Ragu
Kulihat pantulan bayanganku di cermin. Seorang gadis dengan rambut panjang berbandana merah muda balas menatapku. Wajah dua puluh satu tahunnya yang muda dan segar sesaat mengukir kerut di kening. Sapuan tipis – tipis bedak dan olesan tak-kentara lipstik merah hati tak mampu menutupi pucat wajahnya. Aku mencoba untuk tersenyum, meredam gelombang kekhawatiran yang dari semalam sudah kurasakan. Cermin tidak bisa berbohong. Senyum yang kembali terpantul darinya menyisakan bias kegelisahan yang masih kurasa pagi ini.
Mataku beralih ke seragam abu-abu yang sedang kukenakan; masih terlihat kebesaran sejak ibu menjahitkannya khusus untukku sebulan yang lalu. Tubuh mungilku seakan tenggelam dalam seragam pertamaku, ditambah tas jinjing warna coklat tua yang selalu hampir menyentuh tanah setiap kali aku mencoba membawanya dengan tangan kananku. Aku masih ingat kata – kata yang ibu ucapkan ketika memberikan tas coklat itu untukku beberapa hari yang lalu.
“Tadi di pasar, tidak sengaja ibu melihat tas ini.” Ibu mengeluarkan sebuah bungkusan besar dan saat itu aku tersenyum gembira menanti – nanti apa yang ada di dalamnya.
“Ibu ingat mulai Senin minggu depan, kau akan mulai mengajar.” Bungkusan besar tadi diserahkannya padaku, sementara ibu mulai menjahit pakaian pesanan orang. “Bukalah” Tak sabar aku membuka bungkusan itu dan mencium ibuku dengan ucapan terima kasih bertubi – tubi demi melihat tas jinjing yang aku impikan. Tapi tak sepenuhnya seperti harapanku, tas jinjing tadi kurasakan terlalu besar untuk tanganku. Aku ingin mempunyai tas jinjing coklat kecil seperti punya Rahma, yang terlihat pantas bahkan ketika digunakan untuk pergi ke pesta pernikahan. Ibu sepertinya bisa melihat ke dalam pikiranku.
“Sengaja ibu pilihkan yang besar, biar muat dimasuki seluruh tugas muridmu dan semua buku – buku ajarmu.” Selesai mengatakan hal tersebut, ibu menatapku sungguh – sungguh, menghentikan jahitannya kemudian mengatakan satu hal yang tak mungkin kulupakan, “Ibu bangga kau bisa menjadi guru. Itu pekerjaan yang sungguh mulia; mendidik anak – anak menjadi pribadi yang berbudi dan pintar. Bapak juga pasti bangga kalau masih ada di sini.”
Mengingat kata – kata ibu tersebut membuatku semakin mual. Ini hari pertamaku mengajar. Karena masih berstatus guru baru, untuk sementara aku akan mengajar pelajaran Seni untuk anak – anak kelas 4 dan 5. Dan itulah masalahku. Aku tidak percaya diri untuk menyanyi di depan kelas. Padahal itulah yang biasa dilakukan guru Seni terdahulu setiap kali masuk kelas. Ujian praktek mengajarku seakan tak berbekas dalam menghadapi hal ini. Tak terasa matahari sudah masuk menyeruak lewat jendela. Sudah saatnya aku berangkat ke sekolah. Kutegakkan kepalaku dan kuteriakkan kalimat ini dalam hati: “Aku pasti bisa!” Aku ingin membuat orangtuaku bangga padaku.

