Perjalanan Iman Cak Mul
Perjalanan Iman Cak Mul
Ayahnya seorang abangan penggemar keris yang menurut ingatan Cak Mul ayah jarang menjalankan salat lima waktu. Di kota kecil Jombang Jawa Timur pada tahun 1965 abangan identik dengan PNI atau PKI, sedangkan kaum santri identik dengan NU atau Muhamadiyah. Agar terlihat santri sang ayah salat Maghrib bersama di Langgar/mushola di depan rumah.
Dari keluarga garis ibu, merupakan keluarga taat beragama. Ibu tidak mengajarkan secara khusus cara salat, tapi hanya memberi contoh sikap hidup yang baik, menghormati semua tetangga meskipun berbeda keyakinan. Ibu seorang bakulan pasar (pedagang kecil) kain batik dan handuk keliling antar Desa. Pergaulan dengan aneka ragam latar belakang agama dari orang-orang pasar Ibu Cak Mul terbiasa menerima perbedaan . Setiap Hari Raya Idhul Fitri rumahnya selalu mendapat kunjungan dari keluarga yang berbeda agama penganut Kristen Jawi Wetan. Selesai salam-salaman para bakul pasar berbicara apa adanya, cair, tidak ada sekat. Begitu pula pada bulan Desember, ibu Cak Mul menyempatkan waktu ke rumah teman-temannya yang beragama Kristen untuk sekedar salam-salaman selamat Natal.
Belajar salat Cak Mul dari adik ibu yaitu Bu Lik (Bibik) ketika masih SD kelas III. Satu Tahun Cak Mul mengikuti Bu Lik di kota kecil Ponorogo. Bu Lik seorang santri Muhamadiyah mulai mengajarkan salat dengan menyisipkan bahasa Jawa. Sembayang ia gunakan untuk kata salat. Bacaan doa dalam setiap rukun salat menurut Bu Lik tidak perlu harus hafal seluruh, tapi cukup hafal sedikit sudah boleh bagi anak kecil. Yang utama, menjalankan salat dulu nanti kalau sudah mulai hafal semua, wajib membaca doa dalam setiap rukun salat.
Tanpa belajar di sekolah madarasah atau les guru agama dan latihan membaca ayat-ayat pendek dalam huruf latin, Ia menjadi seorang buta huruf dalam bahasa Arab. Cak Mul kecil rajin menjalankan salat lima waktu hingga dewasa. Ya kadang ada kalanya masih bolong Subuh dan Ishak tidak salat. Kadang salat, kadang tidak juga dilakukan oleh teman-teman sekolah yang berlatar belakang pesantren.
Ketika remaja aktif siang, malam membantu kegiatan mesjid dari mengurusi kebersihan, mengedarkan kotak amal setiap Jum’at sampai sebagai panitia zakat dan panitia Qurban. Tatkala itu ia melihat sebagian uang zakat yang terkumpul ditelep oleh beberapa pengurus mesjid. Cak Mul tidak bisa menerima kenyataan itu. Uang untuk fakir – miskin ditilep tokoh mesjid? Lho, ini bagaimana ? Ini membohongi santri, kok tega amat. Apakah ia harus ikutan menjadi anggota penilep uang zakat? Pertanyaan itu mengguncang perasaannya, ini tidak adil.
Sejak itu arek Jawa Timur ini tidak mau mengikuti kegiatan mesjid. Ia marah. Apa gunanya belajar agama jika bertingkah laku seperti maling. Itu namanya berkhianat terhadap ajaran agama. Pengurus mesjid yang menilep uang zakat itu sudah kering batinnya. Kalau begitu Tuhan sudah tidak berpihak kepada para fakir miskin, pikir Cak Mul. Ya, sudah sekarang tidak salat, asalkan berbuat baik kepada setiap orang.
Berhari-hari, berbulan-bulan Cak Mul meninggalkan kewajiban salat lima waktu. Ia benci pada pengurus mesjid. Dalam keadaan dendam itu, Ia terkena musibah menghilangkan barang berharga milik sahabatnya. Kata pepatah ibarat jatuh tertimpa tangga. Ia sangat gelisah karena tidak mampu mengganti dalam bentuk barang maupun uang. Dari kegelisahan dan ketakutan Cak Mul melakukan upaya salat malam, salat wajib yang sudah ditinggal. Pokok doanya memohon dirinya mendapat ketenangan. Dalam setiap salat ia berulang-ulang mengucapkan surat Al-Fatikah berikut artinya.
Dorongan ingin mengadu kepada Tuhan melalui bahasanya sendiri yaitu bahasa Indonesia, ia sangat bisa menghayati dari isi doa. Menurutnya isi doa ini sangat membela dirinya dan memberikan jalan keluar dari kesulitan, ada rasa kedekatan dengan Tuhan. Lantaran muncul rasa dekat ketika salat, ia tidak merasakan kebosanan, tidak ingin berhenti. Terus ingin salat.
Kedekatan Cak Mul dengan Tuhan sangat berlawanan ketika ia membenci pengurus mesjid. Tuhan yang semula ia curigai sekarang begitu dekat. Perjalanan keimanan Cak Mul ini sangat pribadi, tidak semua orang mengalami. Masing-masing individu memiliki perjalanan iman masing-masing. Ia kadang dibawah, kadang diatas bahkan mengalami kekalahan. Karena meyakini pentingnya iman maka Cak Mul harus memenangkan pergulatan iman itu.


October 8th, 2008 at 12:25 pm
wow,keyen tucH…….kuat jg ya??? yAng kuat ya Mas…
October 8th, 2008 at 2:10 pm
waduh, bingung sal mau nulis apa. pokoknya, nulis terus deh. nanti juga ketemu formula yang enak dan bikin “betah” mata untuk membaca.
yang sal tangkap sih, intinya tentang pertentangan “nilep zakat”, perang batin, tak sependapat dengan teman. namun akhirnya, ya, bingung.
apakah karena tidak ada pembuka dan penutup. alias datar-datar saja?
October 11th, 2008 at 7:07 am
Jadi ngingetin saya sama Kang Sobary nih…

Terus Menulis, Mas
October 16th, 2008 at 12:33 pm
Dear Winarno,
cerita yang bagus, tapi perlu ditata lagi biar runtut. Anggep aja lagi cerita sama temen…. baca buku JADI PENULIS FIKSI? GAMPANG, KOK! dan baca tips penulisan di blog saya.
Kinoysan
October 17th, 2008 at 1:34 pm
untuk pendapat saya cukup bagus bukan cara menulisnya tapi bisa aku abil isi dari cerita tersebut ternyata banyak kesamaan dengan cerita kampung dulu / sekarang yang jelas tulis terus aku akan baca
makasih pak Winarno