LUPA (1)
“Ma… lihat dompetku nggak?” Teriak suamiku dari arah kamar kami. Kuhela nafas panjang… lagi-lagi mas Angga lupa meletakkan dompetnya. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali, dan bukan hanya dompet, tapi juga kacamata, kunci motor, handphone, jaket, majalah… dan entah apalagi. Huuh… kata siapa hanya orang tua saja yang gampang lupa, suamiku yang masih 30 tahun, dengan postur yang tegap dan gagah (juga wajah cukup tampan sehingga membuatku jatuh cinta) sedikit-sedikit… ada saja yang kelupaan.
Dan Tuhan memang Maha Adil. Untuk suamiku yang ceroboh dan mudah lupa dipasangkanlah dengan aku, Miss primpen* nan rapi (julukan sayang Mas Angga untukku) sebagai istrinya. Kadang aku juga merasa takjub dengan keahlian ini, entah bagaimana tapi aku selalu saja bisa menemukan barang yang lupa diletakkan suamiku. Sementara menurut Mas Angga, justru karena keahlian itulah ia memilihku menjadi istrinya (suamiku itu memang pandai merayu).
Saat pertama mendengarnya sih perasaanku sangat tersanjung, dalam hati aku merasa sudah sukses menjadi perempuan yang teratur dan rapi seperti harapan Ibu. Tapi lama-lama aku jadi kesal sendiri, karena seperti saat ini… sedikit-sedikit mas Angga selalu saja menanyakan letak ini dan itu…, membuatku harus menghentikan apapun yang sedang kulakukan, hanya sekedar untuk menemukan barang-barangnya yang hilang.
“Sudah dicari di meja makan belum mas..?”Tanyaku sambil terus sibuk menyuapi Todi, putra kami satu-satunya yang belum genap dua tahun.
“Sudah, tapi gak ada..”
“Kalau gitu di sofa deket TV mas, kadang kan mas suka naruh kunci disitu”
“Gak ada juga Ma..”
“Di lemari baju gimana?”
“Iya, ini lagi Papa bongkar… ” Waduh, Mas Angga mbongkar lemari? Sudah terbayang pekerjaan besar yang menantiku setelah ini. Apalagi kalau bukan membereskan lemari pakaian kami yang pasti akan sangat berantakan.
“Ma..em..” Todi kecil menarik-narik sendok yang ada di tanganku, membuatku tersadar untuk segera menyuapkan buburnya. Melihat tingkah Todi yang lucu dan menggemaskan itu, membuatku bisa sedikit melupakan rasa kesal pada Mas Angga. Dalam hati tiba-tiba saja aku jadi berdoa, semoga kalau sudah besar nanti Todi nggak ceroboh kaya papanya.
Kadang aku suka mereka-reka, apa ya yang kira-kira menyebabkan suamiku begitu ceroboh dan gampang lupa. Mungkin karena Mas Angga selalu dimanja oleh keluarganya… maklumlah, suamiku adalah anak satu-satunya dari keluarga yang serba berkecukupan. Bisa dibilang sejak kecil selalu ada yang melayani semua kebutuhan Mas Angga. Ini semua jelas berbeda sekali dengan aku, yang anak pertama dari 5 bersaudara, dari kecil Ibu selalu meminta agar aku bisa memberi contoh yang baik pada adik-adikku.
Tapi apa iya penyebabnya itu? Mungkin juga sebenarnya Mas Angga memiliki gen mudah lupa, karena Bapak mertuaku juga persis sama seperti Mas Angga, sedikit..sedikit…lu..pa. (Ini juga berdasarkan bocoran yang aku dapat dari Ibu mertua). Tapi ya sudahlah.. bagaimanapun Mas Angga kini suamiku. Aku mencintai suamiku lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Walaupun.. itu semua tidak menyurutkan hasratku untuk menghilangkan kebiasaannya yang gampang lupa. Karena makin lama, cape rasanya harus terus mencari barang ini dan itu…
“Ma.. di lemari juga nggak ada” Suara Mas Angga terdengar begitu putus asa.Aku sudah bertekad, kali ini tidak akan cepat-cepat turun tangan, aku ingin Mas Angga tau bagaimana repotnya mencari barang hilang. Yah siapa tau saja setelah ini.. Mas Angga akan lebih teliti saat menaruh barang-barangnya.
“Terakhir kali papa ngeluarin dompet kapan?” Tanyaku berusaha membantu Mas Angga mengingat-ingat lagi dimana dompetnya.
“Hm… kapan ya Ma, kayanya terakhir pas mau ngeluarin member card sewa DVD deh” Jawab Mas Angga ragu, sambil mencoba mengingat-ingat.
“Terus setelah itu Papa ngapain?”
“Beli teh botol, tapi nggak pake ngeluarin dompet”
“Trus setelah itu..”
“Pas mbayar parkir juga nggak ngeluarin dompet”
“Yakin Pa?”
“Eh kayanya ngeluarin deh Ma… aduh ngeluarin apa enggak ya?” Mas Angga mulai ragu lagi. Habis ini pasti deh suamiku tercinta itu akan pasang wajah melas* minta dibantuin nyari dompetnya. Dan pasti aku tak kuasa menolak permintaan suamiku itu.
“Gini deh… tadi pas ke supermarket papa pake celana apa, sudah dicari belum di saku-sakunya?”
“Wah mama memang cerdas… Papa kok nggak kepikiran ya nyari di dalam celana tadi. Sebentar ma… papa cari di tempat baju kotor dulu” Seru Mas Angga bersemangat.
Untung aja ada aku, yang sudah ahli dalam hal nyari barang hilang. Tapi tampaknya kali ini aku tidak begitu cerdas, karena tak berapa lama kulihat Mas Angga kembali ke ruang makan dengan wajah lesunya.
“Di celana yang tadi juga nggak ada Mam..”"Mungkin gak ya Pa jatuh di mobil, tadi Papa bawa mobil apa naek motor sih?” Sekarang aku jadi ikutan panik sendiri.
“Naik mobil si… ya sudah biar Papa cari di mobil, kali jatuh di bawah kursi”
“Iya Pa… duh moga-moga ketemu ya” Kulihat Mas Angga bergegas menuju garasi mobil, tapi belum lima menit dia sudah kembali lagi.
“Kenapa Pa… di mobil juga nggak ada?”
“Anu Ma… kunci mobil ditaruh dimana ya?” Grhhh… gemas aku mendengar pertanyaannya. (bersambung)


September 4th, 2007 at 1:40 pm
Mbak Kie, lanjutannya mana?
Abisnya lucu. Kalau aku, kebalikannya, yang jadi isteri yang pelupa… hehehe
September 5th, 2007 at 12:07 pm
Ha.ha…kie memang jago deh buat yang lucu-lucu, kalo menurut Joni Ariadinata ranah sastra kita kurang yang bersifat humor, tapi tujuan humor dari karya sastra itu bukan humor itu sendiri, tapi humor itu merupakan analog untuk menyampaikan suatu maksud, Joni menunjuk karya dari Muhamad Ali dengan judul Peristiwa di Kantor Pos yang bercerita dengan gaya humor (ada gaya sugesti, misteri, humor dll) tapi memiliki misi untuk menyampaikan kejujuran dan korupsi dari bangsa ini. Ada yang dah baca lengkap karya tersebut, cerita dong sama aku. Moga-moga Kie bisa jadi salah satu yang Joni maksud tersebut menghiasi karya sastra kita dengan gaya humor.