Mensyukuri AnugerahNya
“Hanya 7 minggu dia berada di kandungan istriku..” kata Anto, teman kantorku lesu. Wajahnya yang beberapa hari lalu terlihat ceria dan selalu sumringah karena kabar istrinya yang sedang hamil, kini telah berubah 180 derajat. Kembali dia dirundung duka. Untuk kedua kalinya istrinya kini mengalami keguguran lagi. Keguguran yang pertama kurang lebih setahun yang lalu. Belum hilang rasa sedih dan trauma yang dialami Anto dan Istrinya , kini hal itu harus terulang lagi. “Sabar ya..” hanya nasehat klise yang mampu kukeluarkan dari mulutku.
Aku dan ibu-ibu tetanggaku sedang berkumpul di depan rumah, sekedar saling sapa setelah seminggu kami tak bertemu. “Kapan nih, Mirza punya adik lagi mbak? Nggak usah lama-lama lho jaraknya, tuh Najmi saja sudah punya adik lagi..” Tanya Ibu Kris kepadaku. Aku hanya tersenyum, kulayangkan pandanganku ke Ibu Atik. Dia tampak terdiam lalu mata menunduk, sedih. Aku tahu apa yang sedang ada dalam benaknya. Pasti kata-kata Ibu Kris tadi telah menyingungnya, mengingatkannya akan kesedihan yang selama ini ia alami. Ibu Atik adalah tetanggaku yang sampai saat itu belum juga dikarunia seorang anak. Usia pernikahannya sudah 7 tahun. Aku menyayangkan perkataan yang keluar dari Ibu Kris tadi, meski maksud sebenarnya hanya ingin berbasa-basi padaku, tapi hal itu tentu saja telah menyentuh kepekaan hati Ibu Atik sehingga membuatnya terdiam sedih.
Bayi perempuan yang baru lahir itu putih bersih dan montok. Sungguh sangat menarik perhatian siapapun yang bertemu dengannya. Ibu Heny adalah wanita yang sedang berbahagia yang telah melahirkan bayi mungil itu ke dunia. Kebahagiaan yang telah sebelas tahun dia tunggu kehadirannya kini benar-benar menjadi nyata. Ya, anak pertamanya ini lahir setelah sebelas tahun dia menunggu dan terus menunggu. Beberapa kali keguguran dia alami tapi tanpa kenal lelah dan menyerah dia yang didukung oleh suaminya tetap bersabar menjalani cobaan ini. Berbagai macam terapi, baik yang disarankan oleh dokter maupun cara tradisional dia jalani. Buahnya kini, Allah benar-benar mengabulkan doa mereka. Lahirlah bayi perempuan dari rahimnya. Bahagia tentu saja.
“Aku hamil lagi… “ kataku mengabarkan kehamilanku yang ke-dua ini kepada teman-teman di kantor. Ada yang mengucapkan selamat, syukur. Tapi ada pula yang berkomentar seperti ini “Ya wajar to, kamu kan punya suami . biasa itu kalo hamil lagi..” begitu reaksi salah seorang temanku. “Iya, ini berita biasa, kalau kamu nggak punya suami ini baru berita heboh” tambah yang lain dan teman-teman yang lain pun setuju. Wajar, biasa itu kata mereka. Sesederhana itulah anggapan orang-orang umum. Apa mereka tak melihat orang-orang seperti istri Anto, Ibu Atik dan banyak ibu-ibu lain di dunia ini yang bernasib sama seperti mereka ini ya? Mereka menikah sah, punya suami, sudah siap memiliki anak, tapi untuk bisa hamil saja susah. Ada yang sudah menunggu selama 5 tahun, 7 tahun atau bahkan puluhan tahun. Semua itu karena memang Allah belum berkehendak menganugerahi mereka anak. Kehamilan bukanlah suatu kewajaran yang kita sikapi dingin dan biasa-biasa saja. Kehamilan adalah sebuah anugerah besar yang patutnya kita syukuri, karena ternyata tidak semua orang bisa memperoleh anugerah ini dengan mudahnya.

