Memperkosakata Ketulusan Jiwa
Terkadang kita merasa begitu kewalahan dengan rekan kerja yang tidak sepaham dengan pemikiran dan prinsip yang telah menjadi pedoman hidup kita selama bertahun-tahun. Keyakinan, adalah sebuah hal yang sulit dirubah dan fakta logika tidak mampu berbuat banyak. Bagi panitia Perkosakata 2008, perbedaan keyakinan terbukti tidak mempengaruhi kinerja mereka. Masing-masing menyampingkan keyakinan pribadi, digantikan dengan keyakinan bersama sebagai sebuah kesatuan: satu tujuan, satu keyakinan.
Saya merasa malu, disuguhkan kerja sama dan tali persaudaraan yang begitu erat dari sekelompok orang yang bahkan tidak memiliki hubungan keluarga sama sekali. Setiap dari mereka mampu mengambil secuil waktu dari rutinitas yang padat, bekerja keras tanpa mengenal istirahat, hanya demi tercapainya kesatuan sebuah komunitas penulis Kemudian.com dengan Rizqi dan Tiva sebagai pendiri sekaligus pemiliknya.
Saya mengibaratkan panitia sebagai seorang penggembala. Sementara para anggota lain kenyang menyantap ilmu, panitia harus tetap bekerja keras memikirkan kelangsungan sesi berikutnya. Tidak peduli apakah pada akhirnya mereka dapat meraup ilmu dari tokoh-tokoh pembicara atau tidak, setiap anggota panitia tetap pada posisinya masing-masing hingga acara berakhir pada pukul 16.00. Saya melihat profesionalitas kerja sejak pertama kali melangkahkan kaki menuju meja penerima tamu di Perpumda DKI Jakarta pada tanggal 6 April 2008 pukul 08.00 pagi.
Sementara sang ibu terbaring di rumah sakit, seorang Mirza tidak meninggalkan posisinya. Sementara ada acara lain yang penting dan akbar menunggu, Sefryana tetap membawakan sesi diskusi novel dengan tenang. Dan sementara Windry diserang radang tenggorokan dari saat persiapan acara, ia tetap memandu kawan-kawan yang lain dalam menjalankan tugas serta memberikan sebuah kata sambutan yang begitu hangat pada bagian pembukaan acara.
Sungguh, jika Anda berada di sana, Anda akan melihat ketulusan jiwa memancar begitu mempesona.


June 30th, 2008 at 9:11 am
wah, pesan yang hendak disampaikan belum kena dech. masih kurang bisa mengaduk emosi pembaca.
perhatikan kalimat terakhir “Sungguh, jika Anda berada di sana, Anda akan melihat ketulusan jiwa memancar begitu mempesona”. tanpa ditulis pun, kalau memang paragraf diatasnya sudah menyentuh. pasti pembaca akan merasakannya.
kayaknya suasanya hati lagi kurang enak nich saat nulis ini. sorry ya, klo aku sok tahu he..he.he….
June 30th, 2008 at 3:16 pm
he eh.. mungkin karena dikejar deadline pengumpulan peer yaa…
betul itu, seorang teman pernah berkata, show-not-tell.. kayaknya bagian show-nya di sini agak kurang.. ^^