Melahirkan tak kenal MENOPAUSE
Jangan sia-siakan mata anda dengan melihat tulisan ini, kecuali untuk berbagi motivasi!
DILARANG membaca, KECUALI untuk mengomentari.
Komentar untuk para komentator atas tulisan Hery Ispriyahadi dengan judul “pintar itu berbahaya”
Mantab! Applause meriah untuk sunlita citra.
Kania, anaknya udah 4 tahun toch? Anak yang pertama umur berapa? Boleh besanan sama saya dong, anak penulis ketemu anak penulis, tentu cucunya nanti biangnya bikin tulisan, he..he..he..he.. Salam buat anaknya mertua ya. (just joke)
Ahli kandungan tidak akan pernah merasakan nikmat (kesulitan) melahirkan sebelum ia sendiri mengalami. Tapi, ia tahu seluk beluk kelahiran. Bagaimana process kelahiran yang sehat. Bagaimana cara merawat kandungan agar posisi janin lebih tepat sehingga mudah saat lahir nanti. Apa saja indikator kehamilan yang sehat, dst, dst. Bahkan, kapan saatnya sebuah kelahiran harus dioperasi cesarpun, dari mulai konsisi kesehatan dan psikis pasien, sang ahli ini tahu persis. Accountabilitynya tak diragukan lagi.
Dokter inipun sangat lihai dan terperinci dalam memberikan wejangan, dorongan, kritikan, larangan, sangat mengena. Segala teori dan pelajaran kebidanan telah ia lahab jauh hari sebelumnya. Itulah sebabnya, sang ahli inipun sangat mengerti apa yang harus dikatakan untuk memotivasi serorang ibu yang hendak melahirkan putera-puterinya agar selalu happy, bahagia dan rilex dalam menyambut ritual “adu nyawa” melahirkan. Salut untuk sang dokter. Mulialah hatimu, mulialah hidupmu. Semoga tak terjebak pada alunan gemerincing koin rupiah masuk ke pundi-pundimu.
Lain Dokter kandungan, lain pula dengan Sunlita Citra. Tapi, ketajaman insting “membedah” dari keduanya sama-sama paten. Pisau apa mau dipakai, garpu tala, pembebat luka, sampai metode pembedahan. Kata-kata apa yang hendak dirangkai untuk menggulirkan kritikan berbagi wawasan. Tentunya dalam bidang masing-masing. Dokter kandungan membedah seluk-beluk ibu hamil agar sukses melahirkan anaknya, sementara Sunlita Citra ahli bedah artikel (tulisan) dari para rekan di blogbelajarmenulis untuk segera melarikan karya-karyanya. Artikel, essay, cerpen, novel, dlsb.
Perlu diingat, batasan dari Pak Harto (mantan presiden) dua anak cukup! Khusus untuk karya tulis, silahkan bersalin sebanyak-banyaknya. Anti masa subur. Tak mengenal menopause! Semakin sering melahirkan makin sehat. Hajar terus sampai nafas penghabisan. Bravo untuk Kania, Heri Ispiyahadi, Sunlita Citra. Semuanya! ( mau diabsen satu persatu, ndak tahu nama-namanya)
Ayo Sunlita Citra, tajamkan pena seluruh rekan SMO dengan pisau bedahmu. Ramaikan blog ini dengan celoteh-celoteh tajam kalian. Komentar tidak harus bermutu tinggi, sesuatikan dengan gaya bicara sendiri, tak perlu banyak polesan sana sini, yang penting tulis komen. Maka anda telah memberikan kebahagiaan tersendiri bagi penulisnya.
Kania sehabis melahirkan disambangi kerabat maupun teman, sekedar memberikan salam “selamat” sampai membawa buah tangan. Seneng kan? Begitu pula kalau ada yang nulis diblog, trus disambangi. Jadi merasa punya saudara gitu loh.
Saya setuju kalau Sunlita Citra mendapat wewenang untuk mempercantik lay out blog ini. Gimana rekan’s ? rame-rame yuk, Usul ke Bung Jonru.
Mari bikin tonggak sejarah, SMO angkatan 3 is the best! Caranya? Saling support dan saling berbagi. Saling kritik dan saling bedah. Kalau perlu bukan hanya karya saja yg dibedah, sampai otak (pemikiran) dan hati (empati) juga saling mengenali.


June 11th, 2008 at 1:20 pm
Wah.. Nama saya dibawa-bawa..
Sebuah komentar memang tidak memiliki batasan kualitas, referensi, diksi, atau batasan panjang komentar itu sendiri. “Polesan”, ketulusan, dan hal lainnya dapat terasa sebagai pelengkap dari sebuah komentar. Meskipun setiap unsur yang diikutsertakan dalam sebuah komentar tergantung dari maksud dan tujuan, saya selalu beranggapan bahwa: tidak ada salahnya mengikuti kaidah / pembelajaran yang telah didapat, bukan? Salah satunya adalah materi resensi yang telah diberikan Pak Jonru beberapa waktu lalu, dan saya coba untuk menerapkannya dalam komentar saya pada salah satu karya Pak Heri (setelah mendapat izin dari Pak Heri sendiri tentunya).
Menanggapi salah satu alinea Pak Salwangga, lay out apakah yang dimaksud? Bukankah tampilan fisik di blog ini dapat diatur sesuai dengan keinginan penulis, juga mengenal kode HTML? Jika hal non-fisik yang dimaksud (seperti struktur, tata bahasa, dan lain sebagainya), saya pikir kurang bijaksana karena setiap penulis memiliki ciri khas / gaya bahasanya masing-masing. Sungguh sangat sayang apabila harus dihilangkan atau diubah. Selain itu, bukankah SMO adalah salah satu wadah untuk belajar? Kita sama-sama belajar lho Pak..
Mengenai perihal tulisan ini sendiri. Saya setuju dengan pendapat Pak Salwangga bahwa seorang dokter kandungan yang tahu tentang segala seluk beluk mengandung belum tentu mampu melahirkan dengan lancar, atau mengenal nikmatnya melahirkan, sebelum mengalaminya sendiri. Bila hal ini dikaitkan dengan komentator, maka setiap dari kita tentu mengetahui penyebab mengapa seorang komentator melihat dari kaca mata seorang pembaca. Ya, karena sang komentator sendiri belum tentu bisa menuliskan tulisan yang lebih baik daripada tulisan yang ia kritisi. Maka sebagai seorang pembaca, sang komentator mampu menuangkan pemikirannya (tanpa beban) terhadap sang penulis. Bukankah seorang penulis mengharapkan komentar yang jujur dan objektif terhadap karyanya?
Akhir kata, mari berkarya, berkomentar, dan mengapresiasi. Banyak hal yang dapat kita pelajari dari karya orang lain, sebab setiap pemikiran yang berbeda menimbulkan tanggapan yang berbeda pula. Jika ada kata-kata yang sekiranya kurang berkenan, mohon maafkanlah dengan segenap hati.
Salam.
June 11th, 2008 at 1:24 pm
Catatan tambahan: (maklum kadang pelupa) pada alinea kedua, ada kata “diubah”. Artinya dihilangkan atau diubah oleh orang lain. Saya berpendapat bahwa seseorang yang paling tepat untuk mengubah karyanya adalah dirinya sendiri sehingga gaya bahasa yang merupakan ciri khasnya tidak hilang dan perbaikan menuju karya yang lebih baik pun terjadi. Thanks.