Rosib…?!!
Rosib!
Ada yang mengerti kata itu? Rosib adalah kata yang sangat menakutkan bagi mahasiswa/wi Azhar juga kenyataan yang sangat pahit bagi yang mengalaminya. Bagaimana tidak?! Di satu sisi ribuan masyarakat mungkin menanti dan mengharapkan sang figur agar segera kembali ke tanah air dan membaktikan ilmunya, ironisnya di sisi lain; segelintir kami tengah dilanda kekalutan, keterpurukan, merasa gagal, mengecewakan banyak orang gara-gara rasib! Rasib? Ya artinya lebih dari dua maadah/materi (baik itu tiga, empat, lima dst)kuliahnya tidak mencapai target dan harus diulang tahun depan. Kalau dua maddah saja yang kurang target namanya manqulain, dia ngulang tapi tetap naik tingkat. Bagi yang mulus-mulus saja ya namanya najah. Alhamdulillah untuk tahun ini saya najah dengan predikat yang alhamdulillah juga.
Gak sedikit teman saya yang mengalami kerosiban! Bahkan ada yang rosibnya sampai tiga kali dan artinya dia harus PULANG ke tanah air atau minimal pindah ke propinsi lain selain Azhar yang di Kairo. Demikianlah Azhar. Sungguh tidak mudah menaklukkannya.
Bagaimana mengetahui hasil ujian? Apakah rosib, najah atau lainnya?! Azhar tetap kukuh dengan kemanualannya. Raport kami sungguh unik! Pada hari yang tidak ditentukan, para mahasiswa hanya bisa menunggu dan setia mendatangi kuliahan untuk mencek apakah pengumuman kenajahan sudah ditempel atau belum. Kertas yang tertempel itu berisi no. duduk mahasiswa dan nilai-nilai hasil ujian term 1, term 2 beserta predikatnya. Pengumuman tersebut ditulis dengan PEN dan bukan dengan komputer. Parahnya lagi…ketika kita berebut melihat pengumuman tersebut, terkadang harus menahan kecewa dan marah karena kertas tersebut telah raib atau tinggal sobekan2 kebuasan tangan mahasiswa lain. Yah akhirnya bagi yang mengalami hal seperti itu, harus mendatangi kantor panitia ujian dengan seribet-ribet urusan. Capekkkk dehhhhh!!!
Nah itu yang di banat alias di putri. Yang di banin lain lagi! Di pengumumannya tidak dituliskan nilai-nilai hasil ujian mereka. Hanya no. duduk dan predikat saja. Mungkin karena terlalu banyak mahasiswanya, yang nulis jadi capek hihihi. Bagi yang sudah belajar dan ternyata tertulis rosib…yah barangkali masih kurang beruntung tuh! Mau lihat atau penasaran dengan nilai-nilainya? Silahkan datang ke kantor dengan antrian dan hari yang gak jelas juga BAYAR tentunya. hehehe.
Demikianlah sekelumit tentang Azhar yang saya rasa dan lihat, itu hanya hal kecil sih dibanding jasanya yang tiada tara untuk dunia Islam. Universitas Islam tertua ini masih mempertahankan nilai-nilai lamanya tidak peduli bagaimana modernitas saat ini. Selain itu, salah satu penyebab kegagalan mahasiswa Indo pada umumnya juga barangkali sebagian kami terlalu larut dengan jalan-jalan di negeri yang indah ini! Kuliah kami memang gak pake ABSEN. Bahkan ada teman yang gak masuk kuliah sama sekali dalam setahun tapi tetap ikut ujian. Yah, ada mereka yang menghabiskan waktunya dengan talaqqi2 (mengaji langsung ke syaikh di masjid-masjid) atau ada yang terlarut dengan hal-hal lain yang mungkin membuat lupa akan tujuan semula! Wallahua’lam.
Semua memang kembali ke masing-masing kita sedang tempat hanya perantara semata. Dimanapun kita berada dengan usaha, doa dan tawakkal insyaAllah kesuksesan akan kita raih. Allahummaj’al awwala hadzal yaum sholahan wa ausathahu najahan wa akhirahu falahan (Ya Allah, jadikan awal hari kami dipenuhi dengan KEBAIKAN dan KESUKSESAN pada pertengahannya serta diakhiri dengan KEMENANGAN) amien….


August 22nd, 2007 at 1:54 pm
kenapa ya di Al-azhar sistemnya msih manual gitu, kan kalao manual gitu rentan terjadi human error, misalnya harusnya dia lulus tapi tertulis rosib karena yg nulis udah kecapekan.. duh nasib2 an juga kalo gitu ya..
August 22nd, 2007 at 5:26 pm
terlarut hal-hal lainnya tuh apa ya? penasaran niy, jadi terbayang suasana di “ayat-ayat cinta”, di mesir kan?
August 22nd, 2007 at 7:55 pm
#Sya: hehehe, itulah! Nasib2an mungkin benar juga, tapi yang jelas kalau “usaha” itu mang harus extra. Doakan yah mudahan nasib saya baik terus:D!
#Leni: terlarut hal-hal lainnya? Hmm, kapan2 saya ceritain deh! Iya…di Mesir settingnya novel Ayat2 Cinta.