[renungan] Cinta itu (mungkin sebaiknya) buta
Seperti biasa, tukang sayur langganan ibu-ibu di RT kami selalu mangkal di ujung jalan. Tepatnya di depan sebuah rumah kosong yang ia manfaatkan sedikit halamannya untuk meletakkan beberapa barang dagangannya.
Pukul enam pagi, saya berjalan ke tempat tukang sayur itu bersama Oma, panggilan saya untuk tetangga yang rumahnya selang dua rumah dari rumah saya. Usianya sudah 70 tahun. Jalannya tak bisa lagi cepat. Tempo bicaranya lambat. Matanyapun tak lagi awas. Walau sudah dibantu dengan kacamata, kadang ia memerlukan waktu untuk bisa mengenali orang lain.Di tukang sayur kami bertemu Ibu Umar, tetangga yang rumahnya di blok belakang. Sudah sepuh juga. Sambil memilih-milih sayuran, keduanya berbincang akrab. Tentang usia yang sudah melewati angka enam puluh tahun. Kondisi tubuh yang tak lagi seperti dahulu. Mudah lelah, tak tahan berdiri lama, dan keluhan khas usia lanjut lainnya. Topik pembicaraanpun berganti soal pasangan hidup yang sudah mendahului menghadap Sang Khalik.
”Suami saya sudah meninggal lima tahun yang lalu,” Oma bercerita. Wajahnya terlihat sedih. Pandangan matanya menerawang jauh. “Sampai sekarang saya masih saja sedih setiap kali saya ingat dia. Dia tidak pernah bersikap kasar sama saya. Walaupun kadang-kadang kami bertengkar. Yahhh… namanya juga hidup berumahtangga. Ada saja masalah yang datang. Tapi bertengkarnya tidak pernah lama. Setelah itu baikan lagi.. mesra lagi..”
“Suami saya itu ganteng loh, Bu!” Oma melanjutkan ceritanya. Kali ini matanya tampak berbinar. “Dari pertama saya kenal kemudian menikah sampai akhirnya dia meninggal, dimata saya dia itu tidak berubah. Masih sama seperti dulu. Tetap ganteng.”
“Ibu juga cantik, kok! Pasti dulu Bapak jatuh cinta karena terpesona dengan kecantikan Ibu,” Bu Umar mengomentari.
Oma tampak tersipu mendengarnya. “Ah, Ibu bisa saja! Mana ada nenek-nenek cantik.”
“Kalau dibandingkan dengan mereka yang masih muda ya kita pasti kalah. Tapi untuk ukuran nenek-nenek, kita berdua ini cantik loh, Bu!” Mereka berdua tertawa-tawa.
Udara pagi terasa dingin membelai kulit tetapi ada kehangatan di hati saya mendengar cerita mereka. Sayapun bertanya kepada diri saya sendiri. Apakah saat saya mencapai usia seperti mereka, saya tetap mencintai dan bangga dengan pasangan hidup saya? Tetap memujinya dan tidak berkeluh kesah menghadapi kerewelannya?
Cinta itu mungkin sebaiknya memang buta. Agar kita tetap jatuh cinta lagi dan lagi dengan pasangan kita. Tidak mudah terpengaruh pada rumput tetangga yang seringkali terlihat lebih hijau.


August 7th, 2008 at 12:45 pm
iya ya. ngapain mesti tertarik rumput tetangga. lah wong, meski hijau banyak kutunya koq.
lagi-lagi, pesan yang disampaikan mengena banget. aliran kalimatnya ndak njlimet. enteng dibaca, tapi dalam diresapi. buta versi lita ternyata lain dengan penafsiran sal. dan, sal pun ikutan berbelok serta terbetot oleh paragraf akhir. otomatis, menjadi sepemikiran dengan lita.
hanya saja, gigitannya koq belum berasa banget ya. mungkin kalau paragraf ketiga “…Walaupun kadang-kadang kami bertengkar. Yahhh… namanya juga hidup berumahtangga. pernah, waktu itu gara-gara saya tegur kenapa pulang sampai larut….” ada contoh peristiwa misalnya.
begitu pula tentang “kegantengannya”, juga dikasih sebuah cerita.
hmmm, lebih panjang lagi dong ceritanya. dialog-dialognya itu loh, luwes. bikin terus pengin baca.
August 9th, 2008 at 8:30 am
Thanks ya atas masukannya. Mudah-mudahan tulisan selanjutnya bisa lebih baik dan ‘menggigit’.. kriuk.. kriuk.. kriuk..
August 11th, 2008 at 3:36 pm
Hahahaha, Saaal Sal, masa maunya yang ‘menggigit’ melulu.. Kadang-kadang, aku merasa kalau sebuah tulisan itu ada kalanya lebih baik yang menenangkan, ada kalanya juga lebih tepat bila menegangkan. Um.. Mungkin tulisan-tulisan Lita lebih ke arah kembang gula yang manis..
Atau es krim? 
August 14th, 2008 at 12:02 pm
sssttt… yang manis bukan kembang gulanya. tapi, litanya. ups…..