Punya kuasa? Enak, gila!
Kekuasaan itu melenakan. Kekuasaan itu cenderung korup. Kekuasaan itu memabukkan. Ada banyak deskripsi tentang sisi gelap kekuasaan. Bukan hanya kekuasaan yang dimiliki para petinggi negeri tetapi juga yang berada di level bawah.
Di milis yang menjadi ajang komunikasi warga sektor perumahan tempat saya tinggal, sedang ramai membahas berita yang menyangkut kekuasaan seorang satpam dan tukang sayur. Di perumahan yang menerapkan sistem satu pintu, satpam adalah pihak yang harus dihadapi pertama kali oleh siapapun yang bermaksud masuk ke dalam lingkungan. Mulai dari tamu warga, mobil antar jemput, mobil pengangkut sampah sampai tukang sayur.
Ceritanya seorang warga berbelanja di tukang sayur langganannya. Setiap pagi beberapa tukang sayur memang berkeliling di sektor tempat saya tinggal. Ketika tengah asyik memilih belanjaan, seorang satpam datang menghampiri dan ikut berbelanja. Yang membuat warga ini takjub, si satpam hanya membayar sebesar Rp. 10.000 untuk beberapa ikat sayuran, tempe dan ayam. Ketika ditanyakan ke tukang sayur, ia bercerita bahwa hal itu sudah berlangsung beberapa waktu lamanya. Semacam upeti kepada si satpam agar ia dibolehkan masuk dan berjualan. Untungnya satpam yang seperti itu hanya satu orang. Coba kalau setiap hari si tukang sayur itu harus memberikan upeti, wahhh…
Diakhir emailnya, si warga ini meminta agar namanya dan nama si tukang sayur dirahasiakan. Tidak disebutkan sebagai pelapor bila si satpam akan dikenakan sanksi atau teguran.
“Sepertinya akan lebih baik bila teguran itu ditujukan untuk seluruh satpam bukan hanya oknum satpam yang bersangkutan,” demikian warga itu menyarankan. Alasannya karena ia tidak ingin si tukang sayur dan dirinya mendapatkan ancaman dan ‘gangguan’ keamanan.
“Enak juga ya si satpam itu,” komentar warga lainnya. “Bisa berbelanja sesukanya, bayar semaunya.”
Tidak heran banyak orang yang ingin berkuasa walaupun kekuasaan kecil-kecilan. Punya kuasa? Enak, gila!


September 3rd, 2008 at 9:43 am
itu sih, soal mental ta. seberapa keberanian si tukang sayur dalam membela hak usaha. sal sih, gak semata-mata nyalahin satpamnya. tukang sayurnya juga salah, kolusi itu namanya. nyari slamet dengan nyogok.
klo cuman kekuasaan sih, gak seberapa sebenarnya. stempelnya itu loh yang bikin “wah”. seberapa tinggi kekuasaan, kalau ndak pegang stempel, ya cuman jadi pajangan doang. makan hati. so, sal gak perlu kekuasaan deh, yang penting stempelnya aja.
September 3rd, 2008 at 1:00 pm
Dear Lita,
judulnya pliis… cari yang lebih positif ya… kata enak kalau dideketin sama gila kayaknya kurang pas….
Uraian sih sudah bagus… Hayo kapan bukunya keluar?
Kinoysan
September 4th, 2008 at 12:29 pm
hah…mbak kinoysan…emang lita mo buat buku ??
wah sy sih bakalan jadi orang pertama yang beli dech,,,,emagn tulisannya enak dibaca kl dia lg mood n rajin nulisnya,,,cuma kadang2 kl lagi males keliatan bgt tuh tulisan maksa bikinnya,,,,heheh sori ta..just another kripik buat loe,,
September 4th, 2008 at 1:54 pm
wah… dibacanya enak, mengalir dengan lembut.
singkat padat dan jelas. Tidak membuat aku ingin berhenti di tengah cerita.
September 6th, 2008 at 7:35 am
keren….

Terus Berkarya Lita….
September 6th, 2008 at 12:31 pm
ha ha ha, iya ya, jadi ingat tulisan lita yang judulnya ‘kripik’ waktu itu..
Lita, aku sampe kaget lho baca judulnya! Tapi menurutku sih ada baiknya juga, pembaca jadi penasaran kan!
September 6th, 2008 at 4:16 pm
Keadaan sehari-hari yang terlepas dari perhatian kita, namun ini kenyataan yang terjadi di masyarakat. Memang bangsa Indonesia mentalnya sudah sangat jelek sekali. Kejadian ini tidak saja dilakukan oleh kalangan atas tapi juga kalangan bawah. Kekuasaan dan wewenang selalu disalah gunakan untuk kepentingan pribadi atau golongan.
Tulisan Lita selalu mengena, enak dibaca. Maju terus Lita. Saya ingin sekali bisa menulis sepertimu. Selamat.
September 8th, 2008 at 7:24 pm
to all comentators, thanks a lot guys!