MENUJU SURGANYA
Keputusanku untuk meninggalkan kota ini sudah bulat. Aku benar-benar ingin pergi dari sini lantaran tempat ini sudah tak layak untukku lagi. Sebenarnya bukan tak layak namun sudah tak nyaman. Bagiku bukan harta berlimpah yang kuinginkan melainkan hak kebebasan dan kejujuran yang sudah semakin terhempas dalam norma-norma kehidupan yang kuhadapi disini.
Namun ketika aku ingin sejenak meninggalkan jejak-jejak kaki ini disini, langkahku terhenti. Sungguh tak kusangka, kini aku kehilangan arah. Cinta yang dulu selalu jadi pedoman hidupku kini hambar dan usang terkikis oleh sang waktu yang tak mau berhenti berputar. Sayang yang dulu selalu menjadi kekuatan jiwa ragaku kini justru melumpuhkan sejuta harapan yang akhirnya terpendam oleh keangkuhan dan kesombongan.
Terkadang aku berpikir, sebenarnya apa yang mereka cari dalam kehidupan yang singkat ini? Dan apa yang telah mereka lakukan diatas dunia penuh kehampaan yang sunyi sepi ini? Aku menyadari hidupku adalah sunyiku dan matiku adalah sendiriku. Aku hidup dalam dunia ini penuh dengan kesunyian meskipun sejuta raga menyinari jiwa, hatiku sepi dalam kehampaan. Hanya karena sebuah hak yang kandas dan tercabik-cabik diatas kesombongan dengan mengatasnamakan cinta. Dan matiku pasti akan menghampiri karena kematian adalah akhir dari segalanya yang hidup di dunia. Kesombongan, keangkuhan dan kelicikkan akan terhitungkan diantara tangan-tangan kekuasaan Sang Illahi.
Sungguh betapa adilnya Tuhan bagi umatnya, namun sayang banyak juga manusia-manusia yang tak menyadari akan arti keadilan itu.. Setidaknya diriku sendiri pun terkadang masih merasa bahwa hidup yang kujalani ini sungguh terkadang tak adil bagiku. Entah hal apa yang membuatku merasa demikian meskipun hidup yang kulalui ini selalu saja dipenuhi oleh canda tawa dan kehangatan cinta.
Cinta!! Bagiku bukan kehangatan cinta semata melainkan sebuah paksaan yang mengatasnamakan cinta. Sungguh ini tak adil buatku Tuhan. Ketika kudapatkan cinta dalam hidupku KAU rengut jiwanya nan hangat dari pelukan oleh sebuah kematian yang pasti dalam hidup manusia. Namun kenapa harus terlalu singkat kehangatan cinta dari seorang ibu untuk kurasakan? Sementara jiwa ragaku masih terlalu dini untuk melangkah sendiri tanpa kasih sayangnya yang telah melahirkanku dan membesarkanku bahkan mengenalkanku pada dunia yang kini kusadari betapa sunyinya hidup dalam dunia penuh kesombongan ini?
Aku lelah bermain dalam mimpi dan aku pun jera untuk terus bersembunyi dibalik sebuah kehidupan penuh kesombongan ini. Tuhan, keadilan semacam apa ini ketika kudapatkan cinta dari seorang lelaki yang begitu hangat pelukan-pelukan malamnya sebagai pengganti kehangatan ibuku, kini terhempas dalam kepalsuan cintanya. Aku tertipu oleh rayuan cinta yang memabukkan asmaraku. Aku tertipu oleh rayuan cinta yang menenggelamkan rasa sayangku. Aku tertipu oleh kehangatan cinta yang memelukku erat. Dan aku telah tertipu oleh kehangatan cinta yang membawaku melayang terbang jauh ke langit ke tujuh. Kini aku terjatuh dan tersungkur dalam kehampaan dan kesunyian-kesunyian jiwa ragaku diantara kepingan-kepingan sisa cinta yang kurasakan.
Sungguh perih kepingan cinta itu menyayat hatiku. Sungguh perih sisa-sisa cinta menghancurkan kekuatan hatiku. Sungguh perih ketulusan cintaku menenggelamkanku sendiri dalam kesengsaraan hidup dan matiku. Betapa tak adilnya cinta ini bagiku Tuhan.
Adakah esok kan kujelang kehangatan cinta yang serupa? Atau tak kan sama sekali kudapatkan cinta di dunia ini selain cintaMU padaku Ya Robbi. Sepenuhnya kuserahkan kerapuhan jiwaku ini dihadapanMU. Dan seutuhnya kupersembahkan cinta di hati yang masih tersisa kini hanya padaMU.
Sejenak kuberpikir, adakah dosaku yang masih menyelimuti jiwaku? Ketika kubersujud dihadapanMu memohon akan pengampuan dari dosa seribu dosa yang telah kulakukan sepanjang hidupku dua puluh sembilan tahun yang lalu? Adakah dosaku yang masih tersisa dan tertinggal dalam jejak-jejak kakiku ketika aku ingin sejenak melupakan cinta? Adakah dosaku yang masih menghalangiku untuk menemukan cinta baru yang lebih tulus dan suci dariMU? Adakah dosaku yang masih menjadi penghalang jalanku menuju pintu surgaMU? Adakah dosaku yang masih tertinggal dalam jiwaku nan rapuh ini Tuhan? Dan masih adakah dosaku yang membuatku kian terpuruk dalam kesunyian dan kehampaan jiwa ragaku tanpa cinta dan hanya kesombongan yang mengagahinya?
Tuhan, betapa aku percaya akan ketulusan cinta dan sayangMU. Betapa aku percaya akan keangungan dan kuasaMU. Betapa aku percaya akan keadilan dan bijaksanaMU. Maka, kini tuntunlah langkah kakiku menuju surgaMU di awal dan di akhir RamadhanMU. Dan temukan aku pada sebuah cinta nan tulus dan suci dari MU, maka tanamkanlah cinta itu kedalam dasarnya hatiku sebagai kekuatan baru dalam langkah kakiku menuju kemenanganku nan fitri. Laksana bayi yang terlahir dari rahim seorang ibu yang tak kan pernah meninggalkannya selain karena sebuah kematian yang pasti dari kuasaMU Tuhan. Seperti aku dulu, yang telah ditinggal mati oleh ibu karena kuasaMU Ya Robbi. Kini tenangkanlah sisa jiwa dan raganya dalam pengampunan dosa-dosanya dengan kuasa dan keadilanMU maka tebarkanlah kehangatan cinta surgaMU untuknya. Untuk ibu ku yang selalu kujaga cintanya di hatiku selamanya. Karena memang surgaku berada di bawah telapak kakinya.
Bekasi, 26 Agustus 2008
Selasa di waktu subuh, 05.00’


September 2nd, 2008 at 7:12 pm
… jadi sedih..
September 3rd, 2008 at 12:49 pm
Dear Mena,
wah, ikutan sedih nih… selain itu, di penulisan ini kalimatnya panjang2, jadi kesannya berat banget… yuk, kita lomba bikin kalimat pendek2!
Apalagi kalau dalam satu cerpen isinya uraian semua, tanpa ada dialog… bikin cepet lelah mata dan lelah otak…. Tetep semangat nulis ya….
Kinoysan