Saat Untuk Mengerti
Yadi melambaikan tangannya kepadaku sesaat sebelum dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Aku membalas lambaian tangannya kemudian mulai menutup pintu pagar rumahku. Suara raungan motornya yang memekakkan telinga belum juga hilang ketika tiba-tiba Mbak Andien sudah berdiri di sampingku dengan pandangan menuduh.
“Lintang, masuk!”, katanya. Aku masuk ke dalam rumah dengan gelisah. Sekilas kulihat jam dinding yang tergantung di ruang tamu rumah kami. Ini sudah lebih dari jam sepuluh malam. Pantas saja Mbak Andien terlihat sangat marah.
“Sebelum pergi, aku kan sudah minta ijin sama Mbak”, kataku membela diri sebelum dia bertanya, ”jadi apa salahnya kalau….”
“Tapi kamu sendiri yang meyakinkan Mbak untuk pulang di bawah jam sepuluh. Mbak berusaha untuk mempercayai kamu. Sayangnya, kamu menyia-nyiakan kepercayaan Mbak. Sejak pacaran sama Yadi, kamu jadi susah diatur!”, Mbak Andien menukasku bahkan sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku.
“Mbak, pesta ultah Dina memang selesainya jam sepuluh. Kalau nggak percaya, tanya aja sama Lisa.” Lisa adalah sahabatku. Mbak Andien sudah mengenalnya dengan baik. ”Lagian, aku kan sudah besar Mbak, sudah tujuh belas tahun. Aku nggak habis pikir, kenapa sih Mbak selalu nentang aku buat pacaran, pergi sampai lewat jam sepuluh malam dan segudang hal yang biasa dilakukan temen-temenku .Aku bisa jaga diri. Aku juga pengin seperti mereka. Aku sudah bosan diatur terus sama Mbak!” Satu kalimat yang terakhir kuucapkan sambil setengah berteriak. Mbak Andien terkejut dengan kata-kata yang kuucapkan barusan. “Baiklah kalau menurutmu Mbak terlalu banyak mengatur kamu. Sekarang semua terserah kamu. Apapun yang ingin kamu lakukan, itu terserah kamu. Mbak nggak akan mengganggu kamu lagi.” Kupikir, dia akan membalas kata-kataku tadi dengan tamparan; atau setidaknya kata-kata yang juga keras. Di luar dugaanku, dia mengucapkan kata-katanya tadi dengan tenang, walaupun sesaat kulihat mukanya memerah.Dia membalikkan badannya dan mulai berjalan ke kamarnya, sebelum aku sempat berpikir untuk minta maaf kepadanya.
Tempat tidurku yang dulu terasa nyaman, entah kenapa kini membuatku merasa gelisah. Entah sudah berapa kali aku mengganti posisi tidurku, tetapi kantuk belum juga datang. Pertengkaranku dengan Mbak Andien barusan masih terbayang jelas di kepalaku. Mungkin aku keterlaluan karena telah mengucapkan kata-kata yang kasar kepadanya. Sungguh, aku tak pernah bermaksud untuk menyakiti hatinya, tapi dia juga sudah terlalu banyak mengaturku. Aku tahu, dia melakukan itu karena dia sangat menyayangiku. Dia ingin menjagaku setelah kematian Mama. Papa tidak memperhatikan kami setelah ia menikah lagi. Ia hanya memberikan kami materi yang berlimpah tanpa mau tahu apa sebenarnya yang kami harapkan darinya; kasih sayang dan perlindungannya. Sebenarnya Papa pernah mengajak kami untuk ikut tinggal bersama di keluarga barunya itu, tapi kami menolak. Aku dan Mbak Andien lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah tempat kami bisa mengenang saat-saat manis ketika kami masih menjadi satu keluarga yang utuh. Karena usia kami hanya terpaut tiga tahun, kami menjadi sangat akrab. Dia lebih dari sosok seorang kakak buatku. Ia bisa memposisikan dirinya menjadi sahabat yang baik untukku; tempat aku biasa curhat.
Sebenarnya, kami jarang sekali bertengkar. Perselisihan kami diawali ketika aku mulai menceritakan cowok yang naksir aku, Yadi. Mungkin dia memang agak badung, tapi aku tahu hatinya baik. Entahlah, mungkin karena aku juga menyukainya. Mbak Andien tidak menyetujui hubunganku dengan Yadi. Dia menganggap aku belum cukup dewasa untuk berpacaran. Menjelang usianya yang kedua puluh, yang aku tahu, dia hanya baru pacaran satu kali. Itupun putus di tengah jalan. Mungkin itu yang menyebabkan dia menentangku untuk pacaran. Dia tidak ingin aku terluka oleh cinta; luka yang pernah ia rasakan sebelumnya. Tapi ucapan Mbak Andien aku anggap sebagai angin lalu. Aku menerima Yadi sebagai pacarku, setelah ia mengucapkan cintanya padaku saat kami pulang sekolah bersama. Mbak Andien kecewa mendengar aku sudah pacaran dengan Yadi, dan sejak itulah perselisihan demi perselisihan membuat jarak yang semakin lebar di antara aku dan Mbak Andien. Peraturan-peraturannya yang dulu kurasakan sebagai bentuk rasa sayangnya kepadaku, sekarang kurasakan sebagai tali yang mengekangku. Puncaknya adalah malam ini, ketika aku sudah sedemikian bosannya dengan segala macam peraturan yang ia buat; salah satunya adalah peraturan untuk pulang ke rumah kurang dari jam sepuluh malam. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, tapi aku berharap semuanya akan baik-baik saja.
*****
Esoknya, aku merasa kalau Mbak Andien masih marah kepadaku. Kami berpapasan ketika aku akan ke kamar mandi. Aku ingin sekali menyapa, tapi tak satupun kata yang keluar dari mulutku. Aku cuma diam dan cepat-cepat menjauh darinya. Sarapan pagi yang biasanya kami isi dengan tawa dan percakapan juga menjadi terasa hambar. Sungguh, aku merasa tak nyaman dengan perasaan ini. Perasaan ini terbawa sampai di sekolah. Aku bahkan tak mendengar apa yang Yadi katakan ketika kami sedang duduk berdua di waktu istirahat.
“Kamu nggak dengerin aku ya?”, kata Yadi mengagetkanku. Aku tergagap.
“Eh…”
“Ada apa sih? Bertengkar lagi sama kakak kamu ya? Pasti karena kejadian tadi malem.” Yadi mengatakan hal itu dengan nada agak kesal. Dia memang tidak terlalu menyukai Mbak Andien setelah tahu kalau kakakku itu tidak menyetujui hubungan kami.
“Iya, tapi dia jadi marah banget sama aku. Dia nggak peduli lagi sama aku. Terserah aku mau ngapain, dia nggak mau tahu,” aku mengatakan ini dengan sedih.
“Bagus dong kalo gitu. Kita bisa jadi bebas pergi kemana aja tanpa kamu harus merengek-rengek buat minta ijin sama dia. Buat ngobatin kesedihan kamu, gimana kalo nanti sore kita nonton lagi? Ada film bagus nih di bioskop.” Aku tidak menyangka Yadi akan menanggapi pertengkaranku dan Mbak Andien dengan perasaan senang, tapi aku menyetujui ajakannya itu.
Sorenya, Yadi menjemputku tepat setelah Mbak Andien pulang kuliah. Mbak Andien melihat kami, tapi dia tidak mengatakan apapun. Baru kusadari jika sikap diamnya itu menunjukkan kalau dia benar-benar marah kepadaku. Memang setelah itu aku dan Yadi jadi sering pergi bersama; nonton bareng, makan di cafe atau hanya sekedar jalan-jalan di mall. Aku boleh pulang sampai jam berapapun dan melakukan apapun yang aku inginkan. Mulanya aku merasa senang mendapat kebebasan ini, tapi lama-lama aku jadi bosan dan ingin berbaikan dengan Mbak Andien. Sudah satu minggu lebih kami bertengkar. Kami hanya bicara seperlunya saja. Aku rindu saat-saat kami yang dulu. Memasak bersama, menyiram kebun kecil di samping rumah kami bersama, tidur bersama ketika hujan deras dengan petir yang menggelegar, nasehat-nasehatnya yang selalu membuatku tenang dan semua yang biasa kami lakukan bersama sebelum kami bertengkar; bahkan tanpa kusadari, aku rindu dengan semua peraturan yang sesungguhnya menunjukkan bahwa dia teramat menyayangiku.
*****
Aku dan Lisa berjalan tergesa menuju ruang ganti olah raga. Pelajaran fisika dimulai lima menit lagi. Aku tidak ingin berhadapan dengan Pak Huda karena terlambat mengikuti pelajarannya. Saat melewati kantin, tanpa sengaja aku mendengar percakapan Yadi dengan Rio di belakang kantin. Kami hanya dibatasi oleh tembok putih.
“Lintang bertengkar dengan kakaknya gara-gara kamu, kamu puas sekarang?,”terdengar ucapan Rio, teman sekelas Yadi. Mereka sangat akrab karena telah berteman sejak SMP. Mendengar kata-kata Rio barusan, aku menghentikan langkahku; menunggu Yadi mengucapkan sesuatu.
“Aku nggak peduli. Bayangkan, adiknya lebih memilihku daripada dia ha…ha…ha…Hal itu pasti membuatnya sangat kecewa.”Yadi mengatakan itu tanpa berusaha mengecilkan volume suaranya.
“Aku baru sadar kalo kamu sebenarnya nggak mencintai Lintang. Kamu menjadikannya alat untuk balas dendam pada Andien. Lintang nggak tahu apa-apa tentang kejadian empat tahun yang lalu. Lagipula, bukan salah Andien kalo kakakmu…”
“ Aku nggak peduli dengan Lintang. Gara-gara Andien, kakakku meninggal!”
“Bohong!” aku berteriak. Aku sudah tidak tahan dengan apa yang Yadi katakan. Lisa memegang tanganku dengan cemas. Dia takut aku melakukan sesuatu dengan nekat. Aku melanjutkan kata-kataku dengan suara bergetar,” aku nggak peduli kalo kamu nggak pernah benar-benar mencintaiku, tapi jangan pernah memfitnah kakakku untuk kesalahan yang nggak pernah dilakukannya!”
Yadi terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba di hadapannya, begitu juga dengan Rio. Hening beberapa saat, kemudian Yadi berbicara dengan suara penuh dendam, ”Baiklah kalo kamu memang ingin tahu yang sebenarnya. Empat tahun yang lalu, Andien memutuskan hubungannya dengan Mas Didit tanpa penjelasan. Dia memang sengaja mempermainkan perasaan kakakku. Mas Didit jadi frustasi. Dia mendatangi rumah kalian untuk memperbaiki hubungan mereka. Tapi Mas Didit nggak pernah sampai ke sana, karena di tengah jalan ia mengalami kecelakaan yang telah merenggut nyawanya. Itulah yang membuat aku sangat membenci Andien. Aku berusaha membalaskan dendamku melalui kamu, adik yang sangat ia sayangi. Nyatanya, aku berhasil melukai hatinya dengan permusuhan yang kalian lakukan. Ha…ha…ha…” Suara tawa Yadi kudengar sangat memuakkan.
Bukkk!!!Rio menghantam Yadi dengan kepalan tinjunya. ”Dasar brengsek!,”
“Hei…apa-apaan kau ini. Aku tahu kamu menyukai Lintang, tapi terlalu pengecut untuk mengatakannya. Dulu Lintang lebih memilihku daripada kamu. Sekarang ambil saja dia untukmu. Aku nggak membutuhkannya lagi”
Aku sudah tidak tahan dengan perkataan Yadi. Mataku terasa panas. Aku meninggalkan Yadi dan Rio yang masih berkelahi. Lisa mengejarku.
“Sudahlah, Lin. Jangan menangis untuk cowok brengsek seperti Yadi.” Lisa berusaha meredakan tangis yang tak mampu kutahan lagi.
“Kamu tahu apa yang paling membuatku sedih? Aku bertengkar dengan Mbak Andien hanya karena Yadi. Kalian bener, dia memang bukan cowok yang layak untuk aku cintai,” aku berkata lirih.
“Mendingan kamu nggak usah ngikutin pelajaran fisika. Kamu ke UKS saja. Nanti aku ijinin ke pak Huda.” Aku baru sadar, kami sudah terlambat lebih dari sepuluh menit untuk mengikuti pelajaran fisika. Lagipula, kami masih menggunakan baju olah raga.
“Thanks ya. Aku memang pusing banget sekarang. Maafin aku, Lis. Gara-gara aku, kamu jadi terlambat ngikutin pelajaran fisika. Udah gitu, kamu mesti repot-repot minta ijin ke pak Huda buat aku.”
“Nggak apa-apa, itukan gunanya teman.”, katanya sambil tersenyum.
Di UKS, aku tidak merasa keadaanku tambah membaik. Sebaliknya malah. Ucapan Yadi membuat aku benar-benar terpukul. Bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau Mas Didit; mantan pacar Mbak Andien; adalah kakak Yadi. Kami memang baru pacaran sebulan, jadi belum banyak yang aku tahu dari Yadi. Setahuku, Mbak Andien memang pernah mengatakan padaku kalau Mas Didit meninggal dalam sebuah kecelakaan. Itu terjadi setelah dia putus dengan Mbak Andien. Aku sendiri tidak tahu apa penyebab putusnya hubungan mereka; Mbak Andien tidak pernah mau mengatakannya. Jadi selama ini, Yadi hanya menganggapku tak lebih sebagai alat untuk balas dendam pada Mbak Andien; orang yang ia anggap secara tidak langsung menjadi penyebab kematian kakaknya. Harusnya dari dulu aku mengerti kenapa Mbak Andien tidak menyetujui hubunganku dengan Yadi. Mungkinkah dia tahu kalau Yadi hanya akan mempermainkan perasaanku saja, seperti dia mempermainkan perasaan Mas Didit?
*****
Sampai di rumah yang pertama kucari adalah Mbak Andien. Ia sedang merapikan bonsai di kebun kami dengan memotong daun-daunnya.
“Mbak…,” Mbak Andien menoleh ke arahku. Menaruh guntingnya di samping tanaman dan mendekatiku. Ia terkejut melihat mataku yang masih sembab.
“Kenapa?” tanyanya dengan gelisah. Aku menangis. Sesaat dia tertegun, kemudian memelukku. Ia seakan lupa bahwa kami sedang bertengkar. Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendapat kehangatan seperti ini. Kami duduk di kursi yang manghadap ke kebun. Angin yang berhembus perlahan tidak mampu mengurangi rasa sedihku ketika aku menceritakan apa yang terjadi di sekolah kepada Mbak Andien. Berulangkali dia menggelengkan kepalanya seakan menyesali semua yang Yadi katakan kepadaku.
“Seandainya dia tahu yang sebenarnya, dia pasti akan sangat menyesal telah mengatakan hal yang buruk kepadamu…,”katanya setelah aku menyelesaikan ceritaku.
“Sebenarnya….apa yang membuat Mbak putus dengan Mas Didit?” tanyaku memberanikan diri. Mbak Andien tidak segera menjawab pertanyaanku. Dia malah memandangi bunga-bunga yang mulai bermekaran di kebun kami. Tampaknya ia ragu untuk memberitahuku. Tiba-tiba aku menjadi resah. Apakah mungkin jika kakak yang kukenal baik selama ini ternyata adalah orang yang suka mempermainkan perasaan laki-laki yang dengan sepenuh hati mencintainya? Aku masih menunggu jawabannya. Sepertinya ia sedang memantapkan hatinya untuk menjawab pertanyaanku barusan.
“Baiklah kalau kamu memang mau tahu. Sebenarnya Didit memang cowok yang baik. Dia cakep, pintar dan mudah bergaul. Banyak cewek di sekolah kami yang menyukainya.” Aku membayangkan wajah Mas Didit yang ternyata memang mirip dengan Yadi. Kenapa aku tidak pernah menyadari sebelumnya? Mbak Andien melanjutkan, ”makanya Mbak nggak percaya waktu dia memilih Mbak untuk menjadi pacarnya. Tentu saja Mbak sangat senang walaupun Mbak ngerasa kalau banyak anak yang iri sama Mbak. Kebahagiaan itu nggak lama. Semuanya tiba-tiba berubah menjadi bayangan buruk. Sore itu Mbak main ke rumahnya untuk mengembalikan buku biologi yang Mbak pinjam dari dia. Mbak inget kalau besoknya dia akan ulangan dan dia pasti membutuhkan buku itu. Rumahnya sepi, pintunya tertutup tapi nggak terkunci. Berulang kali Mbak mengetuk pintu, tapi tetep nggak ada jawaban. Akhirnya Mbak masuk saja ke dalam. Mbak sudah sering main ke rumahnya dan sudah akrab dengan semua keluarganya; termasuk Yadi pada waktu itu. Tanpa sengaja mbak memergokinya sedang berpelukan dengan seorang laki-laki. Mbak mengenalinya, dia adalah Aris; teman sebangku Didit. Mbak yakin, pelukan itu bukan pelukan biasa bagi dua orang teman. Mbak menjerit tak percaya. Pantas saja mereka sangat akrab, ternyata Didit adalah….” Mbak Andien terisak. Dua bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Dia melanjutkan dengan suara bergetar ”….seorang gay.” Aku memekik tertahan. Mulutku hendak mengucapkan sesuatu ketika Mbak Andien melanjutkan ceritanya. ”Mbak segera berlari dan pulang. Hati Mbak sakit sekali. Ternyata dia pacaran dengan Mbak hanya untuk menutupi kenyataan bahwa dia adalah seorang gay. Mbak nggak akan percaya kalau nggak melihatnya sendiri. Malamnya dia menelepon. Dia memohon-mohon supaya Mbak nggak membocorkan rahasianya ini kepada siapapun,terlebih lagi keluarganya. Mereka menganggap Didit adalah anak berbakat yang kelak akan bisa mengangkat nama keluarganya. Apalagi Yadi menganggap Didit sebagai idolanya. Dia tak ingin adiknya kecewa. Mbak sudah bilang berkali-kali bahwa Mbak tidak akan pernah membocorkan rahasianya kepada orang lain. Apa yang akan Mbak dapatkan dengan membocorkan rahasianya selain rasa sedih dan terluka. Sayangnya dia nggak mempercayai ucapan Mbak. Dia ingin meyakinkannya dengan mendatangi Mbak secara langsung. Dia nggak pernah sampai ke sini, kau tahu kan. Dia meninggal dalam perjalanan kemari karena ngebut di jalan. Kematian Didit yang mendadak membuat sekolah geger. Anak-anak yang dari dulu iri sama Mbak memanfaatkan momen ini untuk menyudutkan Mbak dengan mengatakan bahwa Mbak secara nggak langsung menjadi penyebab kematian Didit. Mereka nggak tau penyebab putusnya kami.” Mbak Andien menyelesaikan ucapannya dengan suara bergetar. Ia melanjutkan, ”Seminggu setelah kematian Didit, Aris pindah sekolah. Sikapnya menjadi kaku sama Mbak. Dia minta maaf karena nggak berani mengatakan hal yang sebenarnya sama temen-temen kami. Sebelum pergi, dia minta supaya Mbak nggak membocorkan rahasia ini pada siapapun”
“Kenapa Mbak nggak pernah mengatakan sama Yadi penyebab putusnya hubungan Mbak dengan kakaknya? Kenyataan bahwa kakaknya seorang gay agar Yadi tidak mempunyai rasa benci pada Mbak,” tanyaku masih diliputi kebingungan
Mbak Andien menjawab dengan tenang ”Seperti yang sudah Mbak katakan sebelumnya. Yadi menganggap kakaknya sebagai kakak yang nyaris sempurna. Dia sangat menyayangi kakak satu-satunya itu. Mbak nggak ingin merusak citra baik Didit dalam pikiran Yadi. Dia pasti sangat kecewa kalau tau kakaknya ternyata seorang gay.”
“Selama ini Mbak selalu nentang hubungan Lintang dengan Yadi. Apakah Mbak sudah tau sebelumnya kalau…kalau Yadi hanya akan mempermainkan Lintang?”
“Sebenarnya Mbak nggak ingin berprasangka buruk sama orang lain, termasuk Yadi. Tapi tiap kali ia memandang Mbak dengan penuh kebencian, entah kenapa Mbak jadi khawatir kalau nantinya dia cuma akan menyakiti hati kamu. Mungkin Mbak salah karena nggak menceritakan hal ini sama kamu sebelumnya. Mbak nggak ingin membuka kenangan lama yang menyakitkan untuk diingat.” Kutatap Mbak Andien. Kesedihan terpancar jelas dari wajahnya yang ayu. Ternyata itu alasannya. Aku sangat menyesal telah melukai hatinya.
“Maafin Lintang ya Mbak….Lintang sayang sama Mbak,” ujarku setengah terisak.
“Mbak juga sayang sama Lintang.” Kami berpelukan lagi. Angin kembali berhembus perlahan membawa semangat baru dalam hidupku dan mematri satu janji dalam diriku; aku tidak akan pernah membuat hati kakakku kembali terluka.
Anggita MH
Alamat:Jl. Bandeng no: 29
RT:04/RW:10
Tegal, 52111
HP : 0813 2707 8366
Email : little_indigogirl@yahoo.com

