Malaikat Beroda Dua
Pagi itu, untuk pertama kalinya aku tidak setuju kepada mendung yang bergelayut. Hati kecilku miris, merasakan bahwa hujan terlalu cepat akan turun ke bumi ini. Betapa tidak, lima belas menit sudah aku menunggu ojek dipersimpangan jalan. Tak satupun yang melintas. Demikian juga orang – orang yang berkendaraan. Sepi. Mungkin mereka menarik pelajaran dari alam ini, pelajaran tentang kewaspadaan yang berbunyi: ”tak baik bepergian ketika hari sudah mendung”.
Hatiku mulai terserang rasa was-was. Sepuluh menit lagi psikotes harus aku ikuti. Tes terakhir yang harus aku tempuh untuk mendapatkan pengakuan sebagai karyawan disalah satu perusahaan konstruksi migas di kota Duri ini. Kakiku mulai terasa kesemutan. Harapanku untuk bisa bekerja terasa semakin tipis. Terlebih, mana kala kulihat jarum jam ditangaku terus saja bergerak. Tak sedetikpun berhenti untuk menghela waktu, memberikan kesempatan kepadaku lebih banyak. Aku takut!. Takut terlambat mengikuti tes kali ini yang memiliki nilai tersendiri dalam hidupku.
Berulang kali kutatap satu – dua pengendara sepeda motor yang melintas. Aku berharap bisa mendapatkan tumpangan menuju tempat dimana aku harus menempuh tes tersebut. Sayang, mereka yang berkendaraan selalu saja membonceng. Sial!, tak satupun yang bisa aku mintai tolong untuk ditumpangi.
Sejenak, aku berfikir jauh tentang masa depanku. Tentang harapan yang aku tambatkan pada hasil akhir dari semua rangkaian tes yang telah aku jalani. Ya, apabila aku berhasil dalam tes terakhir ini, berarti aku akan bisa bekerja. Membantu biaya kehidupan emak yang selama ini hanya mengandalkan berjualan gorengan. Terlintas dalam benakku wajah emak. Giginya satu persatu telah tanggal, pipinya keriput, rambutnya telah memutih. Telapak tangannya kasar, karena sejak sepeninggal abah, beliaulah yang berjuang membiayai kehidupanku. Menyekolahkanku hingga menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah. Hanya berbekal sebuah kuali tua dan alat – alat penggorengan. Emak enggan menyerah!.
Kembali kulirik jam tanganku. Ya, Allah…waktu terus berjalan. Kututup mataku sejenak. Kulantunkan segenap puja – puji yang kurangkai dalam do’a – do’a tulusku.
”Ya, Allah. Berikanlah aku kesempatan untuk bisa membahagiakan emak!. Berilah aku kesempatan untuk sejenak mengistirahatkan emak dari kuali tuanya. Amiin”
Kutatap langit yang menghitam. Mega berarak kelam. Sungguh, kali ini tak lagi kulihat mengerikan. Wajah emak kusaksikan seolah menggantung disana. Tersenyum, dengan senyum khas seorang janda tua penjual gorengan yang tak pernah mengeluh lelah.
”Hayu, Cep!. Hayu…!!. Usaha heula, hasilna teu langkung nu kawasa!” itu kalimat yang biasa emak ucapkan. Kalimat yang paling ampuh dalam mendirikan tiang semangatku selama ini.
“Iya, Mak!” batinku berujar.
Kulirik jam tanganku. Sepuluh menit untuk sekitar delapan kilometer jarak yang harus ku tempuh. Tak mengapa!!. Kubulatkan segenap tekad. Ikhtiar, karena ku yakin emak akan kecewa apabila aku hanya berdiri disini, menunggu tanpa melakukan suatu apapun. Terlambat?. Ah, itu tak usah ku pusingkan….
”Bismillah…Ya, Allah. Mohon beri Cecep pertolongan” kulangkahkan kakiku mantap.
Angin berhembus semakin kencang. Langkahku cepat, mengiring sejumput rasa cemas yang masih tersisa. Belum lagi lima puluh meter jarak kutempuh, dari belakang kudengar sebuah sepeda motor menderu kencang. Melewati diriku yang masih merangkai langkah. Ciitttt…bunyi rem yang dipijak dengan keras hinggap ditelingaku.
Seorang lelaki setengah baya, dengan tas besar dipunggungnya.
“Mau kebawah, Dik?” demikian katanya.
Aku mengangguk.
“Ayo, Dik. Ikut saya saja, hari sebentar lagi hujan” kalimat pertamanya langsung membuat hatiku disusupi kebahagiaan.
”Iya, Pak” aku tak membuang waktu, segera kulabuhkan diriku di jok sepeda motornya.
Brummm…..kencang sepeda motor ia pacu. Tak sepatah katapun ia ucapkan kepadaku. Hingga kami berada didepan kantor yang aku tuju.
”Disini saja, Pak. Saya mau kekantor itu” nada suaraku sengaja kutinggikan, karena takut ia tak mendengarnya.
”Iya” demikian ia menjawab, kepalanya mengangguk. Kakinya kokoh menginjak pedal rem.
”Terima kasih, Pak”
”Sama – sama” kata lelaki itu.
Tak ada percakapan diantara kami. Bapak itu, seorang lelaki terburu – buru sepertiku. Mengejar waktu, menyiasati keterbatasan untuk sesuatu hal yang sangat berarti bagi hidupnya, sama sepertiku. Mungkin!.
***
Lima tahun sudah kejadian itu berlalu. Kini, aku telah bekerja diperusahaan tempat aku melamar dulu. Setahun sudah emak berhenti dari berjualan gorengan. Dalam kesehariannya, emak kini menyibukkan diri belajar mengaji bersama para tetangga sekitar rumah kami. Aku merasakan kebanggan dimatanya. Kebanggaan atas diriku, anak semata wayang seorang janda yang tak kenal kata menyerah.
Namun, jauh didasar hatiku. Selain rasa syukurku kepada Sang Pencipta, selain rasa terima kasihku kepada emak, aku masih menyimpan ungkapan terima kasih yang belum cukup aku katakan. Ungkapan terima kasih untuknya, untuk dia, seorang lelaki terburu – buru yang telah memboncengku. Seorang lelaki yang tak ku kenal. Seorang lelaki, yang mendapat gelar dalam hatiku: Malaikat beroda dua!. (*)


September 2nd, 2008 at 7:25 pm
Ceritanya enak dibaca.
… Usaha heula, hasilna teu langkung nu kawasa! Mungkin dikasih versi terjemahan bahasa indonesianya ya.. biar lebih afdol gitu..
September 3rd, 2008 at 9:05 am
wah……bagus bngt tulisannya…kusampai mnitikan air mata…jd trigt ma emak jg.
September 3rd, 2008 at 9:51 am
ya, sal kadang suka nawarin diri untuk ngeboncengin. hanya saja untuk cewek. klo cowok, jalan aja deh. kan punya kaki. he..he..he.. becanda.
sip, misi cerita yang hendak disampaikan tercapai.
September 3rd, 2008 at 12:57 pm
Dear Eko,
bagus ya penggarapannya… judulnya juga oke. Kurangnya saya nggak ngerti bahasa Sunda, cuman samar2… jadi plis kasih terjemahan Indonesia or Inggris ya….
Kinoysan
September 6th, 2008 at 7:32 am
Waduh…mohon maaf, semuanya
karena saya tidak mencantumkan terjemahannya. Baiklah, saya susulkan dibawah ini ya :
*”Hayu, Cep!. Hayu…!!. Usaha heula, hasilna teu langkung nu kawasa! ( Ayo, Cep!!. Berusaha dulu, hasilnya terserah Yang Maha Kuasa!. )
Segitu dulu ya….
Mbak Kinoysan, afwan, basa inggeris saya jeblok, jadi tidak bisa di post disini…hikss…
Salam buat semuanya.
Eko “Kang Cecep” Wahyudi
September 6th, 2008 at 12:28 pm
Halo!
Ceritanya sudah mengalir dengan baik! Oooh, rupanya itu toh terjemahannya.
Ngomong-ngomong, berkat judulnya, alur cerita sudah tertebak dari awal lho..
September 8th, 2008 at 10:51 am
Halo juga Mbak Sunlita
Iya, Mbak. Saya to the point aja, maklum namanya juga baru belajar menulis.
@all
Mohon Kritik dan saran untuk tulisan saya yang lain.