MENGELOLA GAGASAN (IDE)
Dari materi perdana pelajaran sekolah menulis rasanya saya perlu mengelola ide, yaitu gagasan-gagasan yang setiap kali muncul sebagai topik untuk ditulis. Dan karena dalam materi ini tidak ada penugasan apapun, maka saya coba beranikan diri untuk memulai aktifitas saya menulis dengan mengelola ide.
Sejalan dengan kekuatan keinginan untuk menulis, maka sepertinya ide atau gagasan itu banyak sekali datang dan pergi saling tumpang tindih, bahkan hingga tidak terpegang sekelumit pun gagasan yang berhasil dituangkan dalam tulisan. Karena hampir setiap hal bisa tumbuh dan muncul menjadi sebuah ide. Untuk itu rasanya tidak ada salahnya kalao saya harus mendaftarkan gagasan-gagasan tersebut dalam daftar ingatan saya agar ide-ide itu tidak segera mengkabur dan hilang tanpa ada jejak penulisannya.
Saya teringat pelajaran Natalie Goldberg dalam bukunya yang (kalao tidak salah) berjudul “Alirkan Jati Dirimu” (MLC - Mizan learning Center, 2005) bahwa kita perlu mengelola ide atau gagasan-gagasan yang bisa menjadi topik penulisan yang tiba-tiba melintas dalam benak. Cukup dengan menuliskannya ke dalam sebuah lembaran catatan. Karena siapa tahu saat itu belum sempat menuangkannya dalam penulisan, sebab munculnya ide pun biasanya dengan tidak kita undang. Dalam arti dengan kesadaran penuh kita berkonsentrasi untuk menghadirkan gagasan, atau dengan sengaja pikiran mereka-reka kalimat atau pun peristiwa untuk memunculkan sebuah ide atau gagasan.
Mengidentifikasi ide-ide yang mudah datang dan pergi itu sangat penting karena untuk memudahkan menindaklanjuti dalam penulisannya, seperti halnya gagasan untuk menuliskan perlunya mengelola “ide” ini sebenarnya terlintas saat saya membaca buku “Alirkan Jati Dirimu” tersebut kurang lebih dua atau tiga bulana(an) yang lalu, yang terwujud penulisannya setelah gagasan itu bangkit lagi dalam gumpalan pikiran saya untuk menuliskannya setelah membaca materi sekolah-menulis tentang “seputar ide tulisan”.
Dengan mendaftarkan gagasan-gagasan yang melintas ke dalam sebuah catatan akan dapat membantu mengalirkan kebuntuan pada saat kita menghadapi halaman kosong untuk memulai sebuah tulisan. Apakah itu lembaran kertas kosong ataupun layar monitor dengan aplikasi pengolah kata yang masih kosong. Dan belum ada seapatah katapun yang dapat tertuang. Karena jemari rasanya kaku, pikiran terasa buntuk, bibir diam menahan lidah yang kelu.
Maka dengan adanya bantuan daftar gagasan tersebut kita tidak lagi memeras pikiran hingga terpejam-pejam hanya untuk mencairkan kebekuan otak dalam mendapatkan sebuah topik penulisan. Yang penting pastikan bahwa gagasan-gagasan yang terdaftar memang tertulis pada catatan yang mudah dilihat dan diupdate setiap saat, karena jangan kaget kalao anda akan kebanjiran gagasan. Sebab lalat yang hinggap di ujung buah melon anda pun (bisa-bisa) akan melintaskan seberkas topik permasalahan sebagai sebuah ide atau gagasan.
Salam gagasan dan semoga bermanfaat !
Bandung, Minggu Pon 19/08/2007
Slamet Mulyadi

