Nge-DJ dan nge-BK di Lembang
Dahulu Bandung dijuluki Paris van Java. Sekarang mungkin lebih tepat dijuluki kota FO. Teman saya yang tinggal di Bandung bercerita, di akhir pekan atau saat liburan sekolah tiba, dia lebih suka kemana-mana naik angkot. Kalau naik kendaraan pribadi rasanya jadi tambah lama sampainya, begitu alasannya.
Dengan pertimbangan itu pula saya memilih pergi ke Bandung pada hari Minggu. Berharap ‘warga Jakarta’ yang menyerbu Bandung sudah bersiap kembali ke Ibu Kota. Diluar perkiraan, tidak saya temui kemacetan yang berarti. Bahkan disepanjang jalan Riau yang dipenuhi Factory Outlet hanya tampak sedikit antrian. Itupun disebabkan karena lampu pengatur lalu lintas dan aktifitas orang yang menyeberang jalan. Mungkinkah ini dampak dari kenaikan BBM? Yang jelas saya senang tidak harus membuang waktu dan memboroskan BBM.
“Pokoknya gue tunggu. Nanti kita nge-DJ dan nge-BK di Lembang,” begitu pesan teman saya yang tinggal di daerah Dago. Belum sempat saya bertanya lebih jauh, hubungan telepon sudah dimatikan.
Nge-DJ dan nge-BK.. dua kata-kata itu memenuhi benak saya sepanjang perjalanan Tangerang – Bandung yang hanya memerlukan waktu dua jam. Setahu saya, teman saya itu bukan penggemar ‘dugem’. Dia tipe orang ‘rumahan’. Tapi kenapa sekarang mengajak saya nge-DJ? Dan bukankah BK itu sejenis obat terlarang?
Peluk cium dan celoteh ramai mewarnai pertemuan kami. Sorenya kami langsung meluncur ke arah Lembang. Menuruti petunjuk teman saya akhirnya mobil yang kami tumpangi berhenti di depan deretan kios makanan yang menyediakan Jagung rebus dan Jagung bakar lengkap dengan Ketan Bakar dan Colenak.
“Yuk, turun, kita nge-DJ dan nge-BK,” ajak teman saya.
“Di sini?” tanya saya bingung.
“Makanya jangan gaul di Jakarta terus dong.. DJ itu singkatan dari Dahar Jagong (makan Jagung), BK itu singkatan dari Bakar Ketan,” teman saya menerangkan sambil tertawa-tawa.
Oalahhh… Saya kira akan diajak dugem ternyata diajak menikmati Jagung rebus dan Ketan bakar.


June 23rd, 2008 at 9:18 pm
he he he..itulah.. bahsa gaul yang beda.
tulisannya asyik, jadi pingin jalan2 ke Lembang.
tulisannya pendek yang mengalir dengan indah
June 24th, 2008 at 8:48 am
bahasa gaul emang bikin fresh. semangat tetap muda walau pipi mulai kendur, jidat pun berkerut. asal jangan kelewatan.
tapi, masih mending kelewat kali. dari pada keinjek. he..he..he..
sukses, bahasanya enak di cerna. bahkan oleh anak kurang asupan gizi sekalipun.
June 24th, 2008 at 8:58 am
Setuju dengan Sal dan Kania tulisannya asyik. Seakan jadi muda lagi nih membaca tulisan Lita he..he.. Dari awal udah curiga nih kok mau Nge Dj aja sampe ke Lembang. Ternyata dugaanku benar..DJ itu Dahar Jagong.
June 24th, 2008 at 5:37 pm
Thank you buat komentarnya. Tapi kenapa ya yang rajin komentar kok hanya ‘itu-itu’ saja?
June 25th, 2008 at 12:04 pm
he he he, maaf lita saya baru komentar… baru online lagi…
hmm.. ngomong-ngomong FO itu apa ya yang disebut di awal-awal cerita? maklum.. he he he…
June 26th, 2008 at 8:49 am
waduhh.. maaf.. maaf.. saya lupa tidak semua orang mengerti dengan singkatan yang saya pakai. FO itu singkatan dari Factory Outlet
June 26th, 2008 at 1:27 pm
Hahahahaha… nggak perlu meminta maaf, ternyata Factory Outlet (itu sih karena sayanya aja yang kuper.. ha ha ha)