Rindu Nenek
Teringat nenek yang saya panggil embah, ibu dari ibu saya, dia meninggal dunia empat bulan lalu. rindu merasuk dalam ruang hatiku, sesak, pilu. Mata ini tergenang air yg belum mau menitik.
Embah meninggal dunia karena ketuaan usianya. Saya baru tahu rasanya menyesal. Dulu saya terlalu sibuk dengan urusan saya sendiri. Kalau embah ke jakarta menginap beberapa minggu di rumah ibu saya, saya hanya berkunjung satu dua hari saja utk menemuinya. Itupun sebentar, tidak ngobrol panjang lebar karena aku kebanyakan aku tidak mengerti bahasanya. Memang saya meresa dekat dengannya semasa kecilku dulu dan semakin dewasa sampai akhirnya berkeluarga malah saya merasa menjauh. Mungkin karena dulu saya senang mendengarkan embah mendongeng, yang membuat saya kakak dan adik saya betah bergumul sempit-sempitan ditempat tidur hanya untuk mendengarkan dongeng embah yang seringnya diulang-ulang atas permintaan kami, seperti Si Kancil Mencuri Ketimun.
Embah dulu saya panggil Embah Gendut, karena saat itu saya masih mempunyai embah buyut, ibunya embah gendut, yang saya panggil Embah Peot, karena sudah peot. Semua cicitnya memanggilnya begitu. Tapi karena usia badannnya embah tidak lagi gendut sampai akhirnya meninggal. Saya masih bertemu embah beberapa bulan sebelum saya meninggalkan Indonesia, masih sehat. Itulah yang saya sesalkan, ketika sehat saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya. Bahkan kalau embah lama di jakarta, akhir pekan pun saya masih sibuk kejar target. Saya tidak berusaha meluangkan waktu untuk embah. Ya ampuuun, saya rindu sekali..Embah!
Kehilangan orang dekat bukan yang pertama bagi saya. Kakek misalnya, atau nenek suami saya atau teman atau saudara. Tapi saya baru merasakan kehilangan yang sangat hanya kepada embah. Sebuah perasaan yang belum pernah singgah seumur hidupku. Atau mungkinkah ini karena penyesalan saya, kemana saja saya selama dia hidup? Embah, saya rindu…rindu.
Satu minggu setelah embah meninggal saya melaksanakan ibadah umrah, meniatkan umrah untuk embah. Embah belum pernah menginjakkan kaki di tanah arab ini, yg pernah menjadi keinginan saya dan suami sejak lama untuk membiayai embah haji tapi kami urungkan dengan beberapa pertimbangan dan karena fisiknya tidak memungkinkan lagi. Dua hari setelah umrah itu, saya mimpi embah datang kepada saya, dengan penampilan wanita segar dan muda, dia merentangkan tangannya seolah ingin meraih dan memeluk saya. Dia tersenyum. Dalam mimpi itu dia begitu berbeda, tapi saya mengenalinya, dia embah saya. Saya telefon ibu di Indonesia untuk menceritakan mimpi itu, ibu terharu, tidak tahu pasti apa arti mimpi saya, tapi mama bilang mungkin embah mau bilang terima kasih sudah diumrahkan.
Saya sedih, sedih sekali. Beberapa bulan sebelumnya sebelum embah meninggal, saya bermimpi embah hendak naik pesawat bersama dengan uwak, adik laki-laki embah, yang akan berangkat umrah. Saat itu uwak memang masih dalam proses menunggu sampai akhirnya berangkat May lalu. Karena tidak bisa jadi memberangkatkan embah, saya beralih ke uwak, karena disamping uwak tidak berkeluarga, saya ingin membalas kebaikan uwak yang telah ikut mengurusi saya waktu kecil yaitu menjadi supir pribadi saya ketika di taman kanak-kanak dengan cara yang saya bisa. Dalam mimpi itu embah ingin ikut dengan uwak tapi karena tidak ada dokumen pendukung embah tidak jadi naik pesawat. Mimpi ini membuat saya merenung, pasti embah ingin sekali pergi umrah, tapi apa daya… Tapi saya berharap embah mengerti alasan kami. Apapun arti mimpi itu, saya yakin, embah senang, embah sayang pada saya.
Saya rindu …rindu sekali… if only i could turn back the clock……


July 24th, 2008 at 5:11 pm
Saya mau mengomentari paragrap ke dua:
- baris empat sampai lima, sepertinya kelebihan kata ‘aku’ ya?
- Awal paragrap menggunakan kata saya, kemudian berubah jadi aku, setelah itu kembali lagi ke ’saya’. Bacanya jadi gak enak.
Paragrap enam baris ke empat, sepertinya bisa dibuat lebih singkat.
Karena tidak jadi memberangkatkan embah, saya beralih ke uwak. Disamping uwak tidak berkeluarga, saya ingin membalas kebaikan uwak yang telah menjadi supir pribadi selama saya di taman kanak-kanak.
Bagaimana?
(Eh, yang pinter ngomentarin yang gini-gini biasanya Sal, tapi kaya’nya Sal lagi sibuk dengan sinetron kejar tayangnya :))
anyway, sebuah cerita yang menyentuh.
July 24th, 2008 at 5:12 pm
Saya mau mengomentari paragrap ke dua:
- baris empat sampai lima, sepertinya kelebihan kata ‘aku’ ya?
- Awal paragrap menggunakan kata saya, kemudian berubah jadi aku, setelah itu kembali lagi ke ’saya’. Bacanya jadi gak enak.
Paragrap enam baris ke empat, sepertinya bisa dibuat lebih singkat.
Karena tidak jadi memberangkatkan embah, saya beralih ke uwak. Disamping uwak tidak berkeluarga, saya ingin membalas kebaikan uwak yang telah menjadi supir pribadi selama saya di taman kanak-kanak.
Bagaimana?
Eh, yang pinter ngomentarin yang gini-gini biasanya Sal, tapi kaya’nya Sal lagi sibuk dengan sinetron kejar tayangnya
anyway, sebuah cerita yang menyentuh.
July 25th, 2008 at 2:40 pm
saking menyentuhnya, lita sampai posting koment dua kali dengan isi sama.
boleh dong menambahkan. daya sentuhnya, entah kenapa ya. saya merasakan masih kurang. boleh jadi, karena narasinya terlalu panjang. alurnya lambat.
keep spirit.
July 25th, 2008 at 2:42 pm
tambahan, cara postingnya di penggal aja ya. biar pembaca penasaran. tampilkan hanya paragraph pembuka, atau beberapa kalimat.
July 25th, 2008 at 4:36 pm
duhh.. maaf.. maaf.. karena satu dan lain hal commentnya terposting dua kali.
July 26th, 2008 at 9:18 am
Narasi terlalu panjang dan alurnya lambat ya? advice dong..kalau membuat sebuah ungkapan yang ‘pikir-pikir’ sedih ..sebaiknya gimana? thanks commentnya!
July 26th, 2008 at 9:21 am
Oiya Lita, bener saya baru lihat lagi..ada saya ada aku..hehehe.. habis saya kalau bicara beda orang beda sebutan ..jadi lupa ..hehehe ngeles dong..
July 27th, 2008 at 4:33 pm
‘pikir-pikir’ sedih gimana? @_@
Menurut saya kalau cerita-cerita seperti ini alangkah baiknya jika tempo lebih diperhatikan, khususnya agar klimaks cerita lebih terasa. Tempo cerita bisa dilambatkan, atau dipercepat saat-saat tertentu untuk memicu emosi pembaca.
Dengan begitu emosi penulis pun dapat lebih tersampaikan, begitu kabarnya.. 
August 6th, 2008 at 8:53 pm
Ini jenis ide cerita ogah untuk baca. Sesuatu yang sudah umum banget, dan nggak mau ngeliat dari sudut pandang dan ngegarap dari sisi yang berbeda. Penyesalan…. siapapun juga tahu menyesal itu selalu di belakang. Jadi saran saya, sebaiknya anda balik kenapa nggak menyesal di depan dengan mengobrak-abrik sistem hingga muncul sesuatu yang haru biru, ternyata nenek nggak meninggal dan masih umroh… itu sih cuman pikiran saya… inget, anda penulis.
Free… bebas jangan takut untuk menulis. Menulis juga harus total biar nggak nanggung. Nggak ada happening atau kejadian berat yang bikin si tokoh perlu menyesal di cerita ini. Toh dia udah kunjungin kan?
Kecuali anda kasih runtutan peristiwa yang bikin si tokoh terikat banget sama nenek. Ini nggak ada… judul juga kurang oke, mesti belajar lebih banyak.
Coba cek lagi, kemaren waktu mentoring anda dapat materi apa saja. Inget, anda sudah belajar membayar, mestinya harus lebih bagus dari orang lain yang nggak ngikutin kelas ini. Saya akan keras banget untuk orang-orang yang nggak serius. Menulis itu mudah, tapi butuh kesabaran dan keseriusan, serta ketelitian.