Mimpi-mimpi Vina
Malam sudah larut ketika aku masih mendengar suara orang sedang mengetik. Sekilas kulihat kamar adikku; masih menyala. Akhir-akhir ini Vina memang sering sekali mengetik sampai larut malam. Pernah suatu kali aku masuk ke kamarnya dan melihat apa yang sedang dia ketik. Begitu mengetahui kedatanganku, Vina langsung menutupi layar komputer dengan kedua tangannya. Dia langsung merajuk menyuruhku keluar dengan muka tersipu. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Kalau tugas sekolah, tidak mungkin dia sebegitu tidak inginnya tulisan itu dibaca olehku. Mungkin dia sedang menulis diary seperti yang juga sering kulakukan. Ya, mungkin saja. Hhmm.. aku jadi penasaran. Sebenarnya aku bisa saja diam-diam membuka file komputer Vina untuk melihat apa yang sedang dia tulis. Tapi aku tidak ingin melakukan itu. Aku tahu benar sifat adikku itu. Nanti dia juga pasti akan cerita sendiri padaku.
Benar saja, dua minggu kemudian Vina mengajakku ke kamarnya untuk melihat apa yang dia tulis. Ternyata cerpen. Sudah ada dua cerpen yang dia tulis. Dia minta pendapatku karena tahu kalau cerpen-cerpenku sudah banyak yang dimuat di berbagai majalah. Untuk ukuran anak kelas 2 SMP, sebenarnya cerpen Vina sudah cukup bagus. Alur ceritanya runtut dan jelas, latar yang dia pilih mendukung isi cerpennya, namun sayang perwatakan tokohnya kurang dalam. Aku tandai beberapa kalimat yang menurutku kurang pas dan menyuruh Vina memperbaikinya.
***
Malam harinya, dengan wajah riang Vina masuk ke kamarku. Kali ini dia juga membawa cerpen yang sudah dia cetak. Dia ingin sekali cerpennya dimuat di majalah. Dia terus-menerus menanyakan pendapatku tentang cerpennya. Aku lihat beberapa kalimat yang sudah dia perbaiki. Hhmm.. tetap saja masih ada yang kurang. Sebenarnya aku mau saja terus mengajari adikku satu-satunya itu. Tapi tugas kuliah yang menumpuk membuatku menjadi kurang sabar. Akhirnya aku mengatakan kalau cerpennya sudah bagus dan besok akan segera kukirimkan ke majalah Puzzle. Sampai tiga hari berikutnya, cerpen Vina masih juga belum aku kirimkan. Kesibukanku di BEM membuatku lupa dengan janjiku sendiri. Aku baru sadar setelah Vina menanyakan cerpennya. Terpaksa aku berbohong lagi padanya. Aku katakan kalau cerpennya sudah kukirimkan. Ffyyuh.. tidak enak rasanya membohongi Vina terus.
Sore ini kembali aku lihat cerpen karangan Vina. Cerpen itu terlalu biasa untuk dimuat di majalah. Walaupun demikian, aku terlalu takut untuk mengecewakan adikku. Akhirnya aku edit beberapa kalimatnya dan sedikit kuubah jalan ceritanya. Esoknya, langsung kukirimkan cerpen Vina ke kantor redaksi majalah Puzzle.
***
Aku sudah hampir lupa dengan cerpen karangan Vina kalau saja hari ini di tanganku tidak ada majalah Puzzle dengan cerpen Vina di dalamnya. Segera kutunjukkan cerpen yang dimuat itu pada Vina. Bisa kulihat dengan jelas senyumnya yang mengembang dan pipinya yang memerah. Seakan tidak percaya, dia membaca sendiri cerpen buatannya. Vina terus saja tersenyum. Tiba-tiba senyumnya terhenti kira-kira menjelang akhir cerita.
“Bukan begini endingnya, mbak”
Dia menunduk sedih.
“Mbak Andien pasti sudah mengubah endingnya. Mbak tidak percaya pada kemampuanku”, dia berkata lirih.
Aku terkesiap. Bukan itu maksudku.
Dia melanjutkan, “Harusnya mbak terus mengoreksiku; biar aku mau berlatih. Mbak sendiri kan yang dulu bilang kalo mengarang cerpen itu harus banyak berlatih.”
Aku tahu kalau adikku kecewa padaku.
“Aku belajar semangat berlatih membuat cerpen dari mbak. Aku masih ingat, dulu cerpen mbak juga banyak yang tidak dimuat. Tapi mbak tidak menyerah; mbak terus berusaha. Kenapa mbak tidak percaya kalau aku bisa melakukannya?”
Setelah lama terdiam, aku baru bicara,” Vin, bukan begitu maksud mbak.”
Hening di antara kami.
“Cerpen kamu sudah lumayan bagus. Mbak pikir akan lebih bagus lagi kalau endingnya sedikit diubah. Tapi kamu senang kan sekarang cerpenmu sudah dimuat?”
Aku berusaha menghibur Vina.
“Itu bukan cerpen Vina, mbak. Vina tidak bangga sama sekali..”
Dia mengatakan itu sambil masuk kamarnya. Aku tahu dia sangat kecewa. Ya, aku memang salah. Harusnya kuberi dia kepercayaan, bukannya malah membohonginya. Kubiarkan dia di kamarnya. Mungkin dia masih butuh waktu untuk mengurangi rasa kecewanya. Kuceritakan semuanya pada ibu. Ibu menanggapinya dengan bijak. Ibu tidak menyalahkanku, hanya saja menyayangkan kenapa aku bisa bertindak ceroboh seperti itu. Harusnya aku tahu kalau hal itu hanya akan membuat Vina merasa tidak dihargai.
Sejak itu Vina jadi lebih sering mengetik di kamarnya. Dia tidak pernah lagi menanyakan pendapatku. Beberapa kali kulihat dia membawa amplop seukuran kertas A4. Itu pasti amplop berisi cerpen yang akan dia kirim ke majalah. Kubiarkan dia melakukan itu semua. Dia butuh diakui.
***
Sampai di rumah seusai kuliah, aku kaget ketika disambut dengan pelukan erat dari Vina. Dia menyodorkan majalah padaku dan menunjukkan salah satu cerpen di dalamnya. Tertulis nama Vina sebagai pengarangnya. Pantas saja dia merasa begitu bahagia.
“Mbak ngerti kalau adik mbak memang punya potensi besar untuk jadi cerpenis.”
Senyumnya semakin mengembang.
“Aku belajar ini dari mbak.”
“Tidak, Vin. Semangatmu-lah yang mendorong kamu untuk terus maju.”
“Walaupun begitu, aku memang harus banyak berlatih dari mbak. Beberapa bulan yang lalu aku masih kecewa sama mbak, makanya aku tidak pernah lagi menanyakan pendapat mbak tentang cerpen-cerpenku. Maafin aku ya mbak…”
Aku memeluk adikku perlahan.
“Kamu tidak salah, Vin. Mbak ngerti perasaan kamu waktu itu.”
Kami berdua tersenyum gembira. Mimpi-mimpi Vina ada dalam cerpennya. Tidak seharusnya aku merusak mimpi itu.

