MENGEJAR ANGIN
Semua orang pasti akrab dengan angin. Walau sulit untuk menggambarkan wujudnya telah lekat dalam kehidupan kita. Berbagai produk diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan memanfaatkan angin. Udara panas dan pengap dapat diatasi dengan menggunakan kipas angin. Langkah irit bahan bakar dengan mengendarai kereta angin. Belanda, negeri bunga tulip dikenal dengan kincir anginnya untuk menggerakkan tenaga listrik.Sakit perut sedikit lega kalau sudah buang angin. Namun kalau berlebihan angin juga bikin kita sengsara. Terlalu banyak angin yang menerpa tubuh kita bisa menyebabkan masuk angin. Angin yang bertiup sangat kencang bisa menjadi malapetaka seperti badai Katrina, angin Tornado atau angin Puting Beliung. Angin…keberadaanmu dirindukan dan dibenci.
Wujud angin hanya bisa kita rasakan namun tidak bisa dilukiskan. Kita menghidupkan kipas angin yang terasa saat hembusan angin menerpa kita. Mungkin yang bisa kita lihat adalah saat angin puting beliung berputar-putar seperti ular naga menerbangkan dan menyapu berbagai benda yang dilewatinya. Seperti itukah bentuk angin? Saya kira kita sepakat bukan. Kita hanya bisa merasakan namun indra penglihatan kita tidak akan mampu melukiskan wujud angin. Kalau kita mencoba untuk menangkap angin jelas sesuatu yang mustahil karena wujudnya yang tidak jelas dan keberadaannya ada dimana-mana.
Kalau kita akan berburu pasti kita sudah tahu bentuk binatang yang kita buru, senjata apa yang akan digunakan dan lokasi berburu. Dengan demikian mudah bagi kita untuk memperoleh hasil buruan. Sebaliknya kalau semua serba gelap baik binatang buruan, senjata yang digunakan dan lokasi berburu sudah dipastikan kita tidak mendapatkan apa-apa. Pukulan pentinju yang luput sasaran juga diibaratkan memukul angin yang berarti si petinju gagal mengenai sasaran. Hal ini menunjukkan bahwa kalau kita mencoba mengejar angin dipastikan kita tidak akan bisa menangkapnya.
Target-target yang jauh melampaui kemampuan kita bisa diibaratkan kita sedang mengejar angin. Artinya kita mencoba untuk meraih sesuatu yang secara nalar sulit bahkan hampir tidak mungkin tercapai. Misalnya kita mematok target akan menjadi miyader dalam satu tahun ke depan. Namun semua kondisi yang ada pada kita tidak mendukung target tersebut. Kita tidak punya bisnis, pendidikan hanya tamatan sekolah dasar dan saat ini pekerjaan kita adalah pegawai rendahan di instansi pemerintah. Rasanya itu muskil terjadi. Kalaupun terjadi kalau kita tiba-tiba mendapat lotre yang mencapai miliaran rupiah. Tapi itu kemungkinannya terjadi sangat-sangat kecil.
Pelajaran yang kita petik dari tulisan singkat ini adalah hendaknya dalam menetapkan target-target dalam hidup kita harus realistis dan terukur. Artinya target tersebut hendaknya secara nalar bisa kita capai. Sesudah target ditetapkan mustinya kita ikuti dengan langkah-langkah untuk mencapai target tersebut. Pengalaman hidup Andrea Hirata, si penulis buku best Seller Laskar pelangi menginspirasi dan tauladan yang baik bagi kita. Apa yang dia lakukan dan capai bukanlah mengejar angin. Keinginan yang menggelegak kuat di sanubarinya untuk melihat indahnya Endesor di Perancis telah mengantarkannya bersekolah di negeri tersebut. Keinginan tersebut tidak sekedar hanya diangan-angan saja, namun dia berusaha keras mengejarnya. Keterbatasan keuangan disikapi dengan kuliah sambil bekerja. Pada akhirnya berjuang memperebutkan beasiswa untuk belajar ke Perancis.
Saya yakin dan percaya sesuatu itu harus kita kejar dengan segala daya upaya yang kita miliki. Namun janganlah kita mengejar angin yaitu sesuatu yang memang benar-benar sangat jauh dari daya dan upaya yang kita miliki. Nanti yang terjadi malah rasa frustasi dan apatis. Marilah kita isi hidup kita dengan target-target yang realistis dan terukur sehingga dapat memacu andreanalin kita untuk mencapainya. Semoga.


June 19th, 2008 at 11:51 am
cukup terinspirasi aku membaca tulisan ini. paling tidak menimbulkan kesan “tahu diri”. hanya satu aku sayangkan, lecutan motivasi untuk mengimbangi “mengejar angin” agar tidak terlalu dimaknai negative. belum ada.
profil andrea hirata bisa lebih dieskplore lagi, atau menambahkan kehadiran tokoh lain.
“semoga”. hmmm… “kata” ciri khas tersendiri nich?
June 19th, 2008 at 12:30 pm
seperti biasa tulisan yang menggugah…
thanks Pak
June 19th, 2008 at 1:32 pm
Kalau menurutku, impian itu boleh saja ditembakkan setinggi langit, dan bila kita terus menerus menuju ke arah impian itu (tanpa lupa untuk melihat celah atau jurang dalam perjalanan), maka cepat atau lambat kita akan mencapainya, tidak peduli kita tahu jalannya atau tidak.
Sebagai contoh begini, saya ingin pergi ke kota B. Kalau saya punya peta, maka saya bisa pergi ke kota B dengan jalur yang diberikan peta tersebut. Namun jika ternyata saya tidak mampu membeli peta, saya bisa berusaha berjalan terus ke barat (misalnya), terus menerus bertanya dan bertanya (juga melihat kondisi), hingga tercapailah tujuan saya ke kota B.
Tidak semua impian terukur dan tidak semua jalan menuju impian itu pasti, yang terpenting adalah mengetahui arah.
June 20th, 2008 at 7:45 am
Thanks Sal, Kania dan Citra atas komentar dan masukannya. Iya..sih kalau bercita-cita hendaknya digantungkan setinggi langit. Namun kita sadari bahwa target-target yang dietapkan dalam hidup musti sesuatu yang achievable dan measurable sehingga membuat kita bersemangat mengejarnya.
Untuk rekan Sal kata semoga itu sih saya senang aja menggunakannya karena apa yang saya tulis semoga melecut diri saya pribadi untuk memenuhinya.
June 20th, 2008 at 8:55 am
topik asyik nich, sahutin lagi ahhh…
bicara soal cita-cita, akulah yang paling bingung. cita-citaku ndak pernah netep. kecil, pengin jadi seniman. rambutku pun gondrong. gedean dikit, rano karno. sampe daguku tak tempelin iteman pengganti tahi lalat.
parah lagi, saat smp cita-citaku jadi bapak rumah tangga, dalang, raja dangdut. parah.
gila lagi, sma. berubah, pengin jadi brucee lee jago kungfu. sampai sekarang, aku masih bingung cita-citaku sebenarnya apa?
akhirnya, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri saat ini. beda hari beda lagi. so, rasanya aku ndak perlu menggantungkan cita-cita setinggi langit. justeru, entah ini cita-cita atau keinginan atau obsesi. aku hanya ingin mewariskan “sesuatu” penuh daya guna untuk anak-anakku (dan anaknya tetangga tentu saja)
mungkin ada yg bilang “fokus” dong. biar ketahuan maunya apa. pusing ladi deh, begitu aku ngotot konsentrasi untuk fokus, makin kacau. herannya, giliran aku selenge’an justru ada yg bilang “gile, konsen amat. sampe dicolek aja ndak nengok” nah lo….