Menulis, aku ingin
Membaca, aku suka sejak dulu, sejak kecil. Awalnya mungkin karena iseng, tidak ada pekerjaan lain
. Saat kecil dulu belum banyak sinetron, siaran televisi hanya ada satu TVRI, mall bisa dihitung jari. Disela waktu luang, iseng baca majalah yang ada. Di rumah banyak majalah Tempo, saat itu masih sekolah di SD, eh..asyik juga baca majalah itu, tidak membosankan dan tidak serem seperti tampak luarnya.
Karena bapak sering melihatku asyik baca majalahnya, akhirnya aku diajak jalan ke pedagang majalah bekas, disuruh memilih majalah yang sesuai usiaku saat itu. Saat itu majalah baru terhitung mahal, tidak terbeli keluargaku. Kebiasaan beli di pedagang buku bekas masih berlanjut sampai sekarang. Atau sekarang bisa beli buku bekasnya secara online.
Banyak baca, lama kelamaan aku jadi tau mana tulisan yang menurutku bagus. Seringkali di masa kecil itu aku terkagum-kagum dan terkesima membaca untaian kata yang sempurna terangkai menjadi suatu cerita. Atau seringkali menjadi tegang atau penasaran bila membaca novel detektif atau misteri, kalau novelnya bagus, kalau tidak enak dibaca paling beberapa lembar kubaca lalu kutinggal.
Kemudian yang ada dalam fikiranku saat itu adalah penulisnya sudah pasti punya bakat untuk menulis bagus. Dan, aku? mana bisa !!! lalu bodohnya aku, tanpa mencoba sudah dengan pede nya berkata, kamu tidak akan bisa, kamu tidak berbakat, jadi ya.. hanya sampai menjadi pembaca, penggemar buku yang baik, menulis paling hanya menulis diary dan sedikit puisi. Keinginanku terdalam terkubur kedalam tempat yang lebih dalam lagi olehku sendiri. Bahkan untuk hanya mengucapkannya saja, “aku ingin jadi penulis”, rasanya tidak bisa, tidak tega
.
Terfikir saja tidak, bahwa menjadi penulis itu bisa dipelajari . Yang ada di otakku, itu adalah bakat dan bakat, hh.. bodohnya ya… Padahal sih ngga tinggi tinggi amat harapan untuk jadi penulis, misalnya ingin jadi penulis terkenal, atau ingin buat buku yang banyak dibaca orang, tidak sampai sejauh itu. Inginnya sih cuma sampai bisa menulis yang tulisannya enak dibaca, minimal oleh diri sendiri. Sedikit masalah karena kegemaranku membaca, kriteria tulisan yang bagus jadi ketinggian untuk menilai tulisan sendiri.
Nah, saat bang Jonru buka kelas online belajar menulis, tanpa fikir panjang atau fikir ulang, ini harus ku ikuti (Tidak seperti waktu mau ikut elite teamnya Anne ahira, aku harus berfikir sampai 2 bulanan) Meski bang Jonru juga memberi kiat2 tentang penulisan di situs penulis lepas dan belajar menulis yang diberikan for free, entahlah kufikir pasti ada nilai lebih bila kelas yang kita ikuti berbayar. Baru 3 minggu berjalan ternyata banyak juga yang belum kuketahui dan tidak kutemukan dibuku2 tentang penulisan.
Ternyata ilmu menulis itu lumayan banyak ya, sedikit dibuat tercengang. Dan buku2 ku bertambah dengan buku2 tentang penulisan. Terakhir beli Kings, on writing dan Sidney Sheldon, the other side of me ditambah bonus buku MBIG, satu lagi yang ingin kukoleksi adalah buku yang dibilang awi dalam blog ini.
Menulis itu ternyata keajaiban, setelah menulis beberapa kali di blog, sepertinya aku lebih bisa mengenal diriku sendiri, bahwa ternyata aku orangnya mudah terserang penyakit panik, dengan menulis penyakit itu berkurang meski baru sedikit. Bahwa ternyata aku orangnya ngga disiplin, baru kutau
. Dan yang penting dengan menulis bete bisa ilang, bila hidup mulai terasa membosankan.
Tapi bisa ga ya aku jadi penulis yang bisa menulis bagus? Mmmmm…., akh kan bisa dipelajari ya? seandainya tidak pun, bila ilmu bertambah, juga teman tambah banyak, pasti ada maknanya suatu saat, aku yakin itu.

