LIKE A DUCK TALKS TO A CHICKEN
Boleh percaya atau tidak, saat reunifikasi Hongkong kembali menjadi bagian Republik Rakyat China pada tahun 1997, kalimat Like a Duck Talks to a Chicken bisa jadi mewakili situasi masyarakat yang terjadi di sana saat itu.
Loh kok bisa?
Well, penyebab utamanya adalah adanya perbedaan dialek bahasa yang digunakan di Hongkong dan di China daratan- sebutan untuk Negara RRC-. Di Hongkong, mayoritas masyarakatnya menggunakan Bahasa China dengan dialek Kanton, sementara di China daratan, masyarakatnya yang terdiri dari berbagai suku, berbicara dalam berbagai dialek seperti Hokkien, Gan, Min, Ke dan lainnya. Makanya tak heran, ketika orang-orang dari dua daratan tapi satu negara ini bertemu, mereka seperti bebek berbicara dengan ayam alias nggak nyambung. Lalu apa yang membuat mereka tetap bisa berkomunikasi? Mereka berkomunikasi melalui tulisan.
Nah, kalau masih bingung kenapa orang suka menyebut Bahasa China dengan Bahasa Mandarin atau dengan istilah lainnya, ada sedikit bahasan mengenai hal tersebut. Ok,check this out! Seperti halnya Indonesia, penduduk RRC- yang merupakan negara terluas di dunia, terdiri dari berbagai suku bangsa. Setiap suku bangsa mempunyai bahasa dengan dialek yang berbeda-beda pula. Bahasa Mandarin atau biasa oleh penduduk RRC disebut Putonghua, merupakan bahasa nasional yang dipakai dihampir seluruh wilayah RRC. Bahasa Mandarin juga merupakan bahasa resmi yang digunakan di Taiwan dan Singapura. Selain Bahasa Mandarin, di RRC juga terdapat dialek lain, yaitu antara lain dialek Kanton (dipakai di Hongkong), dialek Hokkien, dialek Gan, dialek Min dan masih banyak lagi Walaupun dialeknya berbeda-beda, semuanya tetap bisa saling berkomunikasi, yaitu melalui tulisan, sebab semua dialek tersebut mempunyai cara penulisan karakter/huruf yang sama. Itulah sebabnya jika kita menonton siaran TV kabel dari Taiwan, RRC atau Singapura yang berbahasa China, di setiap programnya baik itu berita, olahraga ataupun hiburan, pastilah dilengkapi dengan teks berupa karakter/huruf dari apa yang sedang dibicarakan dalam program acara tersebut. Gunanya adalah agar semua orang, walaupun berasal dari daerah yang dialek bahasanya berbeda, masih tetap bisa menikmati program acara itu melalui tulisan yang tertera. Adanya berbagai dialek dalam Bahasa China ini, memungkinkan seseorang bisa mempunyai tiga sampai empat nama sekaligus. Contohnya adalah seseorang yang bermarga Wu (Bahasa Mandarin atau putonghua)- sebut saja misalnya bernama Daniel Wu, di Hongkong, yang masyarakatnya menggunakan dialek Kanton, ia akan dipanggil Daniel Ng, sementara bagi mereka yang menggunakan dialek Hokkien, mereka akan memanggilnya dengan sebutan Daniel Goh. Jadi, satu tulisan akan dilafalkan berbeda dalam berbagai dialek.
Bisa dibilang tulisan China -disebut Hanzi- merupakan akar dari beberapa bahasa negara Asia Timur lainnya seperti Jepang dan Korea. Karakter Hanzi sampai sekarang masih digunakan dalam tulisan Bahasa Jepang atau biasa disebut Huruf Kanji. Ada beberapa kata dalam Bahasa Jepang yang hurufnya diambil dari Bahasa China dengan pelafalan yang mirip.
Contohnya pada kata Ramen (mie ramen). Kata ramen ini dalam Bahasa Mandarin dilafalkan sebagai La Mian (dibaca la mien). Sebenarnya Bangsa China sendiri kurang suka disebut dengan kata China. Sebab kata China berasal dari Bahasa Inggris berarti bahan pembuat porselen atau keramik. Kata China muncul dari Bangsa Eropa yang mendatangi Negara Tirai Bambu itu yang dahulu terkenal sebagai penghasil porselen. Bangsa China lebih senang Negara mereka disebut Zhong Guo atau Tiongkok
Nah, kalau di Indonesia sendiri, Bahasa Mandarin sedikit banyak turut mewarnai perbendaharaan kata dalam bahasa daerah di Indonesia. Contoh yang mudah adalah kata engkong dalam Bahasa Betawi yang berarti kakek, berasal dari Bahasa Mandarin gong gong (dibaca kung kung) yang berarti kakek. Atau kata entong , yang berarti anak laki-laki dalam Bahasa Betawi juga berasal dari Bahasa Mandarin er tong (dibaca ertung) yang berarti anak laki-laki.
Nama Kota Tangerang, Banten, diyakini juga berasal dari Bahasa Mandarin, yaitu dari kata Tang Ren yang berarti Orang Tang. Dikisahkan bahwa pada jaman dahulu, orang-orang China yang pertama datang ke daerah Tangerang adalah orang China pada Masa Dinasti Tang.
Karakter (zi)
Bahasa Mandarin tidak dapat ditulis dengan menggunakan alfabet ponetik seperti yang biasa digunakan oleh bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Mandarin ditulis dalam bentuk karakter. Satu kata bisa terbentuk dari beberapa karakter. Berbagai cara telah ditemukan untuk menuliskan bunyi karakter Bahasa Mandarin tadi secara alfabet atau ke dalam huruf latin (atau biasa disebut romanisasi). Bentuk standar yang digunakan saat ini dikenal sebagai pinyin (dieja menurut yang tertulis). Dengan adanya sistem pinyin ini, maka orang yang ingin belajar bisa dengan mudah membaca/melafalkan karakter dari Bahasa Mandarin. Dalam Bahasa Mandarin, saat ini terdapat dua bentuk cara penulisan karakter, yaitu penulisan dengan tulisan lama (traditional), dimana penulisan karakternya masih dengan guratan yang lengkap, dan satu lagi yaitu bentuk tulisan yang sudah disederhanakan (simplified) yaitu tulisan dengan karakter yang penulisan guratannya sudah disederhanakan. Bentuk penyederhanaan karakter ini, dirasakan oleh Pemerintah RRC merupakan suatu keharusan untuk menarik minat orang mempelajari bahasa yang merupakan salah satu bahasa tersulit di dunia. Namun demikian, di beberapa daerah, seperti di Taiwan, penggunaan penulisan karakter dengan tulisan tradisional yang rumit masih tetap dipertahankan hingga kini di sekolah-sekolah.Pelafalan karakter Hanzi yang terbilang sulit, sangat disadari oleh masyarakat dan pemerintah China. Untuk itulah, demi mempermudah penyebutan nama, masyarakat China kini telah membiasakan diri untuk mempunyai nama barat atau English Name selain nama asli mereka.Mungkin kita tidak kenal dengan nama Li Jun Jie, tapi jika disebutkan English Name-nya yaitu Jet Li, semua orang pasti tahu. Proses pembuatan English Name ini bermacam-macam, bisa berasal dari pelafalan nama Mandarin mereka sendiri seperti nama Penny Dai yang berasal dari nama Mandarin-nya yaitu Dai Pei Ni atau dari arti nama Mandarin mereka. Contohnya nama Blue Lan- Lan artinya biru- yang nama aslinya Lan Zhe Zhong.
Intonasi (sheng)
Bahasa Mandarin adalah bahasa dengan intonasi. Setiap karakter dalam Bahasa Mandarin memiliki intonasi tersendiri. Bahasa Mandarin memiliki empat intonasi yang berbeda ditambah dengan satu intonasi yang netral. Keempat intonasi ini terdiri dari intonasi pertama, dibaca dengan nada tinggi rata (—-), intonasi kedua dibaca dengan nada naik ( / ). Selanjutnya intonasi ketiga dibaca dengan nada turun-naik (V) dan intonasi keempat dibaca dengan nada turun ( \ ). Intonasi ini penting artinya sebab mempengaruhi arti dari suatu karakter, walaupun, misalnya, karakter-karakter tersebut jika dilafalkan (dalam huruf latin) bunyinya sama. Sekedar informasi, Bahasa Mandarin yang hanya mempunyai 5 intonasi saja sudah sangat sulit, coba bayangkan dengan dialek Kanton yang mempunyai 9 intonasi!
Belajar Bahasa Mandarin memang susah-susah gampang, bahkan bagi sebagian orang merupakan suatu perjuangan berat. Karena diperlukan usaha dan niat yang kuat untuk mempelajari cara penulisan karakter, cara membaca, menghafal karakter dan menghafal intonasi. Tapi tetap saja belajar bahasa asing, dalam hal ini Bahasa Mandarin adalah sesuatu yang menyenangkan. Dengan mengetahui bahasanya kita akan mengetahui adat istiadat, kebudayaan, cara hidup dan kebiasaan masyarakatnya. Setelah kita belajar Bahasa Mandarin niscaya kita akan mengerti mengapa orang Tionghoa jika berbicara terdengar cepat dan ramai. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh The Wellcome Trust Research Charity di Inggris yang dipublikasikan pada bulan Juli 2003 lalu menyebutkan “ More brain power needed for Mandarin than English”. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa pengguna Bahasa Mandarin menggunakan otak kanan dan kirinya untuk bisa berkomunikasi, sementara pengguna Bahasa Inggris hanya memerlukan otak kirinya saja. Otak kanan dan kiri pada pengguna Bahasa Mandarin bekerja terkait adanya intonasi dari setiap kata yang diucapkan yang menyangkut arti dari kata-kata yang diucapkan tersebut.Apakah sekarang jadi tambah pusing atau tambah penasaran? TIPS Belajar Bahasa Mandarin1. Melalui Lembaga KursusJika memutuskan untuk belajar pada lembaga pendidikan, pastikan program yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan Anda. Untuk kelas percakapan, biasanya murid diharuskan mempunyai pengetahuan dasar Bahasa Mandarin. Sedangkan untuk kelas terpadu biasanya untuk pemula, yang mengajarkan cara penulisan (pastikan juga penulisan yang diajarkan lengkap yaitu karakter dan pinyinnya) dan cara membaca. Jangan terpengaruh dengan iming-iming adanya native speaker, siapa tahu native speaker-nya benar-benar native alias yang tidak mengerti Bahasa Indonesia atau Inggris sama sekali, yang ada kita malah pusing tidak mengerti apa yang dijelaskan. Di beberapa lembaga penyelenggara kursus Bahasa Mandarin sudah ada yang menyediakan trial class dimana kita bisa ikut belajar di kelas terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk ikut kursus di lembaga tersebut
2. Berlatih dan berlatih.Banyak cara yang bisa dilakukan. Bisa dengan cara menonton tayangan-tayangan berbahasa Mandarin seperti film atau mendengarkan lagu-lagu dan siaran radio berbahasa Mandarin untuk melatih pendengaran. Khusus untuk mendengarkan lagu Mandarin jika ingin membeli kaset atau CD-nya, usahakan membeli album lagu yang asli, dan kalau bisa, diproduksi oleh negara asalnya, sebab biasanya yang diproduksi di Indonesia tidak dilengkapi oleh teks lagu dalam karakter Hanzi, tapi sudah ditulis dalam tulisan latin yang sekenanya saja. Biar mahal sedikit yang penting bisa belajar melafalkan sambil menghafalkan tulisannya. Bagi yang berniat jalan-jalan sambil belajar percakapan dengan orang-orang di daerah pecinan seperti Glodok dan Pasar Baru (Jakarta), jangan lupa pastikan bahwa orang yang akan kita ajak bicara itu mengerti bahasa Mandarin, sebab masih banyak Huaren (sebutan untuk warga keturunan Tionghoa) di Indonesia yang berbicara dalam dialek daerahnya seperti Kanton dan Hokkien dan tidak mengerti Bahasa Mandarin.
3. Seimbangkan antara latihan berbicara dan menulis.
Belajar bahasa itu merupakan proses bertahap dan terpadu, terlebih belajar Bahasa Mandarin. Biasanya karena terlalu sering praktek secara oral melalui percakapan, kita kadang lupa dan malas untuk belajar cara menuliskan karakter Hanzi-nya. Hasilnya, kita lebih jago berbicara tapi buta huruf.

