Pelajaran Kecil dari Sebuah Negara Besar
Seorang Laoshi -guru dalam Bahasa Mandarin- saya, pernah menceritakan pengalaman nya selama ia menuntut ilmu di Negara Republik Rakyat
China. Selama bercerita, ia sering berkata, “ Saya kagum sama mahasiswa di
sana,” .
Guru saya itu memperoleh beasiswa dari Beijing University dan sebagai mahasiswa asing, ia ditempatkan di asrama khusus mahasiswa asing bersama-sama dengan mahasiswa yang berasal dari negara lain. Sedangkan mahasiswa lokalnya ditempatkan di asrama yang berbeda lokasinya.
Fasilitas yang diperoleh oleh mahasiswa asing sangat berbeda dengan yang diperoleh mahasiswa lokal. Di dalam asrama mahasiswa asing, fasilitas yang diberikan begitu lengkap sesuai standar internasional. Listrik dan air dapat diperoleh selama 24 jam, kamar dengan pemanas ruangan dengan kamar mandi ada di setiap kamar. Sementara itu untuk asrama mahasiswa lokal diberikan fasilitas yang begitu terbatas. Listrik dan air hanya menyala sampai jam 10 malam, sedangkan kamar mandinya terdiri dari beberapa buah seperti di barak militer yang digunakan bersama-sama.
Namun demikian, keadaan seperti ini tidak membuat mahasiswa lokal iri, tapi justru menambah semangat mereka untuk terus berjuang. Semangat belajar mereka boleh dibilang sungguh luar biasa. Bayangkan saja, jika harus belajar sampai larut malam, sedangkan listrik di tempat mereka hanya menyala sampai jam 10 malam, mereka tak hilang akal.
Taman yang ada di asrama mahasiswa asing bisa digunakan sebagai tempat belajar, sebab lampu-lampu di taman itu masih menyala. Walhasil, setiap malam dikala mahasiswa asing sudah tertidur lelap, tengoklah ke taman, pasti ada mahasiswa lokal yang berdiri atau duduk di bawah terangnya lampu taman sambil membawa buku. Belum lagi kalau hujan turun, sungguh suatu perjuangan.
Selama Laoshi saya menimba ilmu di
sana, ia kadang malu sendiri kalau harus jalan-jalan keluar. Sebab ia jarang menemukan anak muda khususnya mahasiswa yang hanging around di mal-mal. Tempat yang paling sering dikunjungi oleh para mahasiswa di sana pada saat libur atau istirahat adalah perpustakaan dan pusat-pusat olahraga.
Para mahasiswa lokal itu lebih suka menghabiskan waktunya membaca dan belajar. Prinsip mereka, sebagai tuan rumah merasa harus lebih baik dari mahasiswa asing. Mereka juga lebih suka bermain pingpong atau bulutangkis ketimbang jalan-jalan atau hura-hura. Kata Laoshi saya, “Anak muda di
Beijing yang bisa main gitar bisa dihitung jari,”.
Jumlah perbandingan angkatan kerja di RRC yang ratusan juta jumlahnya dengan lapangan pekerjaan yang ada telah membuat para pemuda di sana harus bersaing secara ketat untuk bisa memperoleh pekerjaan. Pendidikan tinggi adalah suatu keharusan di sana. Setiap orang berlomba-lomba saling bersaing masuk ke universitas-universitas favorit.
Ada cerita lain yang Laoshi saya kisahkan yang membuat saya ikutan prihatin. Ceritanya, ada salah satu teman Laoshi saya yang pindah kuliahnya ke Beijing University gara-gara di tempat kuliahnya yang dulu- masih di Kota Beijing juga- terlalu banyak mahasiswa Indonesia-nya. Ia merasa selama kuliah di
sana, ia tidak mendapatkan kemajuan dalam Bahasa Mandarinnya, padahal ia mengambil jurusan Bahasa Mandarin. Sebab apa? Karena para mahasiswa Indonesia di
sana hanya bergaul dengan sesama mahasiswa yang berasal dari Indonesia juga. Hasilnya, mereka jadi jarang menggunakan Bahasa Mandarin. Wah, kebayangkan, sudah jauh-jauh pergi ke RRC untuk belajar Bahasa Mandarin, eh nggak tahunya ngomongnya tetep memakai Bahasa Indonesia.

