Menulis yang Membebaskan
“Aku nulis itu kayak aku ngomong”, kata Aini seorang penulis cilik yang telah menulis buku berjudul Nasi Untuk Kakek yang diterbitkan oleh DAR! Mizan. Aini adalah salah satu contoh dari sekian banyak karya anak di bawah usia dua belas tahun yang berhasil menulis buku. Tidak sedikit karya anak-anak yang terpampang di rak-rak toko buku. Berdasarkan pengakuan Ibunda Aini dalam bukunya Membaca dan Menulis Seasyik Bermain bahwa ia berusaha tidak ikut campur manakala Aini menulis. Ia membiarkan Aini menulis apa adanya secara lepas, bebas, dan tanpa beban. Imajinasinya benar-benar dimanja. Tidak ada “aturan” yang mengikat anak ketika menulis.
Pada suatu kesempatan saya mengajak anak-anak menulis puisi. Beberapa mengeluh tidak bisa. Sepakat bahwa memilih kata-kata yang indah adalah hambatan bagi mereka. Ketika saya ajak mereka menulis prosa, berkali-kali secara bergiliran anak-anak maju ke depan bertanya tentang apa saja yang dapat mereka lakukan supaya tulisan mereka benar. Saya masih ingat saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika pelajaran menulis berlangsung, Hal pertama yang disampaikan guru saya yakni menulislah dengan ejaan yang benar. Pesan ini terus terngiang-ngiang saat saya mulai menulis. Saya merasa ragu dengan tulisan yang telah tertuang. Keraguan ini muncul karena ketakutan salah menulis ejaan yang benar. Hasilnya tak satupun tulisan berhasil saya torehkan dalam kertas. Keadaan ini ternyata masih berlanjut hingga kini. Banyak guru yang meminta siswa menulis dengan terlebih dahulu menyampaikan aturan-aturan yang baku seperti ejaan harus tepat, batas minimal tulisan, tidak boleh ini, tidak boleh itu dan lain sebagainya. Belenggu-belenggu inilah yang harus kita sisihkan. Paling tidak guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuliskan apa saja yang ada dalam pikiran mereka. Perkara benar atau tidak dengan ejaan yang disempurnakan dapat dilakukan saat editing. Tanamkan kepada anak bahwa salah itu bukan suatu kegagalan, melainkan suatu langkah untuk mencapai tujuan. Dengan cara seperti ini anak dapat bebas menulis secara alami dan mengalir.
Apakah dengan membebaskan anak menulis habis perkara tugas kita? Dalam suatu kesempatan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, saya bebaskan anak untuk menuliskan apa saja yang ada dalam pikiran mereka. saya katakan,”silahkan buatlah sebuah prosa bebas menurut kalian masing-masing!” tidak ada embel-embel aturan saya sampaikan, namun anak tak jua memulai menulis. Bingung harus memulai dari mana.
Pokok permasalahan dari menulis bebas adalah membebaskan anak dari aturan. Namun demikian tidak berarti anak-anak tidak butuh bimbingan. Pancing mereka untuk membuat kerangka karangan. Tentu saja komunikasi ynag terbuka menjadi modal dasar langkah ini. Keterbukaan antara guru dengan siswa akan menyingkap tabir pemisah di antara keduanya.
Saya mengajak anak-anak untuk mencoba menyusun kerangka. Langkah pertama adalah menentukan nama tokoh. Kitasepakat nama tokohnya adalah Mr.Brown, si Tupa dan si Tupi. Kedua, saya menanyakan apa saja yang dilakukan mereka seperti dalam gambar. Beberapa kalimat meluncur dari anak-anak. Kadangkala kalimat tersebut tak pernah kita duga sebelumnya. Hal inilah yang membuat anak unik. Mereka memiliki imajinasi yang lebih luas dan bebas dibandingkan dengan orang dewasa. Potensi inilah yang mesti kita kembangkan. Beberapa anak telah menunjukkan kemampuannya menyusun kerangka yang kita diskusikan bersama. Sebagai contoh tulisan dari Diva seperti di bawah ini:
“Ketika liburan tiba, si Tupa dan si Tupi senang sekali. Sekarang mereka sedang di pantai, dan mereka sekarang sedang bermain. Si Tupa dan si Tupi sedang bermain bola, karena keasyikan bermain bola, si Tupa dan si Tupi tidak memikir Mr. brown yang sedang bermain perahu sendirian. Karena si Tupi baik hati, dan mengingat si Tupi pun ingat Mr. Brown juga suka bermain bola, karena itu ditengah-tengah permainan, si Tupi berjalan menuju Mr. Brown.
Si Tupi bilang ke Mr. brown, begini Mr. Brown, mari kita main bola bersama. Akhirnya, mereka pun main bola bersama.”
Tulisan Diva ini benar-benar mengalir alami. Dia tak merasa terbebani dengan aturan-aturan. Tugas kita yakni membimbing mereka untuk membuat catatan ini menjadi lebih baik sesuai kaidah bahasa. Pada awal pengerjaan, jangan sekaliupun kita menerapkan aturan-aturan. Biarkan mereka menuangkan idenya. Munculkan keberanian mereka, yakinkan bahwa mereka bisa membuat prosa dengan mudah.


October 8th, 2008 at 2:48 pm
he..he..he… salah satu keistimewaan anak memang “tidak terbebani”, sehingga bebas berekspresi. kalau mereka tertawa, ya, total tertawa. menangis, merajuk, tidur, ya, total juga. begitu pun menulis.
sedikit illustrasi, kenapa banyak orang dewasa (juga orang setengah tua, dan tua, dan tua sekali) sulit untuk “total” dalam satu kegiatan? karena, semakin banyak pikiran semakin serakah. semuanya pengin bisa. pengin bisa kerangkul.
kayaknya, sal mesti jadi anak-anak lagi nih biar bisa nulis dengan bebas.
wah, enak dong. habis anak-anak trus remaja, trus pacaran, trus,….
October 12th, 2008 at 8:34 pm
Berbicara tentang penulis-penulis cilik sekarang, beberapa waktu lalu saya baru mampir ke Gramedia dan kebetulan (entah bagaimana caranya) melihat sederetan karya-karya mereka, termasuk juga Aini kalau tidak salah lihat. Yang agak saya bingungkan, saya lupa siapa nama penulisnya, namun kalau tidak salah ingat sudah berumur 12 tahun. Ternyata termasuk penulis cilik juga ya?
(saya baru tahu, Pak Estu itu pengajar?)
Nice writting, keep moving.
@sal: itu sih maunya saaaal…
October 15th, 2008 at 9:39 am
Dulu waktu kecil saya juga sering banget nulis..
mengarang bebas kata bu guru..
cuma kalo makin gede makin gak bebas ya pikirannya ??
October 16th, 2008 at 12:50 pm
Dear Estu,
nice story, nice title. Kenapa nggak dilengkapi, ditulis rinci dan dijadikan buku?
Kinoysan
October 17th, 2008 at 2:57 pm
@ mbak kinoysan, maunya sih seperti itu. but, masing bingung mo mulai dari mana. Ketika di depan komputer, semua isi otak kayaknya rebutan mau keluar saja. Mohon masukannya ya. Thank’s
October 22nd, 2008 at 9:35 am
anak-anak emang punya imajinasi masing-2..
beda sama kita yang udah dewasa..
yang bikin bingung, gmana caranya nulis kya anak2? yang bebas, yang belum terbebani apa2..
October 24th, 2008 at 5:29 pm
membaca contoh hasil “menulis yang membebaskan” seperti tulisan Diva, kayaknya enak benar dengan bebasnya menulis apa yang mereka lihat dan pikirkan, tanpa basa-basi. Bagaimana yah agar kita bisa menulis sebebas mereka, kayaknya sulit benar menggunakan otak kiri dan otak kanan secara proporsional. Saya dari sejak mahasiswa tertarik untuk menjadi penulis di mas media dengan mempelajari berbagai buku teknis menulis yang benar, dan telah dimuat pula beberapa tulisan (jarang sekali) di mas media. Hampir semua tulisan yang dimuat berupa tulisan non-fiksi, baik berupa gambaran sesuatu kelompok masyarakat, maupun tulisan yang berisi sedikit analisa. Sekarang rasanya sulit benar jika mau menulis sesuatu topik atau tema, dan selalu saja muncul pertimbangan-pertimbangan atau kegiatan menganalisis atau menilai (otak kiri) atas pikiran spontanitas (otak kanan) yang muncul. Rasanya ingin sekali kembali menjadi anak kecil yang penuh kebebasan. Mohon saran bagaimana agar otak kanan bisa bergerak tanpa rintangan. Terima kasih.
November 6th, 2008 at 10:57 am
Sangat beruntung sekali Diva punya guru seperti anda, rasanya saya ingin menjadi Diva. Saya masih beruntung karena ternyata saya bisa “menulis” dalam arti merangkaikan huruf demi huru sehingga menjadi kata. Yang menjadi masalah justru merangkaikan kata demi kata sehingga menjadi kalimat. Kata itu harus dilahirkan melalui bedah caesar untuk dapat keluar dari otak ini.
November 12th, 2008 at 1:07 pm
Dear Estu,
gampang, tinggal bikin sinopsisnya dulu, konsep dulu, baru deh ikutin dan patuhi yang sudah dikonsep. Jadinya nggak ke mana-mana dan nggak berebutan apa yang mau ditulis duluan. Baca Jadi Penulis Fiksi? Gampang, Kok! pasti ada pencerahan. Tanya si Sal deh apa isinya…