Latest Post

September 10th, 2008

Berbuka dengan yang MANIEZ

Di bulan puasa seperti sekarang ini banyak yang mengadakan acara ‘buka puasa bersama’. Mulai dari instansi, petinggi negeri, sesama rekan seperjuangan, anggota milis sampai keluarga.

Tidak setiap orang bisa berbuka puasa bersama keluarga setiap harinya. Apalagi bila ayah dan ibu sama-sama bekerja di tempat yang saling berjauhan dan jauh dari tempat tinggal. Beban pekerjaan, kemacetan lalu lintas, jauhnya jarak tempuh terkadang membuat acara berbuka puasa terpaksa dilakukan sendiri-sendiri. Sedih? Bisa ya, bisa tidak. Bisa jadi keadaan ini justru menjadi salah satu jalan menghidupkan kembali manisnya cinta yang tertimbun rutinitas kehidupan. “Hari ini gue diajakin buka puasa bersama,” kata teman saya.

Read the rest of this entry »

September 10th, 2008

Kesempurnaan di Mataku

“Rasanya, aku sudah lupa. Terlalu banyak cerita di dalam kepalaku hingga aku bingung bagaimana aku akan menceritakannya padamu. Aku lupa caranya bercerita.”

Read the rest of this entry »

September 9th, 2008

[Renungan] Motivasi yang (Awalnya) Lemah

Setiap perbuatan yang dilakukan haruslah dengan sungguh-sungguh, tidak peduli apa pun motivasinya. Seperti apa hasil yang akan kita dapatkan, tidak perlu kita pikirkan. Berbuatlah dahulu, maka Anda dapat memetik hasilnya kapan pun Anda inginkan.

Read the rest of this entry »

September 5th, 2008

Telepon Danish

“aduh… Sita kenapa telpon melulu sih, pasti karena suka sama Danish.” Omel Danish sambil tetap saja mengakat dan menerima telepon dari Sita. “Iya… aku sekarang masih di rumah. Iya… nanti kita ketemu di Hotel PIM.” panjang lebar aku dengar Danish ngobrol dengan Sita. Aku hanya bisa tersenyum sendiri melihat tingkah laku anak lelakiku yang baru berusia 4 tahun itu. sehari itu sudah beberapa kali dia mengobrol dengan sita di telepon. Hasyim… tiba-tiba Danish bersin, secara reflek tanganku meraih kotak tisu yang sedari tadi di pegangnya. “Umi, jangan!” protes Danish. “Ini kan telepon Danish.” “Iya, maaf ya, sayangku, buju-bujuku.” sahutku, sambil pergi mengabil tisu dari atas meja, untuk mengelap ingus yang sudah hampir sampai ke mulutnya.

September 5th, 2008

Pelabuhan Terakhir Kehidupan

Oleh : Heri Ispriyahadi

Belum lama berselang saya kehilangan Ayahanda mertua tercinta yang telah berpulang ke rahmatullah. Ruh pun telah berpisah dengan raga. Yang tersisa hanyalah jasad yang terbujur kaku tak berdaya melakukan apa-apa. Rangkaian kegiatan dilakukan dari memandikan, menyolatkan, mengkafani dan terakhir menguburkan jenasah almarhum ayah tercinta. Tubuh yang sudah tak bernyawa mulai tercerai berai dan menyatu dengan tanah.

Read the rest of this entry »

September 5th, 2008

titian di depan mata

95% jalan penulis, terbuka.

“Terakhir, tetapi juga terpenting. Setelah bekal dan semua hal untuk menulis kamu punyai, jangan sampai lupakan tip-tip berikut ini. Meskipun tidak ada hubungannya dengan menulis, tetapi pengaruhnya besar banget terhadap penulisan….” Halaman 171 bab 13.

Read the rest of this entry »

September 2nd, 2008

Punya kuasa? Enak, gila!

Kekuasaan itu melenakan. Kekuasaan itu cenderung korup. Kekuasaan itu memabukkan. Ada banyak deskripsi tentang sisi gelap kekuasaan. Bukan hanya kekuasaan yang dimiliki para petinggi negeri tetapi juga yang berada di level bawah.

Read the rest of this entry »

September 2nd, 2008

Malaikat Beroda Dua

Pagi itu, untuk pertama kalinya aku tidak setuju kepada mendung yang bergelayut. Hati kecilku miris, merasakan bahwa hujan terlalu cepat akan turun ke bumi ini. Betapa tidak, lima belas menit sudah aku menunggu ojek dipersimpangan jalan. Tak satupun yang melintas. Demikian juga orang – orang yang berkendaraan. Sepi. Mungkin mereka menarik pelajaran dari alam ini, pelajaran tentang kewaspadaan yang berbunyi: ”tak baik bepergian ketika hari sudah mendung”.

Read the rest of this entry »

September 2nd, 2008

Enter the Writing

“Kita butuh makna emosi, bukan marah. Jangan berfikir, gunakan perasaan. Seperti saat jari menunjuk bulan, jangan konsentrasi pada telunjuk. Engkau akan kehilangan keindahan bulan. Kendalimu bukan di otak, tapi, perasaan”.

Read the rest of this entry »

September 2nd, 2008

Batal Bunuh Diri karena Kinoysan

Ketika bumi terbelah

Ketika air laut membuncah

Ketika halilintar bersahut marah

Ku ingin, tubuh ini segera ditelan bumi

Lenyap, ke negeri antah berantah

Aku putus cinta (duh, segitunya)

Read the rest of this entry »