[Renungan] Motivasi yang (Awalnya) Lemah
Setiap perbuatan yang dilakukan haruslah dengan sungguh-sungguh, tidak peduli apa pun motivasinya. Seperti apa hasil yang akan kita dapatkan, tidak perlu kita pikirkan. Berbuatlah dahulu, maka Anda dapat memetik hasilnya kapan pun Anda inginkan.
Saya menyadari bahwa setiap motivasi seharusnya kuat karena merupakan dasar dari setiap perbuatan. Pada awalnya mengirim renungan pribadi kepada sepuluh teman hanyalah perwujudan dari tugas sekolah belaka. Siapa yang dapat menyangka, tanggapan yang saya peroleh demikian luar biasa?
Oleh karena setiap siswa diwajibkan membuat sebuah rencana pribadi dan rencana jemaat untuk setiap minggu, saya merasa kebingungan. Membuat rencana itu mudah, namun melaksanakannya? Meskipun rencana ini dimaksudkan agar setiap siswa dapat mengasah keimanannya masing-masing (yang termasuk dalam salah satu indikator pelajaran religiositas), dengan apa saya akan mewujudkannya?
Akhirnya saya mendapatkan sebuah ide dengan memanfaatkan sms gratis sesama XL dari isi ulang Xtra. Selain hemat, mengirim sms renungan maksimal 160 karakter setiap harinya sepertinya bukan hal yang terlalu sulit. Setiap hari saya hanya perlu menyimpan sms yang saya kirimkan kepada 10 orang tersebut untuk disalin ke buku tugas di kemudian hari. Sepertinya sangat mudah ya?
Kenyataannya ternyata tidak semudah yang dibayangkan, perlu konsistensi tambahan untuk merenung setiap harinya dan menyusun sebuah kalimat renungan yang tergolong pendek. Bila dibandingkan dengan sms biasa, tentu sangat jauh perbedaannya. Risiko tambahan, saya harus kehilangan jatah 10 sms setiap harinya. (Bagi seorang penggila sms, jatah 10 sms itu berarti lho!)
Ternyata tidak semua orang berkenan menerima sms renungan seperti itu. Padahal biasanya semua teman-teman saya selalu membalas setiap sms, bahkan yang bersifat basa-basi sekalipun. Ada pula yang terang-terangan menolak. Biar bagaimana pun, saya tidak dapat memaksakan kehendak. Namun sebaliknya, ada yang merasa bahagia sekali menerima sms-sms renungan. Bahkan, tidak jarang mereka menanyakan atau sekadar mengingatkan saya untuk mengirimkannya pada mereka. Bagi saya, hal itu lebih penting daripada nilai mana pun.
Di akhir minggu, entah apa sebabnya saya merasa sangat gembira karena berhasil konsisten setiap harinya. Saat hendak menyalin kalimat-kalimat pendek tersebut dan penjelasannya di buku tugas, saya terperanjat luar biasa. Saya lupa menyimpan sms yang saya kirim hari Rabu! Saat itu hari Selasa, artinya sudah hampir seminggu yang lalu saya mengirimkannya bukan?
Saya mengirim sebuah sms kepada tiga orang yang saya kira mungkin menyimpannya. Luar biasa, saya tidak perlu menunggu waktu lama untuk mendapat kalimat itu. Dua di antaranya langsung membalasnya saat itu juga, seorangnya lagi rupanya tidak mengaktifkan handphone.
Terbukti, dari setiap tindakan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, kita akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Jika sebelumnya motivasi saya masih tergolong lemah dan hanya karena kewajiban belaka, bayangkan jika Anda memiliki motivasi yang lebih kuat daripada itu! Saya yakin, Anda akan mendapatkan sesuatu yang lebih daripada apa yang telah saya dapatkan. Kapan Anda akan mencoba?
7 September 2008, 13:19 WIB.


September 12th, 2008 at 2:55 pm
huhuyy, sun telah berhasil membuat sal termenung nih. kalau diibaratkan pijitan, postingan sun kali ini adalah pijitan bidadari. tahu kan maksud sal?
gini, bidadari itu klo udah mijid, baru nyentuh kulit aja rasanya udah menjalar keseluruh pori-pori. gak bakalan rela berhenti ditengah jalan. harus tuntas, seluruh tubuh dipijit sama tuh bidadari. atau, kalau tidak, bisa tiga hari tiga malam kepikiran terus.
nah, baca renungan sun yang ini nih, begitu ketemu paragraf pertama sudah langsung “mak nyesss”. berasa daya tariknya. mata sal jadi melotot, pikiran fokus, jantung berdegup lebih lembut takut mengganggu konsentrasi, baca sampai akhir. ujung-ujungnya, semangaaaattttt……! watawwww……
September 13th, 2008 at 11:54 am
@sal: wualaaah, kalo gitu jadi repot dong Sal… kalo udah berasa kayak gitu, berarti renungan dari pijitan bidadarinya gak bakal dicoba dong Sal? he he he
(thanks udah membaca tulisanku..
)
September 14th, 2008 at 8:02 pm
kapan saya akan mencoba? Hmmm… kapan ya? Niat sih ada tapi kebanyakan excuse jadinya.. gitu deh..
Nice writing
September 17th, 2008 at 12:54 pm
Dear Sunlita,
renungannya bagus… kayaknya sih nurut sy akan lebih asyik kalo bahasanya nggak usah baku deh…. pasti lebih sip…
http://www.kinoysan.multiply.com
September 21st, 2008 at 6:38 pm
@ Lita: Hehehe, awalnya memang malas, tapi tidak disangka bisa mendapatkan sesuatu yang bisa saya bagikan ke teman-teman..
Thanks.
@ Mba Kinoysan: Bahasanya terlalu baku ya? Agak sulit dirubah sih, tapi akan saya coba bereksperimen..
Terima kasih atas komentarnya ya.