Perkosakata 2008
Setelah didahului oleh sejumlah kegiatan online berupa resensi, lomba cerpen 100 kata, dan lomba puisi, puncak acara diisi dengan kegiatan offline hampir satu hari penuh. Puncak acara mengambil tempat di Perpumda DKI Jakarta pada tanggal 6 April 2008 dan dimulai tepat pukul 09.30 WIB. Setelah kerap bertemu di dunia virtual, para anggota komunitas Kemudian akhirnya dapat saling bertemu dalam ajang kopi darat yang dibungkus dalam kegiatan-kegiatan membangun seperti workshop puisi, pembacaan puisi, diskusi penerbitan novel, pembacaan cerita mini, musikalisasi puisi, serta bincang kemudian. Nama yang diambil cukup unik, Perkosakata, berasal dari frase perkosa dan kata dan diartikan sebagai upaya penulis bermain dengan kata-kata untuk membentuk makna. Melalui acara Perkosakata diharapkan penulis semakin berani mengeksplorasi tulisan, juga memotivasi diri untuk beraksi dengan karya-karyanya.
Acara yang diselenggarakan oleh komunitas penulis kemudian.com ini turut disponsori oleh Azzikra Majalah Muslim Modern, Cnet Kemang Internet Corner, dan Indofood. Namun sponsor yang terbatas tidak membatasi pihak panitia untuk memunculkan tokoh-tokoh penulis seperti Dino Umahuk, TS Pinang, Kinu Triatmodjo, Sefryana Khairil, Gita Pratama, Winna Effendi, dan banyak lagi. Selain menjadi pemain penting dalam menyukseskan sesi-sesi, para tokoh yang telah disebutkan di atas ternyata merupakan anggota komunitas kemudian jauh sebelum acara Perkosakata dilangsungkan. Adapun ternyata Kemudian cukup akrab dengan komunitas sastra online lain maka komunitas Fordisastra, Apsas, BuMa, dan Warung Puisi turut diundang dalam puncak acara Perkosakata ini.
Di tengah kesibukannya yang padat, Windry Ramadhina selaku Ketua Panitia Perkosakata 2008 memberikan sepenggal kata sambutan yang mengundang tepuk tangan meriah lalu kembali bersama para panitia berseragam merah. Deretan hidangan kue telah tersusun rapi di sebelah kanan ruangan ketika TS Pinang dan Kinu Triatmodjo mengambil tempat di hadapan seluruh peserta acara, lalu kemudian duduk bersila. Slide demi slide dihamparkan di atas proyektor hingga jam makan siang menjelang.
Setelah penghargaan berupa sertifikat diberikan kepada TS Pinang dan Kinu Triatmodjo atas partisipasi mereka dalam mengisi sesi berikut workshop, tibalah saatnya Winna Effendi dan Sefryana Khairil membawakan sesi diskusi tentang penerbitan novel. Winna yang belum lama ini menerbitkan novel perdananya dengan judul “Kenangan Abu-Abu” menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan Sefryana—seorang penulis teenlit yang telah menerbitkan tiga novel dalam usianya yang belia. Tiga orang peserta acara terpilih yang melontarkan pertanyaan selama sesi tanya jawab mendapatkan novel Winna beserta kesempatan untuk foto bersama.
Acara terus berjalan meriah disusul oleh pembacaan puisi oleh Nur Fajriyah Apriliani, pembacaan cerita mini oleh Gita Pratama, serta diakhiri mempesona dengan pembacaan puisi oleh Jorgy. Para peserta yang terpukau oleh aksi mereka, menjerit takjub ketika Jorgy berteriak lantang atau tertawa ketika Gita naik ke atas kursi seiring berjalannya alur cerita.
Selaku pemilik dan pendiri website sekaligus komunitas Kemudian, Rizqi dan Tiva mengambil tempat dalam sesi bernama Bincang Kemudian. Diskusi ini meliputi pembahasan rencana Kemudian untuk menyongsong kemudian hari serta sedikit sejarah terbentuknya Kemudian. Sepasang insan yang telah menjadi suami istri tersebut duduk berdampingan saat menjelaskan setiap pertanyaan pembawa acara maupun dari peserta yang hadir. Pada akhir sesi, setiap anggota komunitas Kemudian yang telah hadir dipersilahkan maju satu per satu untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan harapan mereka ke depannya bagi situs komunitas tercinta. Suasana penuh kekeluargaan dari mereka yang belum pernah bertemu di dunia realita semakin menyatu dalam acara berfoto bersama sebagai penutup acara. Sebelum pulang, setiap peserta yang telah hadir dibekali dengan sebuah sertifikat sebagai tanda terima kasih.

