tersenyum senang. Biarlah teman-teman mengejekku. Aku senang dengan kapalku.
***


May 18th, 2008 at 4:39 pm
Hm, cerita yang halus. Saya hanya sedikit bingung dengan suatu detail cerita dimana seorang anak yang rumahnya separuh tembok dan separuh papan dengan orang tua yang keduanya bekerja sebagai guru SD namun pada kenyataannya orang tua Arin cukup loyal untuk memberikan pensil Faber Castle kepadanya. ^^
May 24th, 2008 at 12:11 pm
Waaa…iya, baru nyadar =p Makasih banyak buat masukannya ya… Lain kali harus lebih teliti. Semangat!