Pamer paha di Pasar Ular
Jakarta macet sudah bukan cerita baru. Tiada hari tanpa macet. Apalagi di ruas jalan yang berdekatan dengan tempat berbelanja. Yang megah mentereng maupun yang letaknya nyempil. Sama saja. Macet!
Sore itu saya ada di antara kemacetan di ruas jalan yang melewati Pasar Ular. Pasar yang terletak di daerah Plumpang Jakarta Utara itu ramai dikunjungi pembeli. Apalagi menjelang lebaran. Padahal kondisinya jauh dari nyaman. Langit-langit tempat berjualan yang rendah membuat keadaan di dalam pasar terasa panas. Lorongnya yang panjang dan sempit membuat mereka yang berbelanja kesana harus berdesakan. Bayangkan betapa pengapnya. Belum lagi mobil-mobil yang diparkir di bahu jalan, angkutan umum yang berhenti menaik-turunkan penumpang, orang-orang yang menyeberang sembarangan.
“.. judulnya pamer paha,” kata adik saya menggambarkan keruwetan di sekitar Pasar Ular. Pamer paha yang dia maksud adalah padat merayap tanpa harapan.
Sementara saya terjebak pamer paha, diantara asap kendaraan, debu yang beterbangan, sinar matahari sore yang masih terasa menyengat, seorang bapak tampak mengayuh sepeda onthelnya. Di boncengan duduk seorang perempuan. Sepertinya mereka suami istri. Keduanya mengenakan seragam petugas kebersihan jalan berwarna oranye yang tampak kotor.
Di depan sebuah warteg mereka berhenti. Berbincang sejenak. Tangan mereka merogoh saku celana masing-masing. Setelah itu mereka saling menghitung uang yang ada di tangan. Tampak si suami mengambil beberapa kepingan logam yang ada ditangan istrinya kemudian masuk kedalam warteg. Mungkin membeli makanan untuk buka puasa atau ungkin makan malam. Si istri menunggu di samping sepeda.
Sayang saya tak bisa melihat akhir dari episode itu. Kira-kira si suami sambil membawa bungkusan makanan keluar dari warteg, menyerahkan kepada istrinya dan mereka akan berboncengan menuju rumah. Kemudian menikmati makanan bersama.
Pulang bekerja, di sore yang cerah, sambil berboncengan naik sepeda.. hmmm… Sebuah pemandangan yang menyenangkan saat berada di tengah kemacetan.


October 8th, 2008 at 2:23 pm
loh, lita? ini lita kan…
tumben-tumbenan tulisannya tak tuntas begini. atau, lagi banyak pikiran order kue lebaran keteteran? nggantung pula. capek kan, nggantung terus tanpa berpijak.
“di depan sebuah warteg….” mestinya bagian ini lebih di eksplore lagi. jadi, dalam penderitaan “pamer paha” justeru ada sepasang pengendara sepeda yang tetap merasa asyik, tidak terpengaruh.
dan lagi, endingnya itu loh ta, “…. sebuah pemandangan yang menyenangkan….”. sal masih belum bisa meresapi, menyenangkan yang lita maksud.
but, salut selalu buat lita dalam pemilihan judul. selalu mengundang “the other penafsiran” he..he..he… tadinya kirain sal apaan tuch pamer paha. tak tahunya…
October 9th, 2008 at 10:04 am
Iya nih, tulisannya kacau mikirin Sal yang belum mengembalikan buku, hiks..
Next time better deh..
October 9th, 2008 at 12:51 pm
waduh, kayaknya, buku bakalan lama deh ta. lagi ngidam nih, mesti nunggu delapan bulan sepuluh hari lagi baru bisa balik. kemarin, check-up kata dokter positive. kasihan kan, kalau bunting muda diusir?
atau,
nih buku sudah lengket sama sal deh kayaknya. mending lita beli lagi deh, tinggal sebutin no rek aja, sal gantiin.
October 16th, 2008 at 12:41 pm
Dear Lita,
sebenarnya menulis kisah sehari2 kalo diramu dgn rajin, bisa jadi buku lhoooh…. yok semangat untuk tulis buku….
Kinoysan