Monyet Saja Bisa Cari Duit!
“Apa bedanya dengan sekolah? Sudah capek, harus menghafal pelajaran, ikut ujian dan sebagainya, mesti bayar iuran bulanan lagi. Yang gajian kan para guru”. (hal : 23)
“Nah. Soal bakat ini ada dua berita. Berwirausaha memang dibutuhkan bakat. Ini berita buruk. Berita baiknya, semua orang berbakat menjadi pengusaha. Yang tidak punya bakat jadi pengusaha hanya binatang. Monyet aja bisa cari duit! Bahkan bisa ngidupin tuannya”. (hal : 6)
Sedikit pengantar,
Pernah lihat aksinya Sugeng Siswoyudono? Apa yang terbersit di benak anda. “Sikilmu piro?” “Limo” demikian penutup dialog sebuah iklan komersiil. Dalam kesempatan lain, si kaki buntung ini berkata “buntung ya buntung, nek nyerah goblok!”. Dalam konteks lain, ia berkata “hidup itu harus berguna. Kalau tidak, lebih baik dikubur hidup-hidup trus mayatnya buang ke kali”.
Untuk memberikan provokasi, banyak cara dapat ditempuh. Disanjung, dipuji, dikritik, disentil, dengan analogi, dan masih banyak lagi. Apa yang dilakukan sang komendan Sugeng Siswoyudono lain lagi. Ia lebih tertarik menggunakan metode “menghina” sasaran agar tersadar dari kekurangannya.
Membaca buku Bang Jay ini, amarah anda akan tertohok habis sampai ubun-ubun. Marah, kesal, tersinggung. Tapi, justru sangat efektif membuka pintu penyadaran, kemudian membangkitkan motivasi untuk berubah. Perbaikan hanya akan terjadi oleh perubahan. Banyak orang yang merasa telah berada pada “zona aman” semakin terlena dan mengabaikan perubahan. Padahal, untuk sukses harus berani berubah.
Bang Jay, saat menulis buku ini, paham betul kondisi umum masyarakat Indonesia. Pengangguran bukanlagi pada level memprihatinkan. Sangat memilukan. Lulusan sarjana sudah seperti tauge diatas tampah. Lari sana, lari sini, hanya untuk memburu lapangan kerja. Padahal, setiap diri dari mereka punya potensi. Benar, potensi ada pada setiap orang. Hanya saja, kemauan, rasa minder, gengsi, konsumtif, malas, masih menjadi pemicu utama semakin bertambahnya gelombang pengangguran dari tahun ketahun.
Gaya penulisan model “Tanya-jawab” disajikan dari awal hingga akhir. Sedikit kalimat penjabaran, lugas, langsung “to the point” dan bahasa yang dipakai itu loh, uenak tenan. Tak perlu berfikir njlimet. Tinggal telan. Help! Karena penulis telah membuka lebar-lebar pintu penyadaran pembaca. Dengan gayanya yang “nyentil” tentunya.
Tak salah memang, jika Bang Jay mendapat julukan PHD dari rekan-rekan pengusaha maupun penulis. Bukan “Philosophy Doctor” melainkan Permanent Head Damage. Dan, Bang Jay memang seorang Mental Surgeon Specialist! Pendobrak “mental blox” sejati.
Untuk lebih melihat dengan detail segala kelebihan dan kekurangan, hanya dapat dilakukan bila anda membaca dengan tuntas. Hanya saja, jangan heran bila anda tertawa dan tersenyum sendiri sambil memegang buku ini.
Yang jelas, seorang tokoh sekaligus pelaku, masih dalam status mahasiswa hanya tinggal skripsi, telah dibuat oleh Bang Jay sehingga “mau” berjualan satu botol air mineral seharga seribulimaratus rupiah di bawah lampu merah. Laku lima ribu, kemudian dibelikan lagi empat botol di supermarket, dijual lagi hingga akhirnya menjadi lima puluh botol. Setelah si mahasiswa keren ini berucap “terimakasih atas penghinaan ini…” sambil tersenyum puas karena mental blog dalam kepalanya hancur berkeping-keping didobrak oleh Bang Jay.
Jangan baca buku ini! Atau, anda ketularan sukses dalam berwirausaha. Kalau mental blog anda meledak, berubah menjadi wirausahawan handal. Tanggung sendiri akibatnya.
Judul Buku : Monyet Aja Bisa Cari Duit!
Penulis : Zainal Abidin, PHD (Bang Jay, Anak Betawi Aseli)
Penerbit : de Britz
Tebal : 145 halaman. Kertas HVS


August 9th, 2008 at 8:17 am
Oalaaahhh… ternyata ini tentang buku
Awal membaca artikel ini sempat bingung. Baru mengerti setelah membaca sampai akhir. Resensi buku gaya barukah?
Anyway, jadi pengen beli bukunya..
August 9th, 2008 at 11:53 pm
Thanks kejutannya. Betul kata Lita, ternyata buku.
Out of the box, resensi seperti ini lebih menarik, lho.
Salam
August 10th, 2008 at 11:11 am
Terima kasih kang Jonru. Semoga bermanfaat.
Jay, the Terrorist
August 11th, 2008 at 12:45 pm
lita, sari : itu bukan resensi gaya baru. untuk menulis resensi tentunya harus ada kaidah yang harus dipatuhi. sementara, sal menulis menurut “udele-dhewe”.
buat bang jay : salam kenal bang, yang nulis bukan kang jonru. tapi, muridnya. buku itu tak perlu sal baca dua kali, untuk apa? sekali baca langsung menclok di memori otak, melekat tak mau lepas. kecuali untuk kata-kata khusus memang sal catat dalam notes book kecil. biasa, biar ketularan pinter bang jay.
August 13th, 2008 at 6:20 pm
Dear Salwangga,
ini tulisan yang anda banget. Salut. Keluar dari jalur, tapi itulah menulis. Dan saya sangat menghargai sekaligus hormat pada orang yang berani menulis sesuai keberaniannya dan dirinya sendiri. Menambah khazanah kepenulisan di Indonesia.
Pada yang lain2, jangan takut untuk total menulis. Dan jangan takut pula kalau dikritik pedas sekalipun, bisa jadi itu ungkapan paling jujur atas apa yang dikritisi.
Kinoysan
August 15th, 2008 at 9:02 pm
Sama, pada awalnya saya juga bingung, tulisan ini mau kemana. Setelah saya baca seluruhnya baru mengerti, surprise. Hebat kamu Sal, saya kagum tulisanmu, asyik untuk dibaca.
b.sugiarto
August 29th, 2008 at 5:35 pm
ingin tahu tempat cari uang di intenet? silahkan kunjungi http://www.dapat-uang.com
September 26th, 2008 at 10:20 am
Thanks bung Salwangga. Promosi gratis …
Jay, de Terrorist
October 21st, 2008 at 11:47 am
bagus banget ni buku
October 27th, 2008 at 12:47 pm
salam kenal mas…
link ke blog saya yah mas!
link blog mas udh saya link-an.
trima kasih
http://www.luckyidea.blogspot.com