Life Isn’t Only For A Bread
Pagi itu saya begitu terburu-buru berangkat kerja. Saya baru menyadari kalau dompet beserta seluruh isinya tertinggal di rumah ketika saya sudah sampai di stasiun Depok Lama. Untung tadi masih ada uang tiga ribu rupiah yang tertinggal di dalam tas, sehingga saya bisa membayar ongkos angkotnya.
Setiba di depan loket stasiun, saya hanya termenung. Tak tahu musti berbuat apa. Tak ada satu rupiahpun di dalam tas. Mau beli tiket kereta tidak bisa, mau pulangpun tidak ada ongkosnya.
Ditengah kebuntuanku tiba-tiba saya punya ide. Saya kenal baik dengan sesorang di stasiun ini. Hmm ya, tapi rasa malu menyergap, membuat saya ragu untuk menjalankan ide tadi. Saya berencana meminjam uang kepada Pak Jauhari, laki-laki tua penjual buku di stasiun kereta api Depok Lama. Meski sudah sering saya berhutang padanya saat beli buku, tapi saat aku berhutang buku itu, beliau sendiri yang memaksaku untuk membayarnya pada lain hari saja kalau saat itu saya sedang tidak punya uang.
Saya memang paling sering nongkrong di jajaran buku-buku yang dijualnya. Dan setiap kali, pasti selalu saja ada buku yang menarik hatiku. Pak Jauhari memintaku untuk membawa buku itu, dibayar lain kali saja kalau sudah gajian begitu katanya. Kebiasaan ngutang buku itu entah sudah berapa puluh kali saya lakukan. Namun entah kenapa, untuk meminjam uang kali ini aku perlu mengumpulkan berkarung-karung keberanian.
“Ini, pake saja uangnya. nggak perlu malu, kita kan sudah seperti saudara, sudah sewajarnya saya menolong kamu yang sedang tertimpa masalah..” Ujarnya sambil menyerahkan padaku selembar uang limapuluh ribuan. “Makasih pak, tapi pak, ini banyak sekali..” jawabku. “Sudahlah sana, cepet beli karcis, nanti kamu ketinggalan kereta.” Jawab beliau sambil tersenyum. Alhamdulilah, masih ada orang baik yang mau meminjamiku uang tanpa jaminan sama sekali.
Dialah Pak Jauhari, seorang lelaki tua, kuperkirakan umurnya sekitar 60 an tahun. Sehari-hari profesinya adalah sebagai penjual buku-buku di stasiun Depok Lama. Sudah 5 tahun beliau berjualan disana, sebelumnya beliau berjualan berkeliling. Kadang di Masjid, kadang di jalan. Sebelum menjadi penjual buku, sebelumnya beliau bekerja di pabrik makanan, tapi karena krisis ekonomi tahun 1998 itu dia di PHK.
Saya banyak berbincang dengan beliau sembari saya menunggu KRL pagi yang selalu telat setiap hari. Dari beliau saya banyak belajar. Baik soal agama maupun soal bisnis penjualan bukunya. Tak hanya itu, ternyata beliau juga pelahap buku. Klop juga dengan saya. Penulis favoritnya adalah Karen Amstong. Beliau banyak bercerita tentang buku-buku Karen Amstrong kepada saya ini. Dan yang paling sering beliau sebut adalah buku yang berjudul “Sejarah Tuhan”.
Dan satu hal yang paling saya kagumi dari beliau adalah motto bisnisnya bahwa “Hidup itu tidak hanya untuk mencari sesuap nasi”. Tak heran, kalau dalam bisnisnya itu beliau dengan gampangya percaya begitu saja pada pembelinya, senang sekali memberikan pinjaman meski tanpa janji kapan akan dibayarnya. Ternyata motto bisnis seperti itu telah beliau dapatkan turun temurun dari ayah dan kakeknya.
Beliau juga membuka perpustakaan dirumahnya, setiap orang yang ingin membacanya tak dipungut biaya. Namun justru dari sikapnya yang seperti itulah, rejekinya mengalir dengan lancarnya. Dari hasil penjualan buku itu beliau telah bisa menyekolahkan anaknya sampai tingkat sarjana. Karena beliau sering menolong orang, maka Allah membalasnya dengan limpahan rejeki baginya.
Hidup tak hanya untuk mencari sesuap nasi. Kata itu yang selalu kuingat, sehingga ingin kujadikan motto bisnis juga kalau suatu saat saya berbisnis. Tak hanya Pak Jauhari yang memiliki motto bisnis seperti itu. Kita bisa mengambil contoh dari pebisnis luar negeri yang memilki motto bisnis Life isn’t only for a bread. Hidup tidak hanya untuk sepotong roti. Bedanya dengan Pak Jauhari hanya Nasi dan Bread. Yang intinya adalah bahwa hidup tidak hanya untuk mengejar materi duniawi.
Tahukah anda motto hidup siapakah kalimat itu? Saya tidak menyangka kalau ternyata kalimat itu adalah motto hidup seorang pengusaha besar dari Jepang. Dialah Konosuke Matshusita. Beliau adalah seorang pendiri dan pemimpin bisnis raksasa kelas dunia group Matshusita.
Konosuke Matsushita lahir di Osaka, Jepang pada tahun 1894. Dia adalah anak bungsu di keluarganya. Saat Konosuke masih kecil, keluarganya mengalami kebangkrutan usaha. Maka untuk membantu perekonomian keluarga Konosuke kecil magang di sebuah toko kompor arang. Setelah beberapa tahun dia magang disana, akhirnya dia keluar dan bekerja di sebuah toko sepeda. Pada saat itu dia sudah mulai tertarik dengan lampu sepeda. Pada umur 15 tahun dia keluar dari toko sepeda yang mengalami bangkrut saat itu. Kemudian dia melamar disbuah perusahaan lampu Osaka.
Di perusahaan lampu Osaka itu, karirnya cukup bagus. Sehingga pada umur 22 tahun dia sudah menduduki jabatan tertinggi untuk seorang teknisi. Tapi jiwa enterprenuernya yang sudah terpupuk sejak kecil, menjadikannya tidak puas dengan hanya bekerja sebagai karyawan. Akhirnya pada umur 22 tahun itu dia mengundurkan diri dari perusahaanya, dan dengan modal 100 yen dia mendirikan sebuah perusahaan kecil yang memproduksi alat-alat elektronik salah satunya adalah stop kontak.
Diapun mengalami pasang surut dalam bisnisnya. Pada tahun 1917 rekan bisnisnya mengundurkan diri. Dan pada saat itu perusahaanya berada diambang kebangkrutan. Saat diambang kebangkrutan itu dia bertekad untuk tetap mempertahankan karyawannya, dan sebisa mungkin tidak melakukan pemecatan. Itulah prinsip yang dia pegang. Bersamaan dengan itu , perusahaannya menerima pemesanan pembuatan piringan penyekat AC dalam jumlah yang sangat banyak. Maka mulailah perusahaanya bangkit kembali.
Konosuke Matsushita adalah seorang yang memiliki rasa kemanusiaan yang sangat tinggi. Dan dia menerapkan nilai-nilai kemanusiaan itu dalam perusahaannya. Idenya untuk menerapkan nilai kemanusiaan dalam perusahaannya itu diperolehnya dari sebuah perusahaan kecil yaitu perusahaan kayu. Disana nilai-nilai religi dan kemanusiaan telah diterapkannya dengan sukses.
Dengan diterapkannya nilia kemanusiaan di perusahaan dengan cara banyak memberikan sumbangan kemanusiaan utnuk yang membutuhkan. Maka setiap pekerja sangat dispilin dan bersemangat dalam pekerjaannya, karena mereka menyadari manfaat dari hasil kerja mereka tidak hanya bermanfaat bagi diri mereka sendiri akan tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Dan Matsushitapun mengadopsi cara itu untuk perusahaannya.
Selain sebagai seorang Enterpreneur, ternyata beliau juga berprofesi seorang pendidik, filsuf dan juga penulis buku. Buku hasil karyanya kurang lebih sudah berjumlah 46 buah buku. Di akhir hayatnya beliu menyumbangkan dana pribadinya sebesar 291 juta USD dan dari dana perusahaannya sebesar 99 juta USD untuk dana kemanusiaan.
Pebisnis sejati biasanya adalah sosok yang sangat identik dengan julukan “si pengejar harta”. Tapi ternyata banyak pebisnis sukses yang justru sesunguhnya bukanlah pengejar harta. Contoh nyatanya yaitu dua orang yang saya tuturkan diatas. Mereka yakin bahwa kesuksesan sebuah usaha tidak hanya diukur dari segi financial, tapi juga diukur dari nilai kemanusiaan apa saja yang sudah diperjuangkannya..Berapa banyak usahanya telah mampu memberikan sesuatu yang berharga bagi orang lain.
Tulisan ini juga ada di : http://sya2.multiply.com/journal/item/123
silahkan dikomentari ya kawan-kawan… terimakasih


August 20th, 2007 at 11:46 am
Saya suka tulisan ini mas… karena dimulai dengan pengatar yang sangat menarik. Hanya saja kesalahan penulisan yang banyak muncul disana sini… (inti jadi init, sumbangan jadi sumbangak, trus niali, sanagt… dll) ternyata cukup mengganggu juga.
Tapi saya sendiri juga sering begitu pada saat bersemangat sekali menulis =P mangkanya ada profesi editor ya, untuk membantu kita-kita yang bersemangat ini… hehehehe. Salam
August 20th, 2007 at 12:49 pm
oh ya makasih ya, banyak tulisan salah ternyata..
tapi jangan panggil saya mas ya, krn saya perempuan..:D
August 21st, 2007 at 9:51 am
hehehe… wah sory ya mbak, habis selama ini sya yang saya kenal biasanya syamsul…syamsudin… hehehe
Mbak sya waktu membuat tulisan seperti ini apakah, melalui proses mengumpulkan data (via browsing, buku dan lainnya?) berdasarkan ingatan semata..
terus terang saya agak bingung, kalau kita mengambil informasi dari buku, atau browsing apakah wajib kita cantumkan judul buku tersebut (seperti kalau lagi nulis skripsi). Tapi kalau data yang kita cantumkan banyak kok judul buku nya jadi banyak ya… rasanya jadi kurang enak dibaca. Hehehe jadi bingung kan
August 22nd, 2007 at 6:23 pm
Assalamu’alaikum Sya,
Pak Jauhari ini mengingatkan saya pada penjual koran dan majalah di kantor saya dulu di Kramat Raya Salemba, boleh minjem baca tabloidnya karena kita enggak beli. Tapi kalau ada uang beli majalah, kasihan kalau dipenjem terus.
jadi kangen nih sama Bapak itu, memang di dunia ini masih banyak kok orang yang baik dan tidak sombong.
Bagus ceritanya.
September 7th, 2007 at 7:25 am
sya apa dirimu teman Bunda Indarwati Harsono yang di kabinet SK?