Menanti Putaran
Aku berputar tanpa henti. Senang melihat orang senang. Gembira melihat mereka gembira. Bahagia bila aku bisa memberikan manfaat untuk mereka.
Sudah lama aku hidup disini. Terhitung belasan tahun. Tidak di satu tempat. Setidaknya di rumah ini, aku berpindah-pindah. Sesekali aku disana, di kamar itu aku bergerak dan berputar. Terkadang di kamar itu aku menenangkan mereka. Kira-kira sudah enam bulan aku berdiam disini. Nampaknya tempat ini adalah tempat tetapku. Setiap kali aku berpindah, tak lama akan kembali dititik ini. Disini, ditempatku kini bediri.
Aaaaarrrrgggg…”
“Hihihi… hihihi… hihihi…”
“Aaaaarrrrgggg…”
“Hahaha… hahaha… hahaha…”
Suara anak kecil itu. Sambil membuka mulutnya dan mengeluarkan bunyi “A” panjang, ia berdiri di depanku. Sesekali ia tertawa, lucu sekali. Setelah tertawa ia kembali mengeluarkan bunyi “A” panjangnya.
Anak kecil ini keponakan pemilik rumah tempatku tinggal. Ia tidak tinggal disini, tapi setiap hari Sabtu-Minggu pasti datang ke rumah ini. Usianya baru dua tahun, sedang lucu-lucunya. Setiap kali datang kerumah ini dia tak pernah lupa menghampiriku. Katanya, dia senang melihatku berputar. “Wusss…. wussss…,” begitu dia ucapkan setiap melihat aku berputar. Terkadang dia pun ikut berputar, sambil tertawa senang.
***
“Lho, kok mati?”
“Bukan mati, tapi harus menunggu dulu beberapa saat.”
Sudah beberapa hari ini aku kesulitan memutar tubuhku. Rasanya berat sekali untuk memulai. Aku sedih melihat mereka harus menungguku berputar. Walaupun sudah kuusahakan sekuat tenaga, tetap saja sulit untuk memulai. “Aaaaggghhh,” usahaku sekuat tenaga untuk berputar. “Uuuuggghhh,” terus berusaha! Kuulang-ulang terus usahaku. Mereka menungguku beraksi. Aku harus berhasil! Aku menyemangati diriku sendiri. “Ayo… ayo…, aku harus bisa!”
“Asyik, sudah bergerak sempurna,” kata mereka yang menungguku.
Tidak cuma satu orang yang menunggu. Melainkan seisi rumah menantikan aksiku. Jelas, aku merasa malu kalau tidak berhasil menyenangkan mereka. Mereka sudah berharap besar agar aku bisa menyegarkan suasana. Jika aku gagal, berarti harapan yang diberikan kepadaku sia-sia. Aku tidak mau mengecewakan harapan mereka.
Tapi, si kecil itu tak mau lagi bermain denganku. Ia tidak sabar menungguku berputar.
***
“Apanya ya yang rusak?” Ujar adik sepupu pemilik rumah ini, sedikit bergumam.
Aku dipencet-pencet. Dipijit-pijit. Dari bagian atas, tengah, rangkaku, hingga bawah. Dia serius memperhatikanku. Sesekali aku dibiarkan berputar, lalu dia menghentikan. Kecepatan putaranku dinaikkan, diturunkan, lalu kembali dihentikan.
Dia memang suka mengutak-atik sejenisku. Tak hanya peralatan listrik dirumah ini, motor ataupun mobil sering diutak-atik olehnya. Kata pemilik rumah, adiknya ini bertangan dingin. Apapun yang disentuhnya akan jadi. Dialah yang membuat halaman di rumah ini menjadi sejuk, karena ditanami berbagai tumbuhan. Beberapa tanaman kebutuhan dapur juga ia tanam seperti tomat, jahe, cabai, dan lengkuas. Beberapa sayuran dan buah-buahan juga ada. Walaupun halaman rumah ini tak luas, tapi dia mampu memaksimalkannya. Jika ada tetangga yang lewat, mereka pasti iri melihat halaman rumah ini.
Ah, sekarang dia buka bagian atasku!
Hmm, rasanya segar.
Hei, satu bagian lagi dia lepas!
Dia lalu menuju sambungan antara bagian atasku dengan penyanggaku. Pelan-pelan sambungan itu diputar.
“Apanya dik yang rusak?” Aku hanya bisa mendengar sayup-sayup sang pemilik rumah bertanya.
“Belum ketahuan mas, mau kulepas dulu supaya gampang.”
Perlahan-lahan pendengaranku mulai tidak jelas lagi. Hanya terdengar sayup-sayup suara disekitarku. Pandanganku pun tak lagi jernih. Yang tampak hanya samar-samar. Aku mulai lemas, tak ada daya lagi.
***
“Aggghhh…, hmmmhh…”
Aku merasa punya sedikit tenaga. Nampak adik pemilik rumah memegangku.
“Hei, yang dia pegang cuma bagian atasku!”
“Baling-balingku di sebelahnya! Dia melepas baling-balingku!”
“Tutupku pun tidak ada!”
“Dinamonya kotor mas, juga sudah seret. Perlu dikasih oli baru.” Kata dia yang membuka tubuhku.
“Dibersihkan sekalian aja dik.”
“Iya, nanti. Ini dibetulin dulu supaya berputar bagus lagi.”
Ah, tenagaku hilang lagi.
***
Woala!! Badanku segar sekali! Yippiii….
Sudah lama aku tidak merasa sesegar ini. Rasanya aku seperti baru lagi. Seperti pertama kali pemilik rumah ini saat membawaku dari toko tempatku dijual.
“Wah, sudah bagus lagi nih,” kata pemilik rumah.
“Iya, kotor sekali dalamnya,” adiknya menjawab.
Kulihat mereka berdua berdiri didepanku. Mereka senang melihatku sekarang. Saat mereka menekan tombol ditubuhku untuk menyalakanku, mereka tidak perlu lagi menunggu lama hingga aku berputar.
Aku pun senang dengan keadaanku ini. Aku kembali siap melayani untuk berputar menyegarkan mereka. Terbayang keponakan kecil itu memainkanku kembali sambil tertawa kecil. Ah, aku sudah tak sabar menjadi bahan permainan si kecil itu. Dia pasti senang dengan keadaanku sekarang. Aku siap!
———————
Heru detail di http://kataheru.com


March 8th, 2008 at 11:33 am
Mas Heru…
cerpennya bagus karena ditulis dengan sudut pandang yang unik. Bahasanya juga mengalir lancar dan enak dibaca.
Cuma konfliknya kurang menarik menurut saya. Terkesan biasa-biasa saja.
Coba latihan lagi membuat konflik yang menarik ya.
Sukses selalu!
April 22nd, 2008 at 12:04 pm
yup, thx bang Jonru.
bakal belajar bikin konflik dalam cerita nih…
May 15th, 2008 at 5:27 pm
aku suka gaya ceritanya…
fantasinya asyik…