matahari dinihari
“Ngapain sih lu di sini? Gangguin gue aja! Emangnya lu gak bisa liat kalo gue lagi berjemur? Minggir dong! Mataharinya nanti ketutupan!”
Salah seorang satpam yang melihat saya sedang mengintip dari balik gordyn menganggukkan kepala.
“Ini ada orang gila, Bu. Kami tidak tahu bagaimana ia bisa ada disini. Sudah sekitar lima belas menit kami membujuknya supaya mau diajak keluar kompleks. Kalau dipaksa kami takut ia akan berteriak-teriak membangunkan seisi kompleks.”
Saya menganggukkan kepala tanda menyimak dan mengerti. Suara percakapan mereka telah menginterupsi tidur saya pada pukul dua dinihari. Diujung carport terlihat seorang perempuan yang tak lagi muda berbaring berbantalkan lengan. Rambutnya yang sudah dua warna tampak kusut dan acak-acakan. Di dekatnya tergeletak buntalan kain. Tak diacuhkannya dingin yang menusuk kulit.
“Pindah yuk..”, ajak si satpam, untuk kesekian kalinya masih berusaha membujuk.
“Ngapain sih dari tadi ngedeketin gue? Ooo.. gue tau.. lu pasti mau merayu gue kan? Ngaku deh… lu pasti naksir gue, soalnya gue kan cantik.”
Kedua satpam itu berpandangan sebelum keduanya tertawa-tawa tertahan. Setelah berunding beberapa saat, salah seorang menghubungi komandan jaga melalui HT.
“Bagaimana nih, Pak? Dari tadi masih belum mau diajak pindah,” lapornya pada sang komandan yang baru tiba di TKP. Mereka bertiga tampak berfikir.
“Ikut gue yuukk..,” ajak sang komandan pada perempuan yang masih tampak asyik ‘berjemur’.
“Mau kemana sih? Gue kan lagi berjemur.”
“Enakan juga di sebelah sana. Disana mataharinya lebih panas daripada disini. Pokoknya kalau berjemur di sana itu kulit lu bakalan lebih coklat deh.”
“Masa’ sih? Wahh… tambah cantik dong..”
“Iya, makanya ikut gue aja kesana.”
Perempuan itu langsung bangkit dari posisi berbaringnya. Dengan membawa buntalan kain miliknya ia berjalan mengikuti sang komandan jaga sambil terus berceloteh tentang lokasi-lokasi yang enak untuk berjemur.
Mudah saja ternyata. Bila kita ingin kata-kata kita dimengerti oleh lawan bicara kita, tempatkanlah diri kita pada ‘level’ dan ‘dunia’ yang sama.


July 18th, 2008 at 10:48 am
belum tentu juga. coba lita mengikuti level dan dunia sal, bisa jadi malah lita yang hanyut oleh pesona sal.
untungnya lagi, orang gila itu bukan sal. bisa aja sal bilang “wah, komandan gila nih. mana mungkin malam-malam begini ada matahari”
btw. salut, cerita ini sangat mengena. mudah dicerna.
July 18th, 2008 at 1:10 pm
Kaya’nya harus siap-siap pelampung nih supaya gak hanyut oleh pesona sal
Thanks buat komentarnya, ditunggu posting-nya.. (kaya’nya Sal udah lama gak posting tulisan)
July 18th, 2008 at 4:33 pm
sory, memang dah lama sal gak posting disini. jumpa fan’s begitu padet. jadi mesti antre, nunggu giliran.
belum lagi, sinetron kejar tayang yang mesti diuber.
tahu kan, sinetron dengan episode tak terhingga yang sedang sal bintangi?
itu tuch, pesona pulau kapuk. alias, tidur he..he..he..
July 19th, 2008 at 2:09 pm
Wuakakakakakakakakakakakakakakakak… Dasar Sal! Ati-ati lhoo, nanti dikira sama seperti wanita dalam cerita itu..
Bahaya kaannn… 
July 19th, 2008 at 5:41 pm
Mbak lita, gimana sih bisa bikin cerita jadi menarik dari sebuah kejadian yang biasa saja.
Meskipun awalnya pada alinea 1 dampai awal alinea 3 aku baca dua kali. Aku fikir lokasinya memang dipantai, eh tahunya…
Hebat euy.
Salam
Lia
August 6th, 2008 at 9:06 pm
Orang gila kok ditanggepin.
Pemikiran dalam penulisan ini nggak logis, yang bisa diajak dengan pengertian “Mudah saja ternyata. Bila kita ingin kata-kata kita dimengerti oleh lawan bicara kita, tempatkanlah diri kita pada ‘level’ dan ‘dunia’ yang sama.” kalau orangnya waras.
Mesti cek lagi data2 valid dan definisi orang gila.