sang guru
Kemari, datanglah padaku
Kutunjukkan ladang cintaku
Bawalah benih padi, tanamkanlah ditengahku
Kesuburanku menjadi jaminan
Akan hasil dari jerih nikmatmu
Tak perlu bimbangmu itu
Apalagi sampai ragu
Kerlingku bukan untuk menggodamu
Aku hanya mencoba tawarkan suka
Untukmu
Triatmi, namaku. Gadis berkepang dua dengan panjang rambut sepinggang. Aku tetap setia duduk di kursi ini. Sambil mengawasi kiri-kanan, perhatianku tak lepas dari meja kosong di pojok kiri depan ruangan ini. Meskipun telah beberapa waktu, aku tetap sabar menunggu sang guru yang seharusnya sudah hadir satu jam lalu. Karena informasi dari teman sebelah, aku tetap duduk disini. Sang guru sedang pecah ban, dan lokasinya jauh dari bengkel.
Aku membayangkan, bagaimana sosok atletis itu menuntun sepeda motor diantara debu-debu antri berebutan masuk kedua lubang hidung yang tidak cukup mancung itu. Rasanya, wajah itu biasa saja. Kupingnya sama dengan kuping teman-teman yang lain. Rambutnya juga tidak istimewa. Alis, mata, bibir, dagu, tulang pipi, semuanya biasa dan standard. Ataukah, kebersahajaan dan kesederhanaan yang membuatku selalu tak rela meninggalkan kelas ini? Atau juga, tatapan simpati kedua mata itu tak pernah ia tanggalkan saat menatapku.
Tapi, bukan itu sebenarnya. Aku sangat menaruh kagum pada sosok tinggi tegap dengan senyuman apa adanya. Senyum itu semakin apa adanya didukung oleh kumis yang juga apa adanya. Satu-satunya yang menjadikan luar biasa adalah senyum itu diberikan dengan tulus melalui jiwa “membimbing” yang melekat pada sang guru. Aku masih ingat apa yang disampaikan sang guru minggu lalu.
“Pelatihan tak ada gunanya, kemauan yang paling penting” begitu kata sang guru minggu lalu. “Silahkan kuasai seluruh teori, silahkan datangi setiap seminar, silahkan ikuti segala macam pelatihan, silahkan konsultasi dengan seribu mentor setiap hari, silahkan melamun lambungkan mimpimu sampai langit ketujuh, silahkan…” sang guru terus membakar semangat dua puluh satu murid dalam ruangan itu. Langkah kakinya mantab, pasti. Mengitari lorong demi lorong meja yang berjajar rapi.
Sesekali berhenti dibarisan paling belakang, sejenak menghela nafas, melanjutkan kembali kata-katanya, “semua itu hanyalah angka nol yang tidak pernah ada gunanya walaupun sebanyak apapun anda punya. Satu angka nol, hanya bisa disebut sepuluh jika berpadu dengan angka satu. Lima angka nol tidak pernah disebut seratus ribu jika tak mau bersanding dengan angka satu. Dan, apakah anda tahu?” sang guru seakan memberikan pertanyaan. Tak seorangpun menjawab.
Dan, memang tak perlu menjawab. Bahkan belum sempat seorang anak menyelesaikan menguapnya, sang guru telah kembali berkata.
“Kelas inipun, masih berupa angka nol. Segala ilmu yang anda serap, segala catatan yang anda tulis untuk mengikat ingatan, segala istilah rumit yang anda coba hafalkan untuk sekedar memperkaya diksi, segala diskusi, tugas kelompok, riset dan analisa yang anda kerjakan, segala buku-buku yang telah anda baca, segala….” Kembali sang guru hening sejenak untuk kemudian bicara dengan intonasi berbeda, “semua itu masih berupa angka nol”.
Seisi ruangan tertunduk, termasuk aku, mencoba mereka-reka, tak berani bersuara. Sang guru memang lihai membuat situasi kelas agar selalu berada dalam kekuasaannya. Kalimat berikutnya keluar dari sela bibir berkumis apa-adanya itu adalah rangkaian ucapan yang tak-kan pernah aku lupakan. Sampai saat ini. Kalimat itu juga yang telah membuatku semakin rindu dan terpacu untuk tetap semangat mengikuti session sang guru. Meskipun, telah lebih satu jam aku menyiksa kursi dengan mendudukinya tanpa beranjak.
Teman-temanku telah ada yang keluar ruangan, bergantian, sekedar melepas penat. Aku tetap memantapkan pantat dikursiku. Tanpa beranjak. Bangku kosong didepan dimana sang guru biasa duduk, seakan ada ruh yang mengawasiku dari sana.
“Dan, angka satu itu ada pada diri anda sendiri. Kemauan.”kalimat penutu inilah yang selalu mengikat erat detak jantungku. Pemilihan intonasi begitu sempurna, membuat kalimat ini menghunjam tepat ulu hati seisi ruangan, terutama aku.
Seketika lamunanku terbangun saat sebuah sapaan membuyarkanku dari arah pintu “ma’af teman-teman, saya membuat anda menunggu” sang guru masuk. Tidak menduduki kursinya, hanya meletakkan tak diatas meja. “Separuh waktu ini, saya akan gunakan untuk membayar lunas hutang minggu lalu”.
Aku, yang memang telah siap sejak satu jam lalu, semakin sigap dan semangat dengan kehadiran sang guru. Kini sang guru mulai mengitari kami. Keringat jelas masih mengucur di dahi, baju belakang jelas basah oleh keringat. Tapi, itu semua tak mencemari penampilan wajah tenang itu.
Dari arah pojok, seorang cowok berwajah berantakan oleh jerawat mengacungkan jari. Bertanya, mengapa sang guru menulis. Mau bercapek-capek membagi ilmu dengan –juga- mengajarkan menulis.
“Mengapa Aku menulis? “ kata sang guru.
“Pertanyaan ini bukan sekali–dua aku dengar. Baiklah, meskipun sama atau hanya beda kata, jawaban setiap orang tentu mengandung makna berbeda pula.
Aku ingin, darah tiba-tiba mampu melihat, mendengar pikiranku berkata-kata. Membaca setiap kata yang kutuliskan. Sehingga darahku seketika itu juga bisa meresapi melalui pendengarannya itu, betapa kuat keinginanku akan adanya perubahan. Darahpun semakin cerdas dan pintar, sehingga giat bekerja, mengangkut seluruh nutrisi yang aku butuhkan secara tepat sampai pada tempatnya. Otakku.
Aku ingin, inchi demi inchi pori-piri tubuhku menjelma menjadi lembaran kertas putih untuk kemudian dapat merasakan tiada guna kalau kertas itu kosong tanpa catatan. Begitu membaca tulisan-tulisanku, pori-pori segera terbuka, memberi celah selebar-lebarnya untuk keringatku segera menguap. Membawa racun-racun dan kotoran dari dalam tubuhku. Kemudian aku gantikan lagi dengan cairan baru yang masih segar.
Aku ingin, jemariku kian giat menari setiap menatap tulisan-tulisanku beriring, berbaris, saling rangkai menjadi satu kesatuan kalimat, paragraf. Hingga akhirnya, tarian itu tak pernah mau berhenti membuka lembar demi lembar sampai sampul terakhir, karena si jari tahu betapa mempesona tarian itu.
Aku ingin, kecerdasan ginjal naik beberapa derajat lagi, sehingga IQ-nya mencapai taraf dapat mengeja huruf demi huruf. Setelah itu, ginjalpun mampu membaca dengan jelas pesan-pesan lewat tulisanku. Semakin terbuka dan terbentang semangat si gingjal untuk terus menerus bekerja. Sepasang saudara kembar itu –ginjal kiri kanan- tersenyum setiap saat sambil terus mencuci darah yang datang padanya dengan tak kenal lelah.
Aku ingin, pembuluh darah arteri dan vena dibuatkan jembatan yang menghubungkan setiap sel diseluruh tubuhku langsung ke otak. Arteri-vena pun dengan segera membaca larikan kata-kata yang kutulis di dinding dan lorong jiwaku setiap melintasi jembatan itu. Arteri-vena menjadi kian besar dan longgar hingga tak ada lagi limbah-limbah makanan mamapat di sealah satu persimpangan. Tak ada lagi pecah pembuluh darah. Tak ada lagi stroke.
Aku ingin, usus halus dan usus duabelas jari segera tahu walau hanya dengan sekali tatap. Sedetik kemudian, kecerdasannya berlipat. Maka, daya serap terhadap sari pati makanan kian sempurna. Daya filter semakin kuat terhadap kotoran-kotoran yang tidak terpakai dan harus segera dibuang.
Aku ingin, pembuangan limbah tak lagi tersendat. Menyebabkan sembelit tanpa sebab dan susah buar air besar. Anda tahu kenapa? Karena mesin pembuangan tingkat akhir itu semakin tahu akan fungsinya setelah menyelami makna setiap tulisan-tulisanku.
Ya, benar. Aku mau seluruh komponen dalam anggota tubuhku cerdas lewat tulisan-tulisanku. Semakin pintar menjalankan fungsinya. Semakin mapan memelihara sirkulasi tubuhku. Semakin taktis. Semakin dinamis. Semakin sempurna siklus itu, semakin hiduplah aku.
Dan, karena aku mau hidup, maka aku menulis.”


August 12th, 2008 at 5:32 pm
Kalimat terakhir itu kalimat yang ‘Sal banget’
Tulisannya panjang banget ya Sal.. (atau mungkin karena lita yang terbiasa bikin tulisan pendek?)
Sekedar koreksi, paragraf empat:
langkah kakinya mantab, pasti
Setelah di cek di kamus yang benar itu bukan mantab tapi mantap.
Paragraf sepuluh:
.. hanya meletakkan tak diatas meja
Mungkin yang dimaksud adalah .. hanya meletakkan tas di atas meja.. ya?
Ditunggu posting selanjutnya
August 13th, 2008 at 6:05 pm
Dear Salwangga,
tulisan yang fun, asyik dan berisi. Mencoba menerangkan bahwa teori seberapa banyaknya nggak ada gunanya tanpa praktek. Coba bahasakan yang lebih luwes dan sehari-hari, agar nggak ada kesan menggurui.
Kinoysan