Meoonngg..
Apa yang terlintas dalam benak anda ketika membaca judul tulisan ini? Apakah ingatan anda langsung melayang pada iklan kontrasepsi? Atau anda mengira isi tulisan ini akan menceritakan tentang kucing? Kalau begitu, anda separuh benar. Memang ada hubungannya dengan binatang yang sudah menjadi peliharaan manusia sejak jaman mesir kuno itu.
Seorang teman yang ketiga anaknya sudah beranjak ‘ABG’ belum lama ini membeli seekor kucing jenis Angora yang bulunya menjuntai panjang, berwarna Abu-abu berjenis kelamin betina. Harganya.. suit.. suit.. Sebagai bonus, ia mendapat seekor anak kucing jenis Russian Blue yang bulunya amat pendek, berjenis kelamin jantan dan umurnya baru 2 minggu.
Sekarang hari-hari teman saya itu disibukkan dengan mengurus kucingnya yang 2 ekor itu. Membeli makanan, membawa ke dokter hewan, imunisasi, ke salon untuk potong kuku dan merapihkan bulu (aduh… plis deh).
Beberapa kali saya mampir ke rumahnya menonton kesibukannya dengan kucing-kucingnya sambil mendengarkan penuturannya tentang Cimcim dan Opik, kedua kucingnya itu. “Yaaahh… jeung… seperti inilah kalau usia sudah tak lagi muda (maksudnya sudah tua), anak-anak sudah besar, sudah tidak ada lagi yang di urus jadinya ngurus kucing deh..”
Hmmm… ide yang bagus. Mungkin kalau nanti saya sudah tua, saya pun akan membeli kucing berbulu panjang sebelum saya terdampar di sebuah panti jompo. Saya sudah bisa membayangkan tubuh renta saya duduk di kursi malas sambil mengobrol dengan si kucing yang duduk di pangkuan. Bernostalgia tentang masa muda yang sudah berlalu. Mengenang saat-saat dimana jari-jari tangan saya bergerak lincah merangkai huruf demi huruf ketika belajar menulis di Sekolah Menulis On-line. Sambil bercerita, tangan keriput saya membelai-belai bulu-bulunya yang terurai panjang dan terawat. Sesekali si kucing akan mengeong menanggapi kata-kata saya. Meoongg… Meoongg.. Tapi itupun kalau suster-suster di panti jompo tidak keberatan ketambahan kerjaan mengurus kucing saya itu… Hiks… Dan bila saatnya tiba bagi saya menutup mata, mungkin hanya kucing itu yang ada di samping saya dan mengeong dengan sedih. Hmmm… binatang terkadang lebih tahu bagaimana menghargai cinta ketimbang manusia, bukan?


June 17th, 2008 at 8:49 am
tulisan cukup menggelitik. lucu, sekilas ringan tapi menyentuh. klo dipikir, apa hubungannya kucing dengan “masa tua?”
penulis mampu mengemasnya dengan manis. ku coba untuk merekuntruksi menjadi pembelajaran buat diriku sendiri.
piaraan. masa tua.
tahab demi tahab kematangan jiwa manusia selayaknya terjadi. manusia merasa ada, bila ada rasa “dibutuhkan”. apakah rasa dibutuhkan oleh seekor kucing merupakan pilihan?
menurutku sich, piaraan yang tak tak pernah pergi. selalu setia menemani, bahkan sampai mati. adalah religi.
remaja lebanon, sanggup bunuh diri dengan bom. karena menjadi budak Tuhan. terlepas apa dan bagaimana apresiasinya. bukan persoalan benar atau salah, melainkan penghayatan.
begitu pula, klo usiaku sampai jompo nanti. tentunya lebih mengena kalau aku menjadi budak cinta abadi. dari sang maha pemilik cinta.
disaat anak dan cucu telah begitu sibuk dengan dunia mereka. disaat gemerlap dunia tak lagi mampu kujamah dengan jari keriputku. menjadi kekasih dari sang maha terkasih, adalah lebih menjanjikan
bagaimana dengan anda?
June 17th, 2008 at 10:21 am
..tahab demi tahab kematangan jiwa.. yang benar itu ‘tahab’ atau ‘tahap’ ya?
June 17th, 2008 at 3:05 pm
Lita benar kata mas Salwangga tulisan ringan tapi menarik. Gagasan yang kutangkap dari tulisan ini adalah mensiati kesepian dimasa tua. memelihara kucing adalah salah satu solusinya. Binatang yang jinak dan berbulu halus merupakan teman yang menarik.
Salam
Heri Ispriyahadi
June 17th, 2008 at 10:35 pm
wah… yang alergi kucing gimana? he he he…
ya.. menarik cerita tentang angan di hari tua