Meredam Duka
Adalah suatu keniscayaan bahwa setiap orang ingin senang, bahagia, berhasil dalam setiap usaha yang dilakukannya, itulah harapan yang ada didalam dada kita dan tidak seorangpun yang mempunyai keinginan sebaliknya. Apapun yang kita lakukan tentu disertai dengan keinginan selesai dengan baik, entah itu suatu usaha yang kecil apalagi bila menyangkut pekerjaan besar yang memerlukan waktu, tenaga dan biaya. Bahkan dalam meniti hidup yang kita harap tidak lain kecuali kebahagiaan didalam kesehatan dan kecukupan seperti yang selalu kita pintakan kepada Sang Maha Pencipta “beri kami kehidupan yang baik didunia dan hari kemudian”, itu adalah sebuah harapan. Tetapi apakah semua yang kita usahakan dapat membuahkan keberhasilan, kesenangan dan kita menjadi bahagia karenanya, itu adalah persoalan yang lain lagi dan jawabnya dapat menjadi bermacam macam sesuai dengan pemikiran serta perasaan orang yang mengusahakannya. Ada kalanya yang didapat hanya sebuah frustasi karena hasil yang didapat tidak sesuai dengan yang kita harapkan dan menyisakan perasaan sedih yang berkepanjangan atau bahkan sebuah luka dihati serta keputus-asaan. Adakah suatu cara agar kita dapat terbebas dari perasaan tidak enak, sedih, frustasi terlebih lagi timbulnya luka didalam hati bila yang kita kerjakan tidak membuahkan keberhasilan, perasaan senang dan bahagia, karena memang hanya dua pilihan itu kenyataan yang kita hadapi, senang bila berhasil, sedih bila gagal.
Tentu saja untuk hal ini kita dapat mensiasati bila kita mengetahui ilmunya, memang sudah seharusnya semua yang kita kerjakan disertai dengan ilmu tentang pekerjaan tersebut apapun yang kita lakukan. Adakah suatu pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan baik tanpa mengetahui cara untuk mengerjakannya, terlebih jika hal itu merupakan pekerjaan yang baru dan masih asing bagi kita ?.
Demikian pula halnya dengan perasaan yang timbul dalam diri kita pada saat sesuatu menimpa, baik itu keberhasilan atau kegagalan, bahagia atau duka. “Sang Pencipta” tidak membiarkan ciptaannya menjalani kehidupan kecuali telah dibekali dengan ilmu untuk dapat digunakan didalam meniti kehidupan sesuai dengan rencana-Nya. Hanya kita saja yang barangkali belum menyadari atau mungkin tidak mengetahui bahwa sebenarnya bekal itu sudah disiapkan bagi kita. Bukankah “Sang Maha Pencipta” sekali-kali tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang adalah ciptaan-Nya !.
Untuk itulah Beliau utusan-Nya saw mengatakan :
“Tak ada sesuatu menimpa seorang muslim yang berupa kepayahan, tidak pula sakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, tidak pula kegelisahan, sampai duri yang mengenainya, melainkan dengan hal itu Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.” (Shahih Bukhori -5641)
Tentu saja memerlukan prasyarat untuk terpenuhinya janji tersebut, antara lain Dia mensyaratkan dan ini yang utama bahwa pelaku adalah orang yang “berserah diri” kepada-Nya dalam arti mutlak dan tidak kepada selain-Nya dan hendaknya ia mengetahui bahwa apa yang ditentukan oleh-Nya terjadi merupakan suatu ketentuan yang berlaku bagi dirinya, tidak seorangpun dapat mengubah ketentuan tersebut kecuali Dia kehendaki, demikian pula yang terluput darinya atas ketentuan-Nya tak mungkin dapat menimpa dirinya kecuali atas izin-Nya. Kemudian pelaku bersabar atas kejadian yang menimpa baik itu ketentuan baik atau buruk dari-Nya, menerima dengan rela hati dan tidak dikatan orang itu bersabar kecuali ia bersabar pada pertama kali suatu kejadian menimpa dirinya, seperti sabda Beliau saw :
“Kesabaran (sejati) adalah yang dilakukan pada saat benturan pertama” (Bukhori dan Muslim dalam kitap al-janaiz bab kesabaran dlm menghadapi musibah).
Tidaklah dikatakan seseorang itu bersabar apabila ia tidak menerima apa yang menimpa dirinya sejak pertama kali, karena kegundahan serta keluh kesah yang berkepanjangan akan berakhir dengan kesabaran yang terpaksa dan hal ini bukan merupakan suatu hal yang terpuji dan tidak mendapat pahala penghapusan kesalahan (kaffaroh) seperti yang Beliau saw sabdakan.
Seorang ahli Hikmah berkata “Orang yang cerdas, sejak pertama musibah yang menimpanya, melakukan apa yang dilakukan oleh orang bodoh beberapa hari kemudian. Siapa yang tidak bisa bersabar dengan kesabaran orang-orang mulia, akan terpaksa melupakan kedukaannya seperti binatang” (Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah)
Bahkan Beliau saw didalam sebuah sabdanya mengatakan :
“Sungguh sangat menakjubkan perbuatan seorang mukmin karena semua tindakan adalah sangat baik baginya, apabila dia mendapat suatu kebaikan kemudian dia bersyukur, maka baginya suatu kebaikan (pahala), dan bila ditimpa kesusahan kemudian dia bersabar, maka baginya suatu kebaikan (pahala) pula. (HR Muslim)
Hendaknya kita menyadari bahwa terlepasnya pahala kesabaran dari “Sang Maha Pencipta” berupa keadaan yang senantiasa diliputi oleh keberkahan, kasih sayang, dan petunjuk dari-Nya sebagai buah dari kesabaran adalah lebih menyedihkan daripada perasaan sedih itu sendiri.
Kalau memang demikan halnya, adakah lagi yang membuat kita merasa susah karena tidak berhasil dengan apa yang diusahakan, atau bahkan frustasi, karena pada hakekatnya semua yang kita usahakan apabila sesuai dengan aturan yang telah diberikan oleh “Sang Maha Pencipta” akan mendapat suatu kebaikan serta keuntungan untuk kita dalam arti yang seluas-luasnya, Semoga !.


August 20th, 2008 at 10:55 am
Kalimatnya panjang-panjang banget ya…
August 20th, 2008 at 11:05 am
loh, ujug-ujug koq mak jegagik. kaget aku.
lupa narasi pengantarnya ya, koq langsung ke isi?
penutupnya mana, kata “semoga” itukah?
membaca postingan ini, sal merasakan lelah. seperti kata lita, kalimatnya panjang-panjang. udah gitu, bahasan-nya berat lagi.
August 20th, 2008 at 1:57 pm
Dear Baradja,
aduh, saya lelah sekali membacanya. Tulisannya dari segi isi sangat berat dan kalimat yang panjang sekali… coba baca buku2 chicken soup, isinya banyak yang berat tapi kemasan bahasanya oke banget…. atau kalau mau bisa ngecek di buku saya, TAHAJUD CINTA, ISTIKHARAH CINTA, atau JODOH CINTA. Semua materi buku itu berat, tapi bahasanya ringan banget….